Senin, 09 April 2018

YANG TERPILIH

YANG TERPILIH


 BAC2U -  YANG TERPILIH - Lulus sekolah menengah atas aku diterima di sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal di kotaku. Dimana menjadi awal perkenalan dengan seorang pemuda yang katanya tampan dan baik. Kenapa katanya? Karena aku seorang penyandang tunanetra. Yang hanya bisa menggambarkan sosok laki-laki itu melalui cerita teman-teman. Entahlah!

Dia seorang mahasiswa semester 5 dan juga seorang penyandang tunanetra. Sementara aku baru masuk semester 1. Sama-sama aktif di organisasi kemahasiswaan. Karena intens nya pertemuan dan perasaan senasib tanpa disadari membuat hubungan kami lumayan dekat. Jalan, diskusi bareng atau hanya sekedar makan dan mengobrol sudah menjadi hal biasa bagi kami.

Satu yang kurang aku suka adalah kegajeannya. Sepertinya menggangguku menjadi hobi baru baginya. Mengirim pesan singkat yang nyeleneh, hingga tak jarang membuatku kesal. Namun ia tak peduli, terus saja mengganggu hingga aku pun mengabaikan.

"Maaf, Mas. Aku gak bisa," tolakku tegas ketika akhirnya lelaki itu mengungkapkan rasa. Hal yang sama sekali tak terpikir olehku. Saat itu setahun setelah perkenalan kami.

"Kenapa?" Ia menjawab gusar.

"Karena aku tidak mencintaimu."

"Bukannya selama ini kita cukup dekat. Aku yakin kok kamu juga menyukai aku, hanya saja belum menyadari." Pemuda itu masih keukeh.

"Tidak Mas, kamu mungkin telah salah paham. Aku memang menyukaimu, tapi hanya sebatas teman, atau lebih tepatnya sebagai saudara."

"Tapi kita bukan saudara."

"Aku tau, tapi maaf aku benar-benar gak bisa."

Dengus kesal laki-laki itu terdengar nyata di telingaku. Mungkin ia marah atau bahkan akan membenciku setelah ini. Tapi itu lebih baik daripada aku harus berpura-pura yang pada akhirnya hanya akan menyakiti kami berdua.

"Maaf, Mas. Aku harus pergi, masih ada satu mata kuliah sore ini."

Tanpa menunggu jawabannya aku bangkit dan melangkah cepat meninggalkan kantin. Setahun berada di kampus ini cukup membuatku hafal seluk beluknya. Karena tergesa-gesa tak ayal kakiku menyenggol kaki kursi.

Hampir aja aku tersungkur, namun secepatnya bisa menguasai diri. Malu? Pasti! Karena ku yakin bukan hanya kami yang berada di tempat ini. Namun aku tak peduli. Yang aku ingin secepatnya enyah dari hadapannya.

Waktu berlalu cepat, hampir tiga bulan ini laki-laki bersuara bass itu benar-benar menghilang. Ternyata penolakanku tempo hari sangat menyinggung perasaannya.

Hingga suatu pagi ....

Teng! Sebuah notif pesan di Android mengusik tidurku.

'Assalamualaikum'. Aplikasi Damayanti langsung membacakannya ketika aku membuka pesan tersebut.

Deg!

Sedikit perasaan aneh menyelinap di kisi-kisi jantung ini. Antara percaya dan tidak. Kesambet apa dia hingga tiba-tiba kembali menghubungi?

Balas ..., tidak! Balas ..., tidak! Batin ini bergolak. Akhirnya kuputuskan untuk mengabaikan.

'Dosa lho gak jawab salam'.
 Satu pesan kembali menyapa. Dia memang selalu punya cara agar tidak diabaikan.

'Ya, ada apa?'

'Kok jawabnya gitu? Waalaikum salam dong!'

'Waalaikum salam'. Send. Meskipun rada ogah-ogahan. Gemes.

Dia kembali mengirim banyak pesan meski tak satupun yang mendapat jawaban lagi. Ternyata sikapku sama sekali tak mematahkan semangatnya, hingga pada akhirnya aku pun menyerah. Bukan karena aku mulai menyukainya. Hanya saja tidak tega, toh selama ini dia selalu bersikap baik. Dan kami pun kembali dekat. Sama saat awal perkenalan.

"Andini ..."

"Ya." Perasaanku tidak enak.

"Tawaranku yang waktu itu masih berlaku lho."

"Tapi, Mas ...,"

"Kenapa tidak dicoba dulu. Kata orang cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa. Aku mau kita masih punya alasan untuk bertemu setelah kelulusanku ini."

"Hanya karena itu?"

"Tentu saja tidak," jawabnya cepat. "Lebih dari itu, aku tidak bisa melupakanmu."

Sesaat aku hanya termangu, jujur rasa itu masih belum ada. Namun kenyamanan saat kami bersama membuatku sedikit bisa membuka hati. Mungkin memang ia pria terbaik yang Allah kirim untukku.

"Baiklah, Mas. Aku mau." Aku menunduk, menyembunyikan wajah yang sudah menghangat sampai ke telinga. Entahlah! Ini pengalaman pertamaku.

Lelaki itu menggenggam jemari tanganku erat.

"Terima kasih, aku janji akan menjadi yang terbaik untukmu," desisnya sumringah.

"Meski dengan segala keterbatasan ini, aku harap kita bisa saling mendukung," lanjutnya.

Ada perasaan lega, seperti satu beban yang terlepas. Semoga ini menjadi keputusan yang tepat.

Namun sayang, ternyata harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Setelah resmi berpacaran, bukannya kian dekat malah kian jauh. Terlebih kami sama-sama disibukkan dengan urusan masing-masing. Dia lagi fokus dengan S2 nya.
 Sementara aku disibukkan dengan ujian semester 3.

Hingga tiba-tiba ia mengajak tunangan saat hati ini mulai meragu.

"Kamu yakin, Mas."

"Yakinlah, kok kamu ngomong seperti itu?"

"Aku pikir kamu lupa kalau kita masih ada ikatan," sindirku.

"Maaf, aku gak bermaksud mengabaikanmu. Hanya saja kesibukan akhir-akhir ini menyita sebagian besar waktuku," sesalnya.

Aku tersenyum, sejujurnya sangat mengerti akan kesibukannya. Hanya saja kurangnya intensitas pertemuan ini membuat riak-riak rindu di dada ini membuncah. Dia benar, cinta datang karena terbiasa. Dan itu telah terbukti, aku jatuh cinta justru setelah kami memutuskan untuk menjalin kasih.

"Gimana, Din?" Suaranya memecah lamunanku.

"Apa ini gak terlalu cepat, Mas? Kita masih sama-sama mengandalkan orang tua."

"Aku akan cari kerja, yang penting kamu bersedia hidup sederhana bersamaku sambil kita terus ikhtiar."

"Kita tunangan aja dulu, Mas. Nanti baru kita tentukan kapan waktu yang tepat untuk menikah."

---------

"Nak Naufal serius?" Bapak menginterogasi laki-laki itu.

"Sangat, Pak." Ternyata ketegasan suara bapak sama sekali tidak membuat ia gentar. Dan itu membuat aku makin yakin padanya. Yakin akan kesungguhan rasa yang ia miliki.

Demikian halnya dengan kedua orangtuaku. Mereka menerima Naufal dengan keyakinan bahwa pria ini memang sosok yang tepat buat putri semata wayangnya.

Setelah resmi bertunangan kami kembali jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Naufal makin jarang menemuiku. Benarkah hanya karena kesibukan atau ada hal lain.

Keraguan kembali menyeruak, mungkinkah keputusan menerima pertunanganan ini bukanlah pilihan yang tepat?

Dan keraguan itu menguat ketika satu pesan pendek singgah di ponselku.

'Riska sayang, kamu lagi ngapain?' Sepertinya ia salah kirim.

Aku tergamam. Siapa Riska? Apakah wanita itu yang menjadi alasan jarangnya ia menemuiku akhir-akhir ini? Jadi kesibukan itu hanya sebuah alasan untuk tidak menemuiku? Jika benar demikian artinya firasatku benar.

Hancur. Hatiku remuk redam. Kenapa ini terjadi setelah aku benar-benar jatuh cinta padanya? Apa salahku hingga ia begitu tega?

"Din, kenapa Naufal akhir-akhir ini jarang main ke sini?' tanya ibu.

"Dia sibuk, Bu. Sebentar lagi mau wisuda pasca sarjana," sahutku menutupi.

Iya. Orangtuaku tak boleh tau apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun aku telah yakin Naufal punya wanita lain. Aku baru saja menyelidikinya.

Riska adalah teman SMA nya, mereka kembali bertemu saat mengambil S2 pada kampus yang sama. Hubungan yang dulu sempat terputus kembali terjalin.

Hatiku perih. Apakah kemampuan netra ini yang tak bisa berfungsi sempurna menjadi alasan baginya untuk berpaling? Atau sebenarnya mereka masih saling mencintai namun terpisah oleh waktu?

Kuakui gadis itu memang lebih dariku segala-galanya. Dia cantik, dan yang pasti bukan seorang tunanetra sepertiku.

Aku memasrahkan takdir pada yang Maha kuasa, jika kami memang berjodoh aku yakin ia akan kembali. Untuk itulah aku memastikan orang tuaku tidak akan mengetahui perselingkuhannya. Meskipun hal ini teramat menyakitkan.

Aku masih tetap menunggu saat ia akan datang dan meminta ma'af. Namun sepertinya harapan ini hanya asa yang harus aku kubur. Saat yang aku tunggu tak kunjung datang.

Menyerah. Mungkin ini jalan terbaik. Dengan langkah gamang aku menemuinya. Mengembalikan cincin tunangan yang telah beberapa bulan melekat di jari manisku.

"Aku mohon maaf Din, aku khilaf. Aku gak mau kita putus. Aku masih sangat mencintaimu." Lelaki itu memohon sambil bersimpuh di kakiku.

"Cinta?" Aku tertawa sumbang.

"Cinta seperti apa yang kau maksud? Selingkuh di belakangku? Apa karena aku buta, terus kamu berpikir takkan ketahuan? Ternyata Allah selalu punya cara untuk membongkar suatu pengkhianatan. Kamu sendiri yang salah mengirim pesan."

Aku meluapkan kemarahan yang memuncak. Selama ini aku berusaha untuk memendamnya, tapi kali ini aku kalah. Aku tetaplah manusia biasa yang juga merasakan sakit jika dikhianati.

"Aku mohon, Din. Jangan bicara seperti itu. Jangan pernah mengungkit apa yang telah Allah takdirkan untuk kita." Dia tergugu.

"Kau sendiri yang membuat aku terpaksa mengatakannya."

Tangis yang kutahan pun pecah sudah. Ini teramat menyakitkan. Bagaimana mungkin orang yang begitu aku percaya bisa setega ini?

"Maafkan aku, Andini. Maaf."

"Aku telah memaafkanmu. Tapi sepertinya pertunanganan ini mesti dikaji ulang. Mungkin aku bukan yang terbaik untukmu," sahutku mati-matian membendung perasaan ini.

Ternyata ini lebih memilukan dari apa yang kubayangkan.

"Aku tidak akan melepaskanmu," tegasnya.

Pemuda itu bangkit. Ia mencengkeram kedua pundakku kuat.

"Jadi kamu lebih memilih wanita ini ketimbang aku?"

Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan kami berdua.

"Riska?" Suara Naufal bergetar.

Aku mengibaskan kedua tangan hingga pegangan Naufal di bahuku terlepas. Namun secepat kilat ia menangkap pergelangan tanganku dan memegangnya erat.

"Biarkan aku pergi." Aku setengah memaksa.

"Tidak," tegasnya.

"Naufal." Nada suara wanita itu meninggi.

"Maaf Riska," sahut Naufal.

"Aku mencintai Andini dan kami telah bertunangan," lanjutnya.

"Ka-kau ...." Suara wanita itu tercekik di kerongkongan.

"Kamu memang pria yang bodoh. Aku benci kamu," makinya kasar. Dan berlalu meninggalkan kami.

Sesaat aku termangu. Bingung apa yang harus dilakukan. Namun pada saat akan melangkah, Naufal menarik tanganku hingga jatuh kepelukannya. Ia memeluk erat, tubuhnya terguncang menahan isak.

"Kau boleh marah padaku, maki aku tapi tolong jangan pernah ucapkan kata berpisah."

"Kau egois," sahutku mendorong tubuhnya kasar.

"Tidak, aku hanya khilaf."

Dadaku bergemuruh, antara emosi yang tidak tertahankan dengan rasa tidak tega yang perlahan menyusup. Merasakan guncangan tubuhnya saat memelukku membuat hati ini luluh. Aku masih sangat mencintainya.

"Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi hanya untuk kali ini, anggap saja sebagai kesempatan kedua." Akhirnya aku memutuskan.

"Terima kasih, Sayang."

Aku berlalu meninggalkannya yang masih terpaku di bangku taman belakang kampus. Sengaja membiarkan lelaki itu merenungi apa yang telah ia perbuat.

--------

Pesta pernikahanku berlangsung meriah. Karena aku satu-satunya anak perempuan di dalam keluarga besarku. Dan ini juga untuk pertama kalinya. Sayangnya kebahagiaan ini hanya dirasakan sepihak.

Aku tahu tak mudah bagi Naufal meyakinkan orang tuanya bahwa semua akan baik-baik saja setelah pernikahan kami. Orang tuanya menginginkan Naufal menikah setelah ia lulus S3. Namun Naufal merasa tidak enak hati dengan kedua orang tuaku. Ia sudah beberapa kali menunda rencana pernikahan, yang akhirnya mendapat izin dari orang tuanya. Walau dengan setengah hati.

"Kenapa sih kalian memaksa banget menikah sekarang? Kalau kamu telah lulus S3 tentu akan gampang mencari kerjaan yang cocok. Nah, sekarang gimana, kalian sama-sama pengangguran kan? Siapa yang akan naungin kalian?" ucap ibunya sarkastis.

"Kami akan pindah ke kontrakan, Bu. Dan kami akan berjuang sama-sama. Inshaa Allah ada jalannya," sahut Naufal tenang. Berusaha tidak terpancing emosi ibunya.

"Mas Naufal benar, Bu. Kami akan saling mendukung." Aku menimpali.

"Ini pasti gara-gara kamu. Kamu kan yang mendesak Naufal. Harusnya kamu tau, Naufal tumpuan keluarga, ibu ingin ia kuliah sampai S3. Tapi apa? Karenamu ia memilih tidak melanjutkan kuliahnya."

Aku kaget setengah mati, sama sekali tidak menyangka dia akan menyalahkanku dalam hal ini. Padahal Mas Naufal lah yang memohon-mohon untuk kami segera menikah. Alasannya ia tak mau lagi kehilanganku.

"Coba kalau dulu kamu sama Riska, kan tidak perlu terburu-buru seperti ini," lanjutnya.

Apa yang ibu katakan? Jadi ia juga mengetahui bahwa anaknya selingkuh? Dan ia malah mendukungnya?

Luka hatiku yang hampir sembuh kembali berdarah, dan ini jauh lebih menyakitkan daripada saat aku mendapati kenyataan bahwa aku diduakan. Aku terdiam memucat.

"Sudahlah, Bu. Riska itu hanya masa lalu. Masa sekarang dan masa depanku adalah Andini. Aku mohon mengertilah, Bu," getar suara Naufal.

"Terserah kalian!" Ibunya berlalu, kemudian terdengar pintu kamar yang dibanting.

Aku meringkuk dalam pelukan Naufal, takut. Sama sekali tidak menyangka jika diawal pernikahan saja sudah seperti ini.

"Maafkan ibu, Sayang. Ia hanya emosi, nanti juga baik kok," bujuk Mas Naufal menenangkan.

Aku hanya mengangguk, berharap semua akan segera membaik. Naufal menuntunku ke kamar kami, atau lebih tepatnya saling tuntun.

Sesuai janjinya, beberapa hari setelah pernikahan, kami pindah ke kontrakan kecil. Setidaknya lebih nyaman di sana, walau makan pun mungkin seadanya. Berhubung kami sama-sama pengangguran.

Berbekal sedikit tabungan yang kami punya, aku dan suami mulai merintis usaha kecil-kecilan. Namun bukannya untung malah buntung. Berbagai macam usaha kami coba, tetap tidak mendatangkan hasil.

"Mas, kenapa tidak mencoba kerja apa aja. Yang penting kan halal. Tabungan kita kian menipis lho, Mas," usulku pada suatu malam.

"Kerja apa?" sahutnya datar.

"Ya apa aja, Mas. Yang penting halal," sahutku lagi.

"Aku S2 lho, Dek. Kalau pun bekerja ya harus sesuai lah dengan ijazah aku," sahutnya.

Aku baru tahu ternyata ia mewarisi sifat congkak ibunya. Maaf, bukan aku bermaksud menghujat mertua sendiri. Tapi memang begitulah sifat beliau, selalu menilai seseorang dari harta dan kedudukan.

"Tapi Mas, dengan kondisi kita seperti ini amat sulit bersaing dengan mereka yang sempurna secara fisik, harusnya kamu menyadari itu," sahutku memberi pengertian.

"Pokoknya aku tidak mau, jika tak sesuai dengan keahlianku."

Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Mencoba bertahan dengan keadaan yang makin hari makin menyulitkan.

"Jangan-jangan jauhnya rezeki kita ini karena tidak mendapat restu dari orang tuaku," ujarnya sambil menyeruput secangkir teh hangat. Seolah menyalahkanku atas kondisi ini.

"Mas, mana ada rezeki datang sendiri tanpa kita usaha?"

"Emang selama ini kita tidak usaha, udah segala cara lho kita coba, yang ada apa? Makin habis kan?" sahutnya lagi.

"Jadi gimana, Mas?"

"Kamu mau kan minta maaf pada ayah dan ibuku?"

"Lho, kok aku Mas?"

"Lha, kan ibu marahnya sama kamu."

Aku menarik nafas, agar sesak ini sedikit berkurang. Terbayang kembali diingatan saat ibu mertuaku datang berkunjung.

Bukannya membantu, ia malah marah-marah melihat keadaan kami.

"Pernikahan kalian itu hanya membawa malapetaka, bukan hanya untuk kalian berdua tapi juga kami. Dulu saat Naufal masih kuliah, kami sama sekali tak pernah kekurangan. Makanya kami sanggup menguliahkannya hingga S2, bahkan S3 sekalipun kalau ia mau. Tapi sejak ia menikah, penghasilan kami pun menurun bahkan kekurangan," ujarnya kasar.

Aku hanya diam, tak ada gunanya melayani orang yang tengah emosi. Yang ada ia makin menjadi-jadi. Yang aku tidak mengerti apa sangkut pautnya rezeki dia dengan pernikahan kami.

"Coba kalau kamu dulu dengar kata ibu, tentu tidak akan seperti ini."

Astagfirullah! Kenapa ibu mertuaku begini? Dia seolah tak mempercayai adanya takdir.

"Bagaimana, Dek? Kamu gak keberatan kan?" Suara Mas Naufal mengangetkanku.

"Baiklah, jika itu demi kebaikan," sahutku.

Meski di hati sesungguhnya tidak rela. Aku harus meminta maaf untuk sebuah kesalahan yang sama sekali tidak kulakukan.

"Kalau gitu siang ini kita ke rumah ibu ya?"

Aku hanya mengangguk, pasrah. Berharap semuanya akan menjadi lebih baik. Dan kebencian yang ibu rasakan padaku sedikit berkurang atau bahkan menghilang sama sekali.

---------

Aku bersimpuh di karpet atas perintah ibu mertuaku. Di hadapanku mereka duduk di kursi. Sementara suamiku duduk di kursi sebelah ibunya. Dia sama sekali tidak menyadari jika istrinya bersimpuh di lantai.

Aku menahan isak agar suamiku tidak menyadari bahwa ibunya memperlakukanku layaknya seorang asisten rumah tangga.

"Maafkan kami ibu, terutama saya. Tolong restui kami, tak ada niat di hati untuk melukai ibu, kami hanya saling jatuh cinta. Dan jika itu salah, saya minta maaf. Tapi siapa yang bisa melawan takdir ini?" Aku terisak.

"Ibu tidak membenci kamu, tapi ibu kecewa sama kalian. Terutama kamu, andai saja kamu tidak memaksa, kan Naufal tidak perlu buru-buru menikahimu," sungutnya.

Aku hanya diam, menekan tangis ini agar tidak pecah. Berusaha menelan tuduhan mertuaku. Dan yang paling membuat kecewa adalah sikap suamiku. Dia bergeming, sama sekali tak berniat meluruskan.

Padahal semua juga tahu pernikahan ini dia yang menentukan. Bahkan orang tuaku tinggal mengikuti apa yang ia mau.

"Maaf, tadi aku terpaksa diam. Jika aku membelamu, masalahnya tidak akan selesai. Kamu tau ibu kan?"

Aku hanya mengangguk. Terlalu lelah untuk menanggapi. Mungkin ini memang takdir yang harus aku jalani.

Ditengah kebingungan aku menulis. Tepatnya menuangkan apa yang menjadi unek-unekku karena merasa tak ada tempat untuk berbagi keluh kesah. Ternyata tulisanku lumayan bagus. Keahlian yang sama sekali tak pernah kusadari.

Berbekal kemampuan ini aku melamar menjadi seorang penulis freelance. Diterima, meskipun tidak mendapat dukungan dari suami. Sikapnya yang idealis menganggap bahwa itu bukanlah pekerjaan yang cocok.
 Baginya prestis itu lebih penting agar kita tidak direndahkan.

Namun aku lebih realistis. Aku tetap melanjutkan pekerjaan sebagai penulis freelance yang lambat laun banyak mendatangkan order, menterjemahkan dari bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia.

Aku lelah, selama ini tak terhitung penolakan yang kami terima setiap kali memasukan lamaran pekerjaan hanya dengan alasan kami tunanetra. Jika menjadi penulis memang jalannya, kenapa tidak? Meskipun suamiku masih keukeh dengan pendapatnya. Tak jarang ia sendiri yang menolak order yang aku terima.

Ditengah perekonomian yang kian sulit. Dan ditambah lagi dengan sikap suami yang sok idealis, benar-benar menguji kesabaran. Tak ada yang dilakukannya selain hanya mengeluh dan mengeluh.

Beruntung aku bukanlah orang yang cepat berputus asa. Aku yakin Allah itu tidak pernah tidur. Apa yang tengah kualami kuanggap sebagai suatu ujian. Keyakinan ini membuatku semakin dekat dengan Sang Khalik. Menjadikan-Nya tempat berkeluh-kesah di setiap sepertiga malamku.

Selalu ada pelangi setelah hujan.

Mungkin karena kesabaran dan do'a yang tidak pernah putus, akhirnya aku dan suami diterima sebagai salah seorang tenaga pengajar di sebuah yayasan.

Sementara pekerjaan sebagai penulis freelance tetap kulakoni. Kehidupan perekonomian kami pun mulai menggeliat. Kian hari kian membaik. Aku berinisiatif membagi sedikit rezeki yang kami miliki pada orang tua dan mertuaku. Karena itu memang suatu kewajiban.

Bahkan adik iparku yang masih kuliah mendapat anggaran khusus dariku setiap bulannya.

Apa yang terjadi?

Tak ada lagi si pembawa sial. Apalagi pernikahan malapetaka. Bukankah sejatinya pernikahan itu adalah Sunnah. Mereka yang dulu, mencela, menghujat berbalik mendukung. Betapa uang memiliki pengaruh yang sangat besar. Miris memang!

Lalu dendamkah aku?

Tidak! Justru apa yang terjadi menempaku menjadi sosok yang kuat, mendekatkan pada Sang pencipta. Apa yang sekarang tengah kuimpikan adalah rezeki dalam bentuk lain. Yakni menanti kehadiran si buah hati dalam pernikahan kami. Semoga Allah melengkapi kebahagiaan ini.

Satu hal yang harus disadari bahwa Allah memberi cobaan tidak akan melebihi kemampuan umatnya. Tergantung dari bagaimana cara kita menyikapi.



AKU GAK MAU MELAHIRKAN

AKU GAK MAU ,ELAHIRKAN

BAC2U -

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

Selasa, 03 April 2018

Lelaki dari Venus

LELAKI DARI VENUS


 .
BACAKAN AKU CERITA - LELAKI DARI VENUS - Aku punya banyak sekali teman, tapi hanya ada satu yang seperti Nara. Ia agak berbeda, dan karena itu orang-orang suka membullynya.
 Nara punya jiwa perempuan yang terjebak dalam raga seorang lelaki. Mereka bilang Nara banci. Banci komplek.
 .
 "Aku sudah berusaha jadi anak laki-laki, tapi mereka tetap saja tak mau menerima," katanya sambil tersengguk-sengguk. Duduk di atas rumput dengan badan telanjang yang hanya berbalut kutang.
 .
 Mereka sungguh keterlaluan. Nara diikat di pohon kelapa menggunakan tali tambang, lalu bibirnya dicoreti lipstik merah seperti seorang wanita. Padahal Nara tak minta apa-apa, hanya ingin bergabung untuk bermain layangan saja. Aku geram jadinya.

.
 "Sudah, kau jangan menangis! Nanti biar kubalaskan dendammu, ya?" kataku memegang bahu Nara.
 .
 "Bagaimana caranya?"
 .
 "Gampang! Bukan hanya Ayahmu saja yang punya pistol di rumahnya. Aku juga punya. Nanti akan kutembak mereka satu-satu," cetusku bersemangat.
 .
 Nara mengernyit. "Pistol yang mana?"
 .
 "Pistol yang kita beli di toko mainan itu. Kau lupa?"
 .
 "Itu kan pistol air, Puput."
 .
 "Iya memang." Lalu aku tertawa.

.
 Nara hanya mendengus beberapa saat, tapi kemudian ikut tertawa juga. Setidaknya aku menjadi lega, bisa sedikit menghiburnya.
 .
 "Nara, dari mana mereka mendapatkan kutang itu? Bukan hasil mencuri dari jemuran orang, kan?" tanyaku sambil melirik was-was.
 .
 "Aku tidak tahu. Memang kenapa?"
 .
 "Cepat lepaskan!" pintaku tegas.
 .
 Nara melongo seperti orang bingung. "Kenapa?"
 .
 "Lepas, atau kita akan pingsan digebukin di sini! Lihat itu!" Aku menunjuk ke arah jalan dekat gardu listrik.
 .
 Seorang nenek setengah renta tengah mendekat dengan sapu lidi teracung-acung di udara. "Woii, kembalikan kutang Nenek, woii!"
 .
 Aku membantu Nara melepas kutang itu, lalu kami berlari secepat-cepatnya.
 .
 ***
 Esoknya, aku mendapati Nara berdiri sendirian di tepi lapangan. Memandangi puluhan anak laki-laki seusianya yang tengah asyik berebut bola.
 Ia ditolak bermain lagi. Aku mendengar ejekan mereka dari jarak agak jauh tadi.
 .
 "Banci komplek mau jadi keeper. Yang ada gawang kita kebobolan terus."
 .
 "Sudah, sana pergilah! Kau tidak cocok bermain bola. Lebih baik pulang, dan belajar dandan saja pada ibumu."
 .
 "Jangan! Kasihanilah dia sedikit, teman-teman. Aku bisa membantunya bicara pada Mbak Jum besok, siapa tahu dia mau membawa Nara untuk ikut jualan jamu."
 .
 Lalu mereka semua terbahak keras-keras. Seolah menikmati genangan air yang timbul di mata Nara. Tak cukup, kepalanya dilempar juga dengan bola, lantas diasingkan begitu saja.
 .
 Aku mendekat, dan menepuk bahu Nara. Menatapnya penuh simpati. "Sudah, jangan lihat mereka! Lebih baik kita pulang, kau bisa ikut bermain karet bersama di rumahku."
 .
 Nara menggeleng. Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak bisa lagi, Puput."
 .
 "Kenapa, Ayahmu marah? Atau dia memukulimu lagi seperti waktu itu?"
 .
 Aku mengingat kejadian miris yang sudah lalu. Ayah Nara datang dengan wajah garang saat mendapati putranya tengah bermain boneka bersama anak-anak perempuan di teras rumahku. Ia memang tidak marah-marah di tempat saat itu, hanya menyuruh Nara pulang dengan suara setenang pembunuh berdarah dingin di film-film.
 Lalu besoknya, di sekolah, kudapati tangan Nara sedikit lebam.
 .
 Bu Guru hanya bertanya sekadar, tanpa berani mengorek lebih dalam. Entah kenapa, semua orang tampak begitu segan dengan Ayah Nara yang berseragam dinas loreng-loreng hijau itu. Tak pernah ada yang mau ikut campur.

.
 "Benar, Ayahmu memukulmu lagi?" tanyaku mengulang dengan nada lebih menekan.
 .
 Nara merunduk, lalu bicara takut-takut, "Kemarin Nenek itu datang ke rumah. Dia mengadu pada Ibu kalau kutangnya telah aku curi, dan Ayah mendengarnya. Setelah itu ...."
 .
 "Setelah itu, kau dipukul lagi!” simpulku.
 .
 "Ayah tidak marah karena itu. Dia tahu aku tak mungkin melakukannya."

.
 "Lalu kenapa?"
 .
 Nara menghela napas. Lantas menatap nanar pada mereka yang tengah bersorak gembira di tengah lapangan karena baru berhasil menciptakan gol. "Ayah marah karena aku tak melawan mereka kemarin. Sebagai anak laki-laki, dia bilang seharusnya aku balik menghajar mereka, seharusnya aku jadi pemberani. Bukan diam, dan menangis seperti anak perempuan."
 .
 Aku tertegun sesaat, lalu merangkul pundak Nara. "Kau tidak seperti anak perempuan. Kau hanya makhluk Venus yang sempat tersesat di Mars, kemudian tinggal di Bumi," kataku ngawur, mencoba menghibur.
 Tapi sepertinya tak berhasil. Nara sama sekali tak tersenyum.
 .
 "Nara --"

.
 "Aww ...." Nara meringis saat punggungnya tak sengaja kusentuh.
 .
 Aku terhenyak, tapi hanya memilih diam, dan menatapnya saja. Tanpa perlu bertanya, sebenarnya aku sudah tahu apa yang ada di balik kaos kuning Nara.

.
 "Aku tidak papa," katanya gugup, lantas buru-buru melarikan bola matanya ke arah lain seraya menarik tanganku menjauh dari sana. "Ayo, kita pulang! Mataharinya terik sekali. Aku khawatir nanti kulitmu jadi gosong seperti mereka." Kemudian ia tertawa. Tawa dibuat-buat.
 Aku hanya mengikuti saja.

***
 Berminggu-minggu setelah itu, aku tak pernah lagi melihat Nara keluar rumah kecuali untuk sekolah.
 Di kelas pun, ia jadi lebih banyak diam, dan menjawab seperlunya saat aku tanya ada apa.
 .
 "Nara, aku membawa sosis panggang. Ibuku yang membuatnya tadi pagi. Ayo, kita bagi untuk berdua!" seruku saat memergoki Nara hanya duduk mengasingkan diri bersama bolpoin dan sehelai kertas penuh coretan di pojok kelas.
 .
 Ia hanya diam, dan menatap saja, meski kotak makan itu sudah kusodorkan padanya.
 .
 "Apa kau baik-baik saja?" tanyaku, sungguhan khawatir.
 .
 Nara mengangguk, tampak memaksakan sedikit senyum. "Aku tidak papa. Kau makan saja. Aku tidak lapar."
 .
 "Padahal biasanya kau lah yang selalu bersemangat menyeretku ke kantin saat istirahat. Kenapa sekarang kau berubah? Apa aku punya salah?"
 .
 Nara menggeleng lesu. "Kau tidak salah, Put. Aku sedang berusaha menempatkan diri saja."
 .
 Aku hanya menatap Nara nanar. Tak tahu harus menjawab apa lagi. Sampai kemudian teman-teman perempuan datang, dan mengajakku untuk mencari buku tugas di perpustakaan.
 .
 "Pergilah!" begitu yang Nara katakan.
 .
 Dan aku pun meninggalkannya, tanpa tahu, bahwa itu hari terakhir ia menginjakkan kaki di sekolah.
 .
 ***
 Nara dan ibunya pergi, menghilang seperti ditelan Bumi. Sehari sebelumnya ia sempat menemuiku ke rumah.
 Kami duduk bersisian di bawah pohon jambu air seraya menyantap jus buah naga yang ibuku buat. Kemudian saling menatap.
 .
 "Kenapa kemarin tidak sekolah?" tanyaku membuka suara.
 .
 "Ibuku sakit, aku harus menjaganya," Nara menjawab sambil lalu. Melempar-lempar kerikil kecil di depan kami.
 .
 Aku mengangguk-angguk saja. "Sekarang sudah sembuh?"
 .
 Nara tak menjawab lagi. Membiarkan hening menguasai sesaat.
 .
 "Nara --"
 .
 "Puput, boleh aku minta sesuatu?" tanyanya menyambar tiba-tiba.
 .
 "Apa?" kataku.
 .
 Ia mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang dibawanya sejak tadi. Boneka Chika Chiki. Mereka adalah sepasang barbie laki-laki dan perempuan yang kami nikahkan lebih dari satu tahun yang lalu.
 .
 Aku menatap Nara tak mengerti.
 .
 "Aku sudah menjaga mereka selama ini. Sekarang giliranmu, ya?" pintanya, tampak sungguh-sungguh.
 .
 "Kenapa? Bukankah kau bilang, setelah menikah, Chika akan ikut dengan suaminya ke rumahmu?"
 .
 Nara tersenyum. "Kau benar, tapi ayahku sudah menemukan tempat persembunyian mereka sekarang. Kau tahu, di antara sekian banyak bonekaku, hanya mereka yang tersisa. Kau harus menjaganya, atau Ayah akan membakar mereka seperti yang lain."
 .
 Aku mengusap Chika dan Chiki yang Nara letakkan di pangkuanku penuh sayang. Lantas membenahi baju pengantin Chika yang robek di ujungnya. Nara sendiri yang menjahitnya dulu, terbuat dari kain tulle bermodel ball gown. Sekarang bahkan mereka tampak menyedihkan.
 .
 "Chika jadi bahan rebutan aku dan Ayah kemarin, tapi aku berhasil mempertahankannya. Hanya sedikit sobek. Maaf, ya?"
 .
 Aku menggeleng, dan menyungging senyum. "Tak apa, aku bisa belajar menjahitnya lagi nanti." Lalu menatap Nara sungguh-sungguh. "Nara, apa Ayahmu memukulmu lagi kemarin?"
 .
 Ia merunduk, dan diam beberapa saat. Menggenggam kerikil di tangannya kuat-kuat.
 .
 "Dia memukulmu, ya?" tanyaku sekali lagi.

.
 "Ayah hanya kecewa, Put," jawabnya seraya mengangkat kepala. Membalas tatapanku. "Dia memberiku nama Narayana agar aku bisa menjadi tangguh seperti pasukan Narayan dalam perang besar Bharatayudha. Bukan malah lemah seperti perempuan."
 .
 Aku diam. Ia sudah sering mengatakan itu.
 .
 Nara melanjutkan, "Aku tidak marah kalau Ayah kecewa, tapi aku marah jika dia memukul Ibu juga."
 .
 "Apa Ibumu dipukul?" tanyaku dengan mata melebar. Mengubah posisi duduk menjadi nyaris berhadapan.
 .
 Nara hanya tersenyum getir, tak menjawab lagi. Meski aku memaksanya, ia tetap saja bungkam.
 .
 "Jagalah dirimu baik-baik, Put. Terima kasih sudah mau jadi temanku!"
 .
 "Kau mau ke mana? Apa kau mau pergi?" tanyaku khawatir.
 .
 Nara malah terkekeh. "Bukannya kau bilang, aku itu makhluk Venus? Aku akan kembali ke Venus, Put. Tempat di mana aku bisa diterima."
 .
 "Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.
 .
 "Masuklah, aku akan pergi. Keburu Ayah pulang."

 .
 Lalu ia mengantarku sampai ke pintu. Memberi senyum terakhir, juga air yang menyembul sedikit di sudut matanya.
 .
 Dan sejak hari itu, aku tak pernah bertemu Nara lagi.
 .
 ***
 Delapan belas tahun kemudian
 .
 Aku mendapat undangan misterius. Sebuah acara peragaan busana bridal yang digelar di salah satu ballroom hotel mewah ibu kota.
 Andai bukan nama Nara yang tertulis sebagai pengundang, mungkin aku tak akan pernah datang.
 .
 Aku mengenakan dress merah muda dengan heels tak terlalu tinggi. Berdiri bersama beberapa panitia yang sedari tadi sibuk menawarkan minuman dan makanan. Mereka bilang, aku tak akan bisa makan jika sudah masuk ke dalam.
 .
 "Aku sedang menunggu Nara," kataku dengan mata terus berkeliaran. Berharap bisa segera menangkap sosoknya. Ia sudah berjanji untuk menjemputku melalui nomor handphone yang diberikan bersama undangan tempo hari.
 .
 "Dia masih sibuk mengarahkan para model, Mbak," sahut salah satu dari mereka.
 .
 "Tak apa, aku akan menunggunya." Lalu aku berjalan mendekati sebuah meja yang tak seberapa jauh. Duduk tumpang kaki sambil mengamati hilir mudik para tamu.
 .
 Nara sudah sukses sekarang. Menjadi seorang desainer hebat seperti yang ia impikan waktu kecil. Dari cerita singkatnya di Whatsapp, ia sempat tinggal di Thailand dan bertemu orang-orang baik. Dia juga berjanji akan mengenalkan mereka padaku.
 .
 "Mbak," seseorang menyambar bahuku. Panitia wanita. "Itu, Mbak Nara sudah datang!”
.
Saat aku mengikuti ke mana telunjuknya mengarah, bukan Nara yang aku lihat. Melainkan seorang wanita dengan mini dress merah menyala sedang melenggang anggun di atas stiletto berwarna senada. Ia tersenyum dari jauh.
 Wanita-wanita berjenis sama mengikutinya centil di belakang.
 .
 Aku menahan diri agar tak pingsan. Menyimpulkan suatu pelajaran besar, bahwa melalui panas api, sebuah pedang bisa menjadi tajam, sekaligus melukai orang. Hinaan dan bullyan mungkin membuat sebagian orang tangguh seperti Nara, tapi resikonya jauh membahayakan.

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

Popular Post

Laman