BERSEKUTU DENGAN JIN
Sore itu, salah satu warga mencoba menguping pembicaraan Faiban di sudut Masjid, dia mengendap dan beri'tikaf untuk mengintip dari balik jendela.
"Kita sudah lama saling kenal, tapi aku belum tahu namamu, Jin." terdengar Faiban tengah berbicara dengan seorang Jin.
"Kau telah mengenalku sebagai Jin, itu udah cukup."
"Itu tidak adil. Dalam pergaulan manusia, nama adalah identitas, dan tidak mungkin berteman tanpa mengetahui identitasnya, walaupun hanya sebuah nama." Faiban masih terlihat berbicara sendiri. Seorang yang tengah mengintipnya semakin terheran-heran.
"Namaku Tamusin."
"Tamusin, baiklah kalo begitu kita sholat dulu. Silakan kau yang jadi imam." Faiban perlahan beranjak lalu melantunkan Iqomah.
"Tidak Faiban, seperti biasa, kau yang jadi imam."
"Kau Jin yang sangat alim, ilmuku masih jauh di bawahmu. Walaupun kau selalu berdalih bahwa manusia lebih mulia, tapi aku mengukur kemuliaan dari segi ketakwaan dan keilmuannya. Mulai sekarang, kita gantian sebagai imam sholat." Faiban dengan senyum, mempersilakan Tamusin untuk menjadi imam sholat.
"Baiklah, karena ini sholat Dhuha dan tergolong sunnah, aku bersedia."
Keduanya pun dengan khusu' menjalankan sholat Dhuha berjama'ah. Sedangkan seseorang yang sedari tadi mengintip hanya bisa tercengang.
***
Malam itu di Pos Ronda, Daka sedang asik bergunjing dengan tema Musyrik. Daka yang sejatinya adalah teman Faiban telah memutar balikkan fakta yang ia lihat tadi pagi di Sudut Masjid.
"Kalian tahu si Faiban? Tadi aku mengintip dia sedang mengobrol sendiri di Masjid, ternyata dia telah Musyrik, dia berteman dengan Jin." sontak semua yang mendengar cerita Daya menjadi terpancing dan menjadikan kabar itu sebagai topik utama.
"Ooh, jadi selama ini dia bersekutu dengan Jin? Pantesan aja dia suka bicara sendiri, rupanya itu sebabnya. Kasihan dia, kita harus mengingatkannya dan menuntunnya kembali ke jalan yang benar." sahut salah seorang di sana.
Malam itu mereka habiskan untuk membahas perihal Faiban dan kemusyrikannya. Tanpa mereka sadari, Tamusin berada di antara mereka dan mendengarkan semua pembicaraan di sana.
***
"Faiban."
"Iya, ada apa?"
"Apakah menurutmu pertemanan kita ini adalah sebuah kemusyrikan?"
"Kenapa kau menanyakan hal bodoh seperti itu, teman? Kau sangat alim dalam agama, apakah aku harus memberi garam ke dalam lautan?" raut muka Faiban seketika cemberut, ada hal ya membuatnya merasa tidak nyaman.
"Aku memang bisa menjawab semuanya, dan mungkin jawaban kita bisa berbeda. Tapi aku ingin mendengar langsung darimu." Tamusin terlihat lebih tenang dengan sikap temannya itu.
Malam seperti terbangun bisu, hanya siul angin ya tak begitu merdu, menghembus teras rumah, segelas kopi, dan bulu-bulu. Faiban menarik nafas cukup dalam.
"Teman, kita tahu bahwa Syirik adalah bersekutu. Persekutuan di sini adalah dalam bentuk penyembahan kepada selain Alloh, baik dengan Syetan ataupun manusia. Seandainya ada saya minta tolong kepada manusia dengan syarat menyembah kepada selainNya, maka itu termasuk Musyrik. Sebaliknya, jika aku meminta tolong kepadamu untuk mengambilkan aku sebuah gelas di ujung jalan, lalu kau menolongku sebagai teman, maka hal itu tidaklah syirik. Begitulah jawabanku." lalu Faiban menatap ruang kosong.
"Baiklah, jawaban kita ternyata sama. Aku pun tidak menjadi Musyrik jika aku meminta pertolonganmu Faiban." sambung Tamusin. Lalu Diapun menceritakan perihal perbincangan orang-orang di Pos Ronda, tentang dirinya.
Srek-srek!!
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, kemudian berlari secepat mungkin menjauh dari Faiban dan sepi.
"Perlu aku kejar dan kulihat siapa yang mengintip kita barusan?" Tamusin berusaha menawarkan bantuan kepada temannya.
"Tidak perlu, biarkan saja." Faiban menolak dengan nada rendah.
"Dan tidak diciptakan Jin dan Manusia kecuali hendaknya mereka mengabdikan diri dengan ibadah. Manusia dan Jin yang terus menantang Tuhan adalah setan. Namun kita diperbolehkan melakukan hubungan sosial dengan mereka, sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan Tuhan." sahut Tamusin.
"Baiklah, sudah waktunya kita sholat Tahajjud." keduanya pun beranjak, dan menghabiskan sedikit waktunya untuk bercumbu, melantun munajat-munajat yang akan menjadi anak-anak ijabah.
***
Malam selanjutnya...
Masih di Pos Ronda.
"Sebaiknya langsung kita usir aja itu si Faiban, biar kampung kita ini aman dari segala jenis mistik. Faiban emang temanku, aku peduli padanya, tapi aku lebih peduli dengan kampungku ini." jelas Daka dengan lembut, dan mata yang berapi-api.
"Kasihan Faiban, Daka. Kita ingatkan aja dulu." sanggah seorang diantara mereka. Sudah banyak yang tahu bahwa sebenernya hubungan Faiban dan Daka mulai renggang sebagai teman sebab masalah wanita.
"Baiklah, tapi kalian sepakatkan, kalo si Faiban itu adalah seorang Musyrik yang jelas-jelas bersekutu dengan setan?" Daka kembali menggiring opini warga untuk meyakini bahwa si Faiban adalah Musyrik. Dengan begitu nama Faiban menjadi buruk. Selanjutnya, tujuan dia untuk mendapatkan hati Nia dan keluarganya menjadi lebih mudah.
"Iya, iya, kita sepakat kalo Faiban itu Musyrik, bahkan sedikit gila." sahut yang lain.
"Siapa bilang Faiban Musyrik?" sebuah suara yang tidak asing menyumpal beberapa mulut di sekitar Pos Ronda.
Daka yang paling terkejut. Entah kapan datangnya, tiba-tiba Pak Hadi, ayah Nia sudah berada di dekat mereka.
Daka dan yang lainnya terdiam.
"Bisa tolong ambilkan aku senter di dalam Pos?" Pak Hadi memberikan isyarat kepada Daka. Dengan senyum kegirangan, Daka segera mengambilkan senter.
"Nah, seperti ini. Apakah aku telah Musyrik sebab aku meminta tolong padamu?" tanya Pak Hadi kepada Daka, setelah senter itu berada di tangannya.
"Tidak Pak, itu bukan Syirik." jawab Daka, datar.
"Apakah manusia dan jin mendapatkan perintah yang sama dari Tuhan?" lanjut pak Hadi.
"Iya, Pak. Betul."
"itu berarti, Faiban bukanlah Musyrik karena dia berteman dengan Jin. Kemarin malam aku mengintip dan menguping perbincangan Faiban. Aku bisa menangkap dan memahami kalo dia tidak Syirik. Dia hanya berteman, tidak Musyrik." semua menganggukkan kepala mendengar penjelasan pak Hadi, termasuk Daka.
"Jin teman Faiban itu tahu tentang perbincangan kalian kemarin malam, dia menceritakan semua kepada Faiban, tapi Faiban memaafkan kalian semua." lanjut pak Hadi.
"Satu lagi, putriku menyukai Faiban. Awalnya aku tidak setuju karena dia suka berbicara sendiri seperti orang gila. Tapi, setelah aku mengetahui yang sebenarnya, aku menyukainya. InsyaAllah dia adalah imam yang baik buat putriku" Pak Hadi terus menuntaskan uneg-unegnya, terutama pada Daka.
"Baiklah, silakan melanjutkan Ronda, saya akan berkeliling kampung dulu. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam."
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon