Foto
“Mas, saya nggak suka foto profilnya kau ganti yang itu,” kata Ramini sore itu saat mereka duduk di teras.
“Halah gitu aja kok dibikin masalah, to? Gonta-ganti foto profil itu kan biasa, kenapa mesti kau ributin?” Wondo hanya melirik istrinya. Matanya tak lepas dari gawai yang di tangannya. Wondo kembali mengganti foto profilnya dengan wajah seorang atlet, menampakkan otot-ototnya yang kekar.
“Ya sudah kalau Mas Wondo nggak mau dengar,” kata Ramini sambil pergi sesaat setelah melihat foto profil suaminya.
Gawainya ia letakkan begitu saja dekat suaminya. Perempuan bertubuh sedang dengan muka bulat itu kemudian menyelinap masuk. Wondo berharap, ia akan segera kembali, kemudian duduk dengan wajah cerah di depannya sambil menghidangkan kopi bersama camilan kesukaannya. Seperti biasanya di setiap sore mereka lakukan sambil beristirahat setelah seharian penat bekerja.
Tapi hingga senja turun, perempuan itu ternyata tidak muncul.
Lalu malam itu menjadi malam yang menggulatkan pertanyaan di benak Wondo.
Saat mereka biasanya menghabiskan malam bersama, namun perempuan itu memilih duduk di sudut ranjang dengan lutut terlipat, seolah takut mereka saling menyentuh. Hingga tengah malam, saat seharusnya mereka tidur, Ramini masih duduk dengan posisi yang belum berubah sejak Wondo memasuki kamar.
“Kau masih di situ, Min? Selarut ini belum tidur?” tanya Wondo di antara kantuk yang masih manja bergayut.
Tak ada jawaban. Wondo pun tak membutuhkan jawaban, karena ia kembali terlelap.
“Kau semalam tidak tidur, Min?” tanya Wondo pagi itu saat menemukan mata perempuan itu kemerahan dan kantung matanya sedikit mengembung karena kurang istirahat.
Ramini hanya mengangguk pelan. Tangannya segera menyiapkan tas, sepatu dan kaos kaki untuk suaminya.
“Hari ini aku pulang agak sore, kamu jangan lupa makan siang, ya?” katanya sambil meraih kepala istrinya. Namun perempuan itu kembali hanya diam. Tak ada respon hangat seperti biasanya.
“Kau baik-baik saja, kan Min? Atau sakit, ya?” Mata Wondo memicing, seolah dengan itu ia bisa melihat lebih jelas isi pikiran Ramini.
Ramini hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Nggak papa, Mas. Aku sehat, kok,” jawabnya seolah menghindar. Wondo melihat istrinya tampak termangu menatap keluar jendela. Matanya tampak sayu dan lelah.
Namun wondo hanya menatapnya sekilas lalu bergegas meninggalkan ruangan itu untuk berangkat kerja.
Kejadian malam itu kemudian terulang di malam-malam berikutnya. Tentu saja Wondo mulai terganggu. Semalam dua malam tak masalah, tapi hampir dua minggu Ramini nyaris tidak lagi bisa bersamanya. Kadang ia mondar-mandir di ruangan, kadang menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah tangganya. Tak jarang perempuan itu duduk berjam-jam di sisi ranjang memandang suaminya yang lelap karena capai setelah seharian bekerja.
Beberapa kali Wondo mencoba berbicara dengan perempuan yang hampir setahun dinikahinya itu, namun perempuan itu hanya menggeleng, mengangguk atau menjawab pendek pertanyaan suaminya. Apakah ia harus menggunakan kekerasan agar perempuan itu bisa seperti biasanya?
“Itu hanya akan memperburuk keadaan, Wond,” kata Mas Rudi yang sudah dua kali menikah itu.
“Perempuan memang kadang-kadang begitu, dia butuh waktu untuk dirinya sendiri,” lanjutnya saat malam itu ia tak berhasil mengajak Ramini kondangan.
“Apa di tampak tertekan?” tanya Mbak sari sambil meneguk teh manis yang di pilihnya di pesta itu.
Wondo diam. Ia baru sadar, Ramini memang berubah. Ia tampak tertekan, bahkan sering terkesan takut saat ia mendekat. Tapi apa masalahnya? Selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Setahun menikah dan mereka belum punya anak itu hal biasa. Mereka pernah membicarakan, dan itu tak masalah. Hasil pemeriksaan dokter juga menunjukkan mereka sehat, dan sangat mungkin mempunyai anak.
“Tak ada salahnya kau coba bicara dengannya, Dik,” saran Mbak Sari setelah mereka lama berbicara.
Wondo menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, kemudian mengusap kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. Bukan semata-mata karena perempuan itu tak lagi mampu memberinya kehangatan di ranjang, namun seolah jarak mulai terbentang di antara mereka. Ia baru menyadari, Ramini sudah jauh berubah. Hidup mereka kini dijalani tanpa rasa, hanya sebatas rutinitas saja.
Beberapa malam terakhir bahkan ia memilih untuk tidur terpisah dari suaminya. Mata itu tampak ketakutan setiap kali Wondo mencoba mendekat. Ini sudah keterlaluan! Sering kecurigaan menghampirinya. Mungkinkah Ramini ... ah tidak! Itu tak boleh terjadi, meskipun hanya sebuah dugaan! Ia harus membuang jauh pikiran buruk yang datang menerpanya berulang.
“Min ...,” kata Wondo memulai pembicaraan pagi itu. Ramini hanya menatapnya untuk menunjukkan respon terhadap panggilan suaminya. Meskipun sejurus kemudian ia segera memalingkan muka.
“Ada yang salah denganku?” tanya Wondo kemudian. Perempuan itu mendongakkan kepalanya.
“Tapi kamu itu sudah banyak berubah, lho ...,” kata Wondo lagi. Matanya tak lepas dari wajah perempuan di depannya. Hingga perubahan air muka perempuan itu bisa ia tangkap sempurna.
“Sudahlah, Mas. Aku menghormati keinginanmu, kok! Mas lakukan saja apa yang menurut Mas baik untuk dilakukan,” jawabnya sambil menunduk.
Kemudian ia segera berdiri untuk mengemasi peralatan makan yang mereka pakai dan membawanya ke dapur.
“Min, aku sudah mencoba bicara baik-baik denganmu, lho! Tap kau sengaja mengabaikan omonganku!” Suara Wondo terdengar meninggi di pagi yang sejuk itu. Jauh lebih nyaring dari kicauan burung Cing cing goling yang hinggap di dahan mangga depan rumah.
“Apa Mas Wondo juga mendengarku?” tanya Ramini sambil menghentikan gerakannya membilas piring kotor.
“Tentang apa, Min?” tanya Wondo kaget, “apa yang aku abaikan darimu?”
“Ingat-ingat saja sendiri,” kata Ramini sewot. Pekerjaannya sudah selesai, ia segera berlalu ke ruangan lain. Wondo berteriak menanyakan sepatu dan kaos kakinya, namun perempuan itu telah berlalu entah ke mana.
Menanyakan itu, berarti bertengkar! Kesimpulan Wondo. Tapi ia juga sadar, keadaan ini tak bisa dibiarkan terus menerus terjadi. Hampir setiap hari mereka bertengkar. Wondo terang-terangan menuduh istrinya sudah berubah. Perempuan itu bisa jadi kembali teringat pacarnya semasa SMA dulu.
“Kapan terakhir istrimu bersikap baik padamu?” tanya Mbak Sari saat istirahat siang. Hampir semua pekerjaan Wondo kacau hari itu. Bukan hanya hari itu, bahkan hampir seminggu ini.
Wondo memijit pelipisnya yang terasa sakit. Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir perempuan itu bersikap baik.
Sore itu di teras. Tentang foto itu! Itu pembicaraan mereka yang terakhir!
“Masa iya, cuma karena foto profil ia jadi berubah seperti itu?” seru Wondo kemudian.
“Maksudnya?” tanya Mbak Sari sambil menajamkan tatapannya.
“Min nggak suka aku gonta-ganti foto profil, Mbak. Masa gitu aja dijadikan masalah!” kata Wondo mencibir.
“Berarti kamu nggak paham perasaan perempuan, Dik,” timpal Mbak Sari lagi, “perempuan itu sensitif, dia lebih mengedepankan perasaan ketimbang nalarnya. Kau tidak mau menyelami jalan pikirannya. Kau hanya merasa itu seru, itu lucu tanpa pernah berfikir apa akibatnya bagi istrimu.”
“Menurutku Min berlebihan! Itu hal sederhana, to? Kok dibikin susah!” jawab Wondo ketus.
“Terserahlah, tapi bisa jadi memang itu masalahnya!” kata Mbak Sari tandas.
Jari runcingnya mengetuk-ngetuk meja di depannya. Matanya menerawang jauh.
Dan malam itu, hasrat Wondo sudah tak bisa lagi ditahan.
Hampir tengah malam perempuan itu masih sibuk di dapur. Pipinya kian ramping, wajahnya tampak semakin tirus.
“Min ...,” Wondo mencoba memeluk tubuh istrinya dari belakang. Itu pun sebenarnya ritual yang biasa mereka lakukan. tapi dulu ....
“Mas!” teriak Ramini kaget. Gelas yang dipegangnya bahkan jatuh dan pecah berderai setelah beradu dengan lantai.
Wondo tak kalah terkejut. Ramini undur beberapa langkah, matanya menatap tajam ke arah Wondo. Mata itu seolah bukan sorot mata yang ia kenal selama ini. Asing, bahkan menatap Wondo penuh dengan curiga.
“Kau kenapa, Min?” tanya Wondo kaget. “Lha aku kan suamimu, to? Apa salah yang aku lakukan?” tanya Wondo bingung.
“Tapi tidak, bagiku!” sahut Ramini ketus.
“Maksudmu?” tanya Wondo makin tak mengerti.
“Mas Wondo sudah memilih untuk menjadi orang lain bagiku,” jawabnya ketus kemudian berlalu. Masuk ke kamar tamu dan menguncinya dari dalam.
Wondo termangu menatap pintu yang terkunci dari dalam. Apa ia harus menyerah pada perempuan keras kepala itu? Apa benar hanya karena foto itu?
Hari itu Wondo benar-benar tidak bisa bekerja. Apa pun yang ia lakukan selalu saja salah.
”Bagaimana mungkin itu hanya karena foto?“ gumamnya berulang-ulang.
“Cobalah ganti foto profilmu, Dik! Hanya itu saranku. Tapi kalau kau tetap berkeras, ya terserah, itu pilihanmu. Bisa jadi rumah tanggamu akan menjadi taruhannya,” kata Mbak Sari saat mereka kembali menikmati makan siang bersama.
Iseng saja sebenarnya, tapi Wondo mencoba mengganti foto profilnya dengan foto dirinya. Meskipun ia tak percaya itu merupakan jawaban dari semua kegelisahannya selama ini.
Hari itu Wondo kembali pulang malam, Ibu masuk rumah sakit lagi. Ia sengaja tidak mengajak Ramini, selain karena pemberitahuannya mendadak, ia tahu Ramini pasti tak menginginkannya.
Malam hari baru ia pulang dari rumah sakit, Ramini berdiri di teras rumah seolah sengaja menunggunya. Dengan senyum menghias bibirnya, ia menyambut Wondo penuh kerinduan. Seolah baru bertemu setelah lama berpisah.
Wondo tak berani berharap. Bisa saja perempuan itu tiba-tiba berubah! Bisa saja ia tiba-tiba berlari menghindar seperti setiap malam yang telah mereka lalui selama ini.
“Mandi air panas saja, Mas. Sudah aku siapkan. Tadi Mbak Sari ngasih tahu kalau Mas Wondo pulangnya malam ngurus ibu yang sakit,” kata Ramini sambil menyerahkan handuk saat Wondo telah selesai berganti baju.
Heran? Tentu saja! Tapi bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Wondo dengan patuh mengikuti apa kemauan istrinya. Meskipun ia tak berani berharap. Tapi memang perempuan itu benar-benar berubah. Mungkin benar, perempuan memang makhluk yang aneh dan kadang sulit di mengerti jalan pikirannya. Labil dan mudah berubah. Ia merasa menemukan kembali istrinya yang manja dan seolah hilang beberapa waktu terakhir.
Juga saat kemudian perempuan itu memilih berbaring di sisinya malam itu.
Wondo masih belum berani berharap lebih. Setidaknya perempuan itu sudah tidak takut pada dirinya lagi.
“Mas ...,” bisik Ramini saat rebah di dadanya, setelah malam itu mereka lalui layaknya suami istri.
“Kemarin kenapa, Min. Kau membuatku takut,” bisik Wondo sambil mengelus punggungnya.
“Aku sering merasa Mas Wondo orang yang di foto itu,” jawab Ramini pelan, santai.
Hegh!!
laki-laki itu terkejut. Namun ia hanya diam, menunggu istrinya melanjutkan bicara.
“Aku merasa takut, Mas. Aku merasa ....”
“Ya?”
“Betapa mengerikan dan menjijikkannya diriku ... berganti-ganti suami. Apalagi saat harus disentuh atau melayani ... aku merasa itu bukan dirimu. Aku ngerti, itu hanya foto ... tapi semakin ingin aku melupakan, pikiran itu makin menguasaiku,” jelas Ramini terpatah-patah, “aku merasa takut dan tak pantas buatmu, Mas.”
Ada lelehan air bening di ujung mata perempuan itu.
Lalu terasa sunyi. Jantung dan aliran darah sejenak terasa terhenti. Jiwa Suwondo serasa melayang, lalu terempas menghadirkan rasa sakit yang mencengkeram dirinya karena penyesalan.
Itu yang selama ini dipikirkan Ramini. Baginya itu sebuah kesenangan, terasa seru, tapi Ramini merasakannya seperti itu. Sedemikian anehkah perasaan perempuan? Kadang-kadang yang pikirkannya jauh di luar nalar.
“Aku merasakannya seperti itu, Mas. Dan aku tak pernah bisa melawan perasaanku. Meskipun aku ngerti, itu hanya foto!” terdengar sesal Ramini yang tertuang dalam tangis. ***
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon