IZINKAN KU MENIKAH PART1
“Ijinkan, aku menikah lagi” kali ini pintaku memelas.
Kesekian kalinya, ku ajukan permintaan ke suami, dia hanya bisa menghela nafas.
“Tidak” jawabnya pelan, seolah ada rasa keputusasaan pada raut wajahnya.
“tolonglah mas, ijinkan aku menikah. Aku lakukan semua ini demi kebaikan kau sendiri. Kelak kau terbebas dari hisabNYA, dan tak harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanku” bujukku lagi.
“Aku hanya ingin membangun rumah di surga kelak bersama suami yang menenangkanku di sana” jelas ku lagi.
“Kau pikir aku tak bisa?!” suaranya meninggi.
“Aku percaya kau bisa, mas. Aku yakin kau bisa. Namun, kau belum membuktikannya sampai hari ini juga. Waktu yang ku berikan sudah habis. Kepercayaanku terkikis” isakku pelan. Air hangat mulai mengalir di ujung mataku.
“15 tahun ku coba menemanimu dalam susah maupun senang. Tak pernah ku menuntut kemewahan karena yang ku pinta kau menjadi imam. Bimbinglah aku dalam keislaman atau dampingilah aku dalam mengaji Al Quran.
“Atau cobalah tunaikan shalat tepat waktu saat dikumandangkan adzan, dan lebih baik lagi berjamaah di masjid”
Tak terasa air mata bertambah deras.
“Aku belum bisa, maaf de” tegasnya lagi.
“kalau begitu, relakan aku. Aku mencoba mencari imam baru” tegasku.
“Keputusan ku sudah bulat tak ada lagi yang bisa mengalangiku lagi!!” bentakku seraya pergi meninggalkannya.
“Stopppp!!”
Langkahku terhenti, karena teriakan suamiku Ryan.
“De, tunggu!! Ade, tunggu!! Sebentar, ada yang akan ku sampaikan.”
Ku lhat nafasnya agak tersengal karena mengejarku dan ku berdiam diri sampai dia menjejeriku.
“Ade, ingatkah bahwa seorang istri tidak bisa pergi jika sang suami tidak menginjinkan.”
“Suami? Suami yang mana?” sanggahku
“Ade, aku ini masih suamimu! Aku masih punya hak atas kamu” bentaknya.
“Oya??!!” tanyaku seolah-olah bodoh. “lantas siapa yang mengucapakan talak kepadaku sebulan yang lalu?! Siapa?!” bentakku.
‘Apakah kau lupa mas? Tepat di bulan Ramadhan kemarin kau telah mentalakku.”
Malam di saat yang lain sibuk dengan shalat tarawih, kau malah asyik dengan fitnes atau sekedar nongki dengan teman-temanmu. Di saat yang lain sibuk berlomba-lomba menunaikan amalan-amalan demi meraih kemenangan, kau tetap sibuk dalam kesenanganmu. Kau makan minum layaknya bulan biasa, kau beraktivitas seperti bukan di bulanNYA. Makan siang sesuka hati, merokok tak pernah berhenti, bahkan masjid tak kau singgahi” cecarku satu persatu.
“Aku pun harus terburu-buru menemuimu karena isi pesan yang begitu kasar. Tarawihku tak kusyu karna terus saja teringat isi WA mu” nada suaraku tak beraturan berpacu dengan nafas yang memburu.
Aku sudah tak peduli lagi rasa hormat ataupun menghargainya.
“Tapi de, ucapan talak itu tak berarti, tak ada saksi. Bukankah engkau pula sebagai penyebab kata-kata talakku” bantahnya.
“Jika bukan kau penyebab amarahku, tak mungkin aku akan melontarkannya kepadamu. Kau sendiri penyebab dari semua kekacauan ini” sanggahnya.
“Apa??!! Enak saja. Memangnya apa yang aku ucapkan, apa yang ku lakukan??
Apa aku selingkuh?? Apa aku menuntutmu dalam hidup kesenangan, apa aku selalu membantah setiap perintahmu?” tegasku.
“Tidak” jawabnya singkat.
“lantas….??!!” Aku memburunya dengan pertanyaan.
Namun yang ku dapati dia hanya diam, aku pun diam. Untuk sementara kami terdiam.
Dalam diam, ku lirik arloji yang melingkar pergelangan tanganku 15.13 sebentar lagi waktunya adzan ashar.
Tak berapa lama terdengar adzan begitu jelas, ku hela nafas panjang dan ku resapi benar lantunan seruanNYA.
“Sudah adzan, yukss shalat ashar dulu mas. Kita minta jalan keluarNYA, insya Allah kita diberi petunjuk” ajakku dengan halus. Ku coba tepiskan ego dan amarahku.
“Malas… harusnya kau yang meminta petunjukNYA, agar tahu adab istri kepada suami” bentaknya.
Aku diam, bukankah ini bukan pertama kalinya dia menolak ajakan shalat. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi. Ku ambil air wudhu, dan ku basuh semua seluruh wajah dan bagian tubuh agar lebih bersih pikiran dan hati.
Ku selesaikan empat rakaat asharku dengan kusyu dan ku resapi benar setiap bacaan shalatku sampai seruan Allah akbar. Selesai shalat, ku bermunajat kepadaNYA. Ku lafalkan Istiqfar sebanyak-banyaknya dan menangis dalam rengkuhan sujudNYA.
Slide masa lalu terpampang satu-persatu, ibarat ku menonton film dengan aktornya adalah aku sendiri.
===”””===
Part-2 Slide
“Aku jatuhi kau talak, Andia Ranty” teriak suamiku Ryan.
Aku terdiam dan kusunggingkan senyum sinis. Dari bibirku terlontar kata “Alhamdulillah.”
Suamiku tepatnya mantan suami terkejut melihat ekspresiku, “Apa yang kau ucapkan?”
‘Kenapa? Kau kaget dengan balasanku mas? Kau berharap aku akan terkejut, marah atau meratapi ucapan talakmu seperti saat kau menjatuhi talak 1, 10 tahun yang lalu?
Kau berharap aku akan mengemis belas kasihan hanya demi keutuhan rumah tangga kita? Tidak mas, aku sudah lelah dengan sandiwaramu, dengan ucapan talak dan rujuk. Bahkan kau mengulanginya saat ini.
Kau sendiri berjanji akan mengubah sikap dan emosi, namun tanpa bukti dan mengulangi berkali-kali” tersirat keputusasaan di ucapanku.
“Ingat, ini talak ke-2 mu mas, kau tak bisa mengingkarinya. Allah Maha melihat semuanya, dan di bulan Ramadhan ini malaikat turut menyaksikan. Akan ku ingat baik-baik mas, tepat sepekan sebelum hari lebaran kau menjatuhi talak ke-2 mu” isakku.
Dadaku sesak mengingatnya lagi.
***
“Braggg” suara meja dibanting keras menggema.
Aku terkejut dan segera bangkit menuju ruang tamu. Ku saksikan sendiri meja hancur tak berbentuk. Ini bukan kali pertama barang-barang di rumah kami menjadi sasaran amarahnya. Penyebabnya sepele, perbedaan pendapat sebagai suami istri, perbedaan pendapat dengan atasannya atau bahkan dengan keluarga besarnya. Tak heran jika kami pun tak memiliki isi perabotan rumah, karena harus berhadapan dengan tangan kasarnya.
Seperti saat ini, dia menginginkan sebuah handphone terbaru yang bermerk *P** dengan alasan perusahaanya mewajibkan memakai merk tersebut. Tentu saja aku melarangnya, dengan alasan dia sudah membeli produk yang sama empat bulan yang lalu, bahkan belum selesai angsuran dalam setahun ini. Selain itu dia juga beralasan akan memberikan hp milknya ke aku yang pecah bagian layarnya karena dibantingnya seminggu yang lalu. Aku menolaknya dengan halus, karena tak menginginkan barang baru selama masih bisa dipakai.
Gaya hidupnya yang selalu mengikuti trend baru, terkadang membuatku hanya tersenyum di hati. Dari jaket yang anti air, anti panas bahkan anti peluru wkwkkkw. Belum lagi celana panjang bila robek dikit di bagian samping langsung minta ganti, apalagi kalo jahitannya tidak rapi, alamakkkkk harus cepet-cepet ke vermak jeans untuk diperbaiki. Prinsip hidupnya Perfomance adalah yang utama, seseorang dilihat pertama kali dari penampilan nya.
***
“Dimana?” suara seberang telepon.
“Masih di rumah siswa” jawabku
“Jam berapa ini? Bukankah sudah 21.00, tadi pesanmu mengatakan pulang 20.30?” runtunnya.
“Iya, kebetulan siswa ada ulangan besok, jadi ada tambahan waktu karena belum jelas juga.”
“Ya sudah, cepat pulang, aku lapar”
“Aku sudah menyiapkan makanan di meja, ada ikan pindang pedas dan sayur budin kesukaan mas”
“Malas kalau makan sendiri, tidak enak” alasannya lagi.
“Baiklah ini sudah siap-siap pulang, 10 menit sampai rumah” jawabku halus.
Begitulah keseharianku, pagi mengajar di TK, siang mengerjakan tugas rumah tangga, sore sampai malam mencari tambahan les privat ke rumah siswa. Semua ku jalani dengan ikhlas dan seijin suami. Karena penghasilannya sendiri sebagai debt collect di leasing habis untuk angsuran sepeda motor, handphone, isi pulsa, bensin dan rokok. Jika ada sisa aku masih diberi jatah, jika tidak yaaaa sudah biasa amssyonggg.
Urusan tagihan listrik, isi dapur, isi kamar mandi sudah menjadi bagianku. Karenanya, tak pernah ku memikirkan baju baru apalagi lipstick baru. Boroo..borooo bro. Bersyukur kami tidak dibebani angsuran rumah, karena masih ada kontrakkan orang tua yang ditempati.
***
Seorang debt collector datang ke rumah dan menagih. Dengan heran ku bertanya, dari bank mana atau leasing mana bisa jadi dia adalah teman suamiku. Teryata bukan, tapi dari bank B** berusaha menagih angsuran credict card atas nama suami.
“Asstaqfirullah hal aadziim” seruku.
Bukankah sudah ku berikan uang sebesar Rp. 925 000,- dua bulan lalu. Aku masih ingat betul, memberi uang tersebut untuk melunasi credit card yang sempat macet. Lantas dikemanakan uang tersebut oleh suamiku?
===”””===
Part-3 Baper
Selama masa iddah kami harus berpisah rumah. Aku menempati kontrakan orang tua seorang diri, sementara suami … aku tak peduli. Tak pernah ku bertanya keberadaanya apalagi menghubungi. Sesekali dia mengirim pesan atau WA namun jarang kubalas, sekedar ku baca saja. Jika sudah seperti itu, dia buru-buru v-call untuk mengecek lokasiku.
Menjalani masa iddah merupakan masa terindah dalam hidupku. Aku benar-benar menikmati masa-masa tersebut layaknya burung yang terbebas dari cengkeraman manusia. Aku bisa tidur pulas tak ada yang mengusik di tengah malam, bebas tugas dari pekerjaan rumah tangga, bebas berpergian selepas pulang kerja bahkan bebas berkumpul dengan teman-teman sebaya.
Masa-masa remajaku seolah kembali selepas bertemu dengan beberapa alumni di reuni ke-dua. Terlebih lagi saat melihat sosoknya yang terkadang hadir di bawah alam sadarku ....... Berdesir hati ini saat berjabat tangan dan menikmati senyum tipisnya kembali.
“Hai, apa kabar?” sapanya. “Wah, bertemu juga akhirnya. Saya kira kamu tak datang?” runtunnya.
Aku hanya tersenyum simpul dan menjawab “Iya, baik…kamu juga kan?”
Semenjak itu, undangan alumni datang silih berganti, entah sekedar ngopi, nongki atau menghadiri resepsi. Yang terpenting bisa berkumpul dan tertawa riang menghilangkan kejenuhan.
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon