Sabtu, 31 Maret 2018

HIDUPMU PENUH AIRMATA

HIDUPMU PENUH AIRMATA

BACAKAN AKU CERITA
HIDUPMU PENUH AIRMATA - Masih hangat dalam ingatanku saat kita berjalan bersama di pinggir sungai, tiap matahari hampir tenggelam. Kau dan aku saling cerita tentang kegiatan di sekolah. Saat itu masih kelas 4 Sekolah Dasar. Ketika kita naik kelas 5, kau dan aku jarang bermain lagi.

Perceraian orangtuamu membawa pada duka berkepanjangan. Ke 3 adikmu masih kecil, bahkan yang ragil masih bayi. Dengan terpaksa kau tinggalkan bangku kelas 5 SD karena merawat adikmu. Entah ibumu kemana tiada yang tahu. Ada yang bilang dia pergi ke Kalimantan dan telah menikah lagi.

Usiamu yang masih belia harus sibuk mengurus adik-adikmu yang masih balita. Betapa sibuknya kamu, kau tak bisa lepas dari masalah yang menjerat. Badanmu kurus, kotor dan kurang terawat. Tak jarang kau menangis jika melihat teman sekolah memakai seragam, dan lewat di kampungmu. Pemandangan itu membuat hatimu semakin sakit.


Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA
*********************************************************************************

Ketika ke 3 adikmu sudah memasuki sekolah dasar, kau berfikir ingin bekerja di kota. Awalnya bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Surabaya. Setelah 2 tahun kau bekerja pada majikan yang cerewet, akhirnya pindah ke pabrik sepatu.

Dengan modal diri tanpa selembar ijazahpun ternyata tak bisa. Syarat surat lamaran minimal ijazah SMP. Kaupun akhirnya pulang menemuiku dan meminjam ijazahku untuk kau fotocopy. Kau ganti dengan foto dan namamu, kemudian kau fotocopy lagi.

Alhamdulillaah, dengan cara seperti itu bisa diterima bekerja di pabrik. Kurang lebih 2 tahun menjadi pekerja pabrik sepatu. Selama kau bekerja di pabrik tak banyak memiliki tabungan karena harus bayar kost dan biaya makan. Di tahun ke 3 kau memutuskan keluar dari pabrik sepatu dan bekerja di rumah tangga seperti ketika awal kau menginjakkan kaki di Surabaya.

Tak banyak yang bisa kau lakukan untuk merubah nasib karena kau tak memiliki ijazah, pengalaman juga hanya di rumah tangga. Setiap majikan yang mempekerjakanmu selalu cocok karena kerjamu bagus. Memang kerjamu melelahkan, tapi kau harus melakukan semua itu demi menyambung hidup adik-adikmu serta agar sekolah mereka tidak putus di jalan. Putus sekolah karena tak ada biaya itu memang sangat menyakitkan.

********************************************************************************
 BACAKAN AKU CERITA

Di usia yang memasuki angka 30 kau mengenal seorang lelaki yang menurutmu baik. Setelah beberapa bulan mengenal kepribadian pria itu akhirnya dia mengajak menikah. Dan kaupun akhirnya menikah di usia yang cukup matang.

Aku melihat rumah tanggamu bahagia dan baik-baik saja. Dalam pernikahan itu dikarunia seorang anak laki-laki lucu, yang melengkapi kebahagiaan keluargamu.

Keluarga kecilmu hidup sangat sederhana, bahkan sering dalam kekurangan, namun kau tak pernah menuntut apapun pada suami. Kau bantu dia mencukupi kebutuhan dengan bekerja sebagai buruh tani.

Kesengsaraan demi kesengsaraan, penderitaan demi penderitaan kau lalui dengan sabar. Kau selalu mengatakan padaku "memang ini sudah nasibku mbak." Akupun terus memberimu semangat setiap kali kau mengaduh.

Tak terasa pernikahanmu telah memasuki tahun ke3. Buah hatiimu telah berusia 2 tahun.

Tanpa sebab dan kesalahan tiba-tiba lelaki yang telah memberi anak pergi meninggalkanmu dan menikah lagi dengan perempuan yang telah kau kenal. Dia telah mengkhianati keluarganya.

Kau hanya bisa menahan sakitnya dada tanpa mampu menghentikan airmata. Kenyataan hidup selalu berakhir dengan duka lara. Semua serba menyedihkan dan semua terasa menyakitkan.

Duh sahabatku...

 Kini anak lelakimu sudah remaja dan tumbuh menjadi pemuda tak seperti yang kau harapkan. Dia putus sekolah ketika kau telah membiayainya habis berjuta-juta. Pengaruh lingkungan telah membawanya menjadi seorang pengamen. Entah kesalahanmu dimana hingga anakmupun menambah deretan penderitaan.

Kini kau tak punya harapan lagi. Anak satu-satunya telah melemparmu pada jurang penyesalan yang dalam. Ke 3 adikmu juga tak memiliki masa depan yang jelas. Ke 2 adik perempuanmu bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sedang adik lelakimu ditinggal menikah lagi setelah istrinya pulang dari Hongkong.

 Sahabatku... Kau harus bersabar dan teruuus bersabar. Allah mempunyai rencana lain untukmu yang tak seorangpun tahu, termasuk kamu. Jalanilah semua ini dengan tabah, ikhlas dan penuh ridho. Yakinlah, di saat yang tak terduga nasibmu akan berubah. Allah akan memberimu kemulayaan karena ketabahanmu. Kau wanita yang taat beragama. Tunggulah! Waktu itu tak akan lama...

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

Selasa, 27 Maret 2018

REUNI

REUNI

reuni

.
Terlihat undangan reuni di grup WA dengan nama 'Alumni SMA 21'. Setelah 8 tahun kelulusan, akhirnya mereka akan mengadakan reuni besar-besaran.
Terlihat komentar-komentar para alumni yang rata-rata menyambut acara itu dengan gembira.
Kangen masa-masa sekolah, itu alasannya. Sisanya mungkin berniat untuk memamerkan apa yang sekarang dia punya. Dan pembahasan berlanjut tentang memori indah dan lucu di sekolah dulu.
Siapa yang dulu tak mengenal Liana? Gadis paling cantik, sangat populer hingga beberapa kali ada siswa yang berkelahi memperebutkannya. Yang sangat dikenal di kalangan kakak kelas dan adik kelas, bahkan ada beberapa guru yang coba mendekatinya.
"Liana, dapet salam lagi dari Kak Yunus!" Kayla menyampaikan.
Liana cuma tertawa kecil. Tidak berbunga lagi hatinya menerima salam manis, pujian, bahkan puja dari lawan jenisnya.
Liana, Dian, Ocha dan beberapa lainnya adalah gadis-gadis populer di SMA mereka. Sementara untuk pemuda ada Rizal, David, Tony dan entah siapa lagi.
Sementara di bangku sudut sana, terlihat Koriah. Gadis bertampang minus. Dengan seragam seadanya, tanpa mengubah ukuran seperti siswi lain agar lebih pas di bagian dada.
Kori yang pendiam, bahkan menyukai teman sekelas pun diam-diam. Fajri namanya.
Tak heran jika nanti di reuni kali ini, nama mereka lah yang paling banyak ditanyakan teman-teman.
Bukan namanya.
***
Hari itu, hari dimana reuni digelar. Panitia reuni menyewa sebuah gedung. Biaya ditanggung oleh pengumpulan dana para alumni yang datang.
Suasana terlihat nyaman. Para alumni yang datang mulai berdiri berkelompok. Membaur dengan orang-orang yang mereka kenal. Saling memanggil nama, lalu berpelukan senang menyadari siapa yang datang.
Kori memasuki pintu aula. Lalu matanya disambut oleh foto-foto lama para siswa SMA 21 yang dicetak dalam ukuran besar. Tak ada foto dirinya. Yang paling banyak adalah foto-foto Liana dan puluhan siswa yang terkenal di sekolah dari setiap tahunnya. Tapi setidaknya foto-foto itu bisa membangkitkan kenangan Koriah saat berada di SMA.
Melihat gedung sekolah, kantin, koridor, taman dan lapangan dimana dia menghabiskan setengah hari selama tiga tahun.
Ah, kerinduan itu kembali mengusik hatinya.
Apalagi, setelah mata Kori menemukan sosok itu. Sosok pemuda bertubuh tinggi dengan wajah tampak lebih dewasa dari terakhir kali mereka bertemu dulu. Dia tengah sibuk berbincang dengan teman-teman sesama pria di sebelah sana. Terlihat seru dan menyenangkan sekali.
Dia Fajri. Pemuda yang saat mencoret punggung baju Kori hanya sempat mengucap.
"Sudah!" Sambil mengulurkan kembali spidol merah yang diberikan Kori padanya. Satu-satunya teman pria yang diizinkan Kori untuk mencoret bajunya.
Saat itu, baju Kori masih separuh bersih. Karena jarang sekali teman yang mau sukarela menuliskan sesuatu di bajunya jika tidak diminta. Berbeda sekali dengan baju Liana yang sudah berubah menjadi batik tulis berbagai warna.
Iri. Kadang Kori ingin sekali menjadi Liana. Semua perhatian tertuju pada gadis itu. Semua orang mengenalnya, bahkan para guru.
"Kori ya?" Tiba-tiba seseorang menyapa.
Kori sedikit terkejut. Tak menyangka ada yang mengenali. Saat menoleh, terlihat olehnya seorang wanita berhijab biru menatap dengan mata berbinar.
Kori ingat. Dia Delisa, teman sebangkunya.
"Delisa?" Senyum terkembang di wajah Koriah.
Lalu seperti layaknya saat dua wanita bertemu. Mereka berpelukan erat setelah mencium kedua belah pipi. Lalu saling tertawa dan membahas tentang masa-masa SMA.
Mulai berdatangan teman-teman lain ke arahnya.
"Kori?"
"Kamu Kori?"
"Ya Allah ... beneran kamu Kori?"
Mereka menggumamkan kata bernada sama. Sambil memandangi penampilan Kori dari atas sampai bawah.
"Iya ..." Kori menjawab sambil tersenyum.
Lalu disadari olehnya sosok itu menoleh. Sedikit menyipitkan mata, seperti mencoba mengingat siapa yang sedang dilihatnya saat ini.
Ada sesuatu berdesir di hati Kori saat pandangan mereka bertemu. Dan semakin berdesir saat melihat pemuda itu melangkah mendekat.
"Kamu udah kerja?" Terdengar pertanyaan salah satu teman.
Kori mengangguk diiringi ucapan alhamdulillah. Lalu pertanyaan-pertanyaan lain pun mulai bermunculan. Bekerja di mana, tinggal di kota mana, dan sudah menikah atau belum.
Kori sedikit malu mendengar pertanyaan itu. Malu karena pemuda itu pun seperti tengah mendengarkan jawaban dari mulutnya.
"Belum," jawab Koriah pelan.
Mereka menyambutnya dengan senyum tulus. Bukan ejekan. Karena mereka tahu, Kori belum menikah bukan karena dia tak laku. Lagipula saat ini mereka masih belum terlalu tua. Baru berusia sekitar 25.
"Tapi pasti udah banyak yang lamar kan?" tebak Masayu.
"Yakin deh, Kori pasti bingung pilih siapa yang bakal dijadiin suami." Lisa menyahuti.
"Beruntung sekali pemuda yang bisa dapetin kamu, Kori!" ucap Delisa sungguh-sungguh.
Tanpa sadar, Kori melirik ke arah pemuda itu. Pemuda yang ternyata juga tengah menatapnya.
Ah, debar-debarnya semakin membuat Kori salah tingkah. Karena alasan dia datang ke acara reuni ini hanya untuk bertemu dengannya.
Pemuda itu, yang sejak saat mereka duduk di kelas satu sudah membuat Kori merasa debaran rindu.
Hari minggu yang seharusnya dinikmati setelah enam hari sibuk dengan mata pelajaran yang cukup memusingkan, malah menjadi hari yang paling dibenci Kori.
Ingin sekali dia hapuskan tanggal berwarna merah itu dari kalender. Apalagi saat dia harus disiksa oleh liburan tengah semester atau libur kenaikan kelas yang sangat lama.
Masih diingatnya, satu hari dimana mereka bicara sangat dekat. Satu hari sebelum kelulusan.
"Kamu coret-coret dinding sekolah?" Pemuda itu menatapnya tak percaya.
Tak percaya. Karena yang ia tahu, Kori adalah gadis baik berwajah lugu. Yang sama sekali tak berani melanggar tata tertib sekolah. Apalagi mencoret tembok sekolah seperti yang tengah ia lakukan ini.
Kori menarik tangannya. Menunduk, tak berani membalas tatapan Fajri.
"Kenapa takut? Aku nggak bakal ngaduin kamu ke guru!" Fajri tertawa.
Baru kemudian Kori berani menoleh padanya.
"Aku cuma mau tau kenapa kamu nyoret-nyoret dinding sekolah kaya gitu!"
Kori mengulurkan tangan, menambahkan huruf H pada akhir namanya.
"Setelah lulus, mungkin nggak ada satu orangpun yang inget aku pernah sekolah di sini juga ... jadi ... aku tulis namaku sendiri. Sebagai tanda bahwa aku juga pernah sekolah di sini ..."
Kalau Liana, semua orang pasti tahu bahkan tanpa perlu ditanya, dia meneruskan kata-katanya dalam hati.
Hening untuk beberapa saat.
"Sebenernya gampang untuk membuat mereka tahu kamu lulusan sini. Jadilah sukses setelah kelulusan."
Kori menoleh.
"Populer di masa SMA itu menyesatkan. Apalagi tenarnya karena penampilan fisik, bukan karena kemampuan."
Fajri mengulurkan tangan, ikut menuliskan namanya tepat di sisi nama Kori.
"Lihat, saat reuni nanti ..." ucapnya tanpa menatap Kori. "Lihat, nama-nama yang sekarang populer itu, apa mereka tetap bisa menunjukkan kesuksesan setelah lulus dari sekolah. Karena yang aku tau, kebanyakan mereka gagal setelah jiwanya terlanjur terlena dengan pujian."
Koriah terdiam lagi. Tidak begitu mengerti apa yang dimaksud Fajri, tapi dia tidak ingin terlihat bodoh. Jadi dia pura-pura memahami.
.
Bertahun setelah kelulusan itu. Kori lulus sebagai sarjana. Lalu mulai bekerja di sebuah perusahaan ternama.
Dari sana, dia mulai memperbaiki penampilan fisiknya. Merawat diri, dengan uang yang dihasilkan sendiri. Hingga akhirnya tersiar undangan reuni para alumni.
Kori datang, untuk menunjukkan pada Fajri bahwa sekarang dia benar sudah memahami.
"Kori, apa kabar?" Terdengar suara sapaan.
Koriah menoleh. Seketika debaran jantungnya mengencang. Demi melihat Fajri yang sudah selangkah di depannya kini tersenyum sambil mengulurkan tangan ke arahnya.
"Baik, Fajri." Senyum mengembang di bibir Kori. Terbalas oleh senyum manis sang pemuda.
Sudah didengarnya bahwa Fajri bekerja sebagai wiraswasta saat ini. Terbilang mapan untuk pemuda seusia mereka.
Padahal dulu, Fajri hanyalah siswa kurus berwajah manis yang pendiam. Jauh dari sorak sorai para gadis cheerleaders yang meneriakan nama siswa tenar di sekolah mereka. Sangat tak sepadan jika dibandingkan dengan siswa-siswa populer lainnya.
Tapi kini, entah di mana siswa siswi populer itu. Beberapa nama mereka disebutkan dengan keadaan kurang menguntungkan.
Seperti Dian yang memilih menjadi model majalah dewasa, Tony yang terlibat kasus kriminal, bahkan ada yang diketahui menjadi istri simpanan.
"Setelah ini, bisa kita makan di luar?" Fajri bertanya. Disambut deheman dan tawa menggoda dari yang lainnya.
Sementara wajah Kori sudah dihiasi semburat merah di kedua belah pipinya.
***
Udara menjelang malam terasa sejuk, disertai angin berembus pelan membelai rambut lembut Kori. Di sebelahnya, Fajri berjalan dengan langkah tegap dengan wajah berhiaskan senyuman.
Mereka berdua asyik membicarakan masa SMA. Bedanya, kali ini dibubuhi dengan ungkapan tentang perasaan juga.
Hingga akhirnya sesosok kecil berusia 8 tahunan yang berlarian jatuh setelah menabrak Fajri.
Dibantu berdiri oleh pemuda itu. Tak jauh dibelakangnya seorang wanita memanggil.
Wanita berpakaian sederhana. Dengan rambut diikat sedikit seadanya. Tengah menggendong seorang balita di pinggang sebelah kiri.
"Olla! Hati-hati!" Serunya sambil berlari menghampiri.
Setelah menepuk-nepuk lutut kaki anak kecil itu, dia menatap ke arah Fajri dan Kori, akan mengucapkan permintaan maaf, tapi segera tertahan.
Menyadari, bahwa dulu mereka saling mengenal.
"Liana?" Kori menggumam sebuah nama.
Sedikit tak percaya. Karena yang ia tahu, Liana dulu adalah seorang gadis cantik paling populer di SMA nya. Tapi yang di hadapannya kini, hanya sosok seorang wanita bertubuh kurus dengan dandanan tak terurus. Membawa dua anak yang hampir seumur dengan usia kelulusan mereka.
Teringat kembali saat-saat terakhir sekolah, memang perut Liana terlihat sedikit membesar. Apa itu artinya ...
Benar yang Fajri bilang. Bahwa kepopuleran penampilan fisik di masa SMA hanya akan menghasilkan jiwa-jiwa manja yang merasa selalu haus dipuja.
Menjadikan mereka terlena oleh kenikmatan sesaat yang belum waktunya dikecap, lalu berakhir dalam masa depan suram.
Hingga tak jarang beberapa dari mereka tak berani datang menghadiri reuni

Senin, 26 Maret 2018

BERSEKUTU DENGAN JIN

BERSEKUTU DENGAN JIN

BERSEKUTU DENGAN JIN

Sudah tidak asing lagi bagi warga kampung Kucluk, bahwa seseorang yang suka menyendiri di Masjid dan di sawah itu bernama Faiban, pemuda itu sering berbicara sendiri. Berbicara dengan Jin.
Sore itu, salah satu warga mencoba menguping pembicaraan Faiban di sudut Masjid, dia mengendap dan beri'tikaf untuk mengintip dari balik jendela.
"Kita sudah lama saling kenal, tapi aku belum tahu namamu, Jin." terdengar Faiban tengah berbicara dengan seorang Jin.
"Kau telah mengenalku sebagai Jin, itu udah cukup."
"Itu tidak adil. Dalam pergaulan manusia, nama adalah identitas, dan tidak mungkin berteman tanpa mengetahui identitasnya, walaupun hanya sebuah nama." Faiban masih terlihat berbicara sendiri. Seorang yang tengah mengintipnya semakin terheran-heran.
"Namaku Tamusin."
"Tamusin, baiklah kalo begitu kita sholat dulu. Silakan kau yang jadi imam." Faiban perlahan beranjak lalu melantunkan Iqomah.
"Tidak Faiban, seperti biasa, kau yang jadi imam."
"Kau Jin yang sangat alim, ilmuku masih jauh di bawahmu. Walaupun kau selalu berdalih bahwa manusia lebih mulia, tapi aku mengukur kemuliaan dari segi ketakwaan dan keilmuannya. Mulai sekarang, kita gantian sebagai imam sholat." Faiban dengan senyum, mempersilakan Tamusin untuk menjadi imam sholat.
"Baiklah, karena ini sholat Dhuha dan tergolong sunnah, aku bersedia."
Keduanya pun dengan khusu' menjalankan sholat Dhuha berjama'ah. Sedangkan seseorang yang sedari tadi mengintip hanya bisa tercengang.
***
Malam itu di Pos Ronda, Daka sedang asik bergunjing dengan tema Musyrik. Daka yang sejatinya adalah teman Faiban telah memutar balikkan fakta yang ia lihat tadi pagi di Sudut Masjid.
"Kalian tahu si Faiban? Tadi aku mengintip dia sedang mengobrol sendiri di Masjid, ternyata dia telah Musyrik, dia berteman dengan Jin." sontak semua yang mendengar cerita Daya menjadi terpancing dan menjadikan kabar itu sebagai topik utama.
"Ooh, jadi selama ini dia bersekutu dengan Jin? Pantesan aja dia suka bicara sendiri, rupanya itu sebabnya. Kasihan dia, kita harus mengingatkannya dan menuntunnya kembali ke jalan yang benar." sahut salah seorang di sana.
Malam itu mereka habiskan untuk membahas perihal Faiban dan kemusyrikannya. Tanpa mereka sadari, Tamusin berada di antara mereka dan mendengarkan semua pembicaraan di sana.
***
"Faiban."
"Iya, ada apa?"
"Apakah menurutmu pertemanan kita ini adalah sebuah kemusyrikan?"
"Kenapa kau menanyakan hal bodoh seperti itu, teman? Kau sangat alim dalam agama, apakah aku harus memberi garam ke dalam lautan?" raut muka Faiban seketika cemberut, ada hal ya membuatnya merasa tidak nyaman.
"Aku memang bisa menjawab semuanya, dan mungkin jawaban kita bisa berbeda. Tapi aku ingin mendengar langsung darimu." Tamusin terlihat lebih tenang dengan sikap temannya itu.
Malam seperti terbangun bisu, hanya siul angin ya tak begitu merdu, menghembus teras rumah, segelas kopi, dan bulu-bulu. Faiban menarik nafas cukup dalam.
"Teman, kita tahu bahwa Syirik adalah bersekutu. Persekutuan di sini adalah dalam bentuk penyembahan kepada selain Alloh, baik dengan Syetan ataupun manusia. Seandainya ada saya minta tolong kepada manusia dengan syarat menyembah kepada selainNya, maka itu termasuk Musyrik. Sebaliknya, jika aku meminta tolong kepadamu untuk mengambilkan aku sebuah gelas di ujung jalan, lalu kau menolongku sebagai teman, maka hal itu tidaklah syirik. Begitulah jawabanku." lalu Faiban menatap ruang kosong.
"Baiklah, jawaban kita ternyata sama. Aku pun tidak menjadi Musyrik jika aku meminta pertolonganmu Faiban." sambung Tamusin. Lalu Diapun menceritakan perihal perbincangan orang-orang di Pos Ronda, tentang dirinya.
Srek-srek!!
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, kemudian berlari secepat mungkin menjauh dari Faiban dan sepi.
"Perlu aku kejar dan kulihat siapa yang mengintip kita barusan?" Tamusin berusaha menawarkan bantuan kepada temannya.
"Tidak perlu, biarkan saja." Faiban menolak dengan nada rendah.
"Dan tidak diciptakan Jin dan Manusia kecuali hendaknya mereka mengabdikan diri dengan ibadah. Manusia dan Jin yang terus menantang Tuhan adalah setan. Namun kita diperbolehkan melakukan hubungan sosial dengan mereka, sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan Tuhan." sahut Tamusin.
"Baiklah, sudah waktunya kita sholat Tahajjud." keduanya pun beranjak, dan menghabiskan sedikit waktunya untuk bercumbu, melantun munajat-munajat yang akan menjadi anak-anak ijabah.
***
Malam selanjutnya...
Masih di Pos Ronda.
"Sebaiknya langsung kita usir aja itu si Faiban, biar kampung kita ini aman dari segala jenis mistik. Faiban emang temanku, aku peduli padanya, tapi aku lebih peduli dengan kampungku ini." jelas Daka dengan lembut, dan mata yang berapi-api.
"Kasihan Faiban, Daka. Kita ingatkan aja dulu." sanggah seorang diantara mereka. Sudah banyak yang tahu bahwa sebenernya hubungan Faiban dan Daka mulai renggang sebagai teman sebab masalah wanita.
"Baiklah, tapi kalian sepakatkan, kalo si Faiban itu adalah seorang Musyrik yang jelas-jelas bersekutu dengan setan?" Daka kembali menggiring opini warga untuk meyakini bahwa si Faiban adalah Musyrik. Dengan begitu nama Faiban menjadi buruk. Selanjutnya, tujuan dia untuk mendapatkan hati Nia dan keluarganya menjadi lebih mudah.
"Iya, iya, kita sepakat kalo Faiban itu Musyrik, bahkan sedikit gila." sahut yang lain.
"Siapa bilang Faiban Musyrik?" sebuah suara yang tidak asing menyumpal beberapa mulut di sekitar Pos Ronda.
Daka yang paling terkejut. Entah kapan datangnya, tiba-tiba Pak Hadi, ayah Nia sudah berada di dekat mereka.
Daka dan yang lainnya terdiam.
"Bisa tolong ambilkan aku senter di dalam Pos?" Pak Hadi memberikan isyarat kepada Daka. Dengan senyum kegirangan, Daka segera mengambilkan senter.
"Nah, seperti ini. Apakah aku telah Musyrik sebab aku meminta tolong padamu?" tanya Pak Hadi kepada Daka, setelah senter itu berada di tangannya.
"Tidak Pak, itu bukan Syirik." jawab Daka, datar.
"Apakah manusia dan jin mendapatkan perintah yang sama dari Tuhan?" lanjut pak Hadi.
"Iya, Pak. Betul."
"itu berarti, Faiban bukanlah Musyrik karena dia berteman dengan Jin. Kemarin malam aku mengintip dan menguping perbincangan Faiban. Aku bisa menangkap dan memahami kalo dia tidak Syirik. Dia hanya berteman, tidak Musyrik." semua menganggukkan kepala mendengar penjelasan pak Hadi, termasuk Daka.
"Jin teman Faiban itu tahu tentang perbincangan kalian kemarin malam, dia menceritakan semua kepada Faiban, tapi Faiban memaafkan kalian semua." lanjut pak Hadi.
"Satu lagi, putriku menyukai Faiban. Awalnya aku tidak setuju karena dia suka berbicara sendiri seperti orang gila. Tapi, setelah aku mengetahui yang sebenarnya, aku menyukainya. InsyaAllah dia adalah imam yang baik buat putriku" Pak Hadi terus menuntaskan uneg-unegnya, terutama pada Daka.
"Baiklah, silakan melanjutkan Ronda, saya akan berkeliling kampung dulu. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam."

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

IJINKAN KU MENIKAH PART1

IZINKAN KU MENIKAH PART1

IZINKAN AKU MENIKAH LAGI


“Ijinkan, aku menikah lagi” kali ini pintaku memelas.
Kesekian kalinya, ku ajukan permintaan ke suami, dia hanya bisa menghela nafas.
“Tidak” jawabnya pelan, seolah ada rasa keputusasaan pada raut wajahnya.
“tolonglah mas, ijinkan aku menikah. Aku lakukan semua ini demi kebaikan kau sendiri. Kelak kau terbebas dari hisabNYA, dan tak harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanku” bujukku lagi.
“Aku hanya ingin membangun rumah di surga kelak bersama suami yang menenangkanku di sana” jelas ku lagi.
“Kau pikir aku tak bisa?!” suaranya meninggi.
“Aku percaya kau bisa, mas. Aku yakin kau bisa. Namun, kau belum membuktikannya sampai hari ini juga. Waktu yang ku berikan sudah habis. Kepercayaanku terkikis” isakku pelan. Air hangat mulai mengalir di ujung mataku.
“15 tahun ku coba menemanimu dalam susah maupun senang. Tak pernah ku menuntut kemewahan karena yang ku pinta kau menjadi imam. Bimbinglah aku dalam keislaman atau dampingilah aku dalam mengaji Al Quran.
“Atau cobalah tunaikan shalat tepat waktu saat dikumandangkan adzan, dan lebih baik lagi berjamaah di masjid”
Tak terasa air mata bertambah deras.
“Aku belum bisa, maaf de” tegasnya lagi.
“kalau begitu, relakan aku. Aku mencoba mencari imam baru” tegasku.
“Keputusan ku sudah bulat tak ada lagi yang bisa mengalangiku lagi!!” bentakku seraya pergi meninggalkannya.
“Stopppp!!”
Langkahku terhenti, karena teriakan suamiku Ryan.
“De, tunggu!! Ade, tunggu!! Sebentar, ada yang akan ku sampaikan.”
Ku lhat nafasnya agak tersengal karena mengejarku dan ku berdiam diri sampai dia menjejeriku.
“Ade, ingatkah bahwa seorang istri tidak bisa pergi jika sang suami tidak menginjinkan.”
“Suami? Suami yang mana?” sanggahku
“Ade, aku ini masih suamimu! Aku masih punya hak atas kamu” bentaknya.
“Oya??!!” tanyaku seolah-olah bodoh. “lantas siapa yang mengucapakan talak kepadaku sebulan yang lalu?! Siapa?!” bentakku.
‘Apakah kau lupa mas? Tepat di bulan Ramadhan kemarin kau telah mentalakku.”
Malam di saat yang lain sibuk dengan shalat tarawih, kau malah asyik dengan fitnes atau sekedar nongki dengan teman-temanmu. Di saat yang lain sibuk berlomba-lomba menunaikan amalan-amalan demi meraih kemenangan, kau tetap sibuk dalam kesenanganmu. Kau makan minum layaknya bulan biasa, kau beraktivitas seperti bukan di bulanNYA. Makan siang sesuka hati, merokok tak pernah berhenti, bahkan masjid tak kau singgahi” cecarku satu persatu.
“Aku pun harus terburu-buru menemuimu karena isi pesan yang begitu kasar. Tarawihku tak kusyu karna terus saja teringat isi WA mu” nada suaraku tak beraturan berpacu dengan nafas yang memburu.
Aku sudah tak peduli lagi rasa hormat ataupun menghargainya.
“Tapi de, ucapan talak itu tak berarti, tak ada saksi. Bukankah engkau pula sebagai penyebab kata-kata talakku” bantahnya.
“Jika bukan kau penyebab amarahku, tak mungkin aku akan melontarkannya kepadamu. Kau sendiri penyebab dari semua kekacauan ini” sanggahnya.
“Apa??!! Enak saja. Memangnya apa yang aku ucapkan, apa yang ku lakukan??
Apa aku selingkuh?? Apa aku menuntutmu dalam hidup kesenangan, apa aku selalu membantah setiap perintahmu?” tegasku.
“Tidak” jawabnya singkat.
“lantas….??!!” Aku memburunya dengan pertanyaan.
Namun yang ku dapati dia hanya diam, aku pun diam. Untuk sementara kami terdiam.
Dalam diam, ku lirik arloji yang melingkar pergelangan tanganku 15.13 sebentar lagi waktunya adzan ashar.
Tak berapa lama terdengar adzan begitu jelas, ku hela nafas panjang dan ku resapi benar lantunan seruanNYA.
“Sudah adzan, yukss shalat ashar dulu mas. Kita minta jalan keluarNYA, insya Allah kita diberi petunjuk” ajakku dengan halus. Ku coba tepiskan ego dan amarahku.
“Malas… harusnya kau yang meminta petunjukNYA, agar tahu adab istri kepada suami” bentaknya.
Aku diam, bukankah ini bukan pertama kalinya dia menolak ajakan shalat. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi. Ku ambil air wudhu, dan ku basuh semua seluruh wajah dan bagian tubuh agar lebih bersih pikiran dan hati.
Ku selesaikan empat rakaat asharku dengan kusyu dan ku resapi benar setiap bacaan shalatku sampai seruan Allah akbar. Selesai shalat, ku bermunajat kepadaNYA. Ku lafalkan Istiqfar sebanyak-banyaknya dan menangis dalam rengkuhan sujudNYA.
Slide masa lalu terpampang satu-persatu, ibarat ku menonton film dengan aktornya adalah aku sendiri.
===”””===
Part-2 Slide
“Aku jatuhi kau talak, Andia Ranty” teriak suamiku Ryan.
Aku terdiam dan kusunggingkan senyum sinis. Dari bibirku terlontar kata “Alhamdulillah.”
Suamiku tepatnya mantan suami terkejut melihat ekspresiku, “Apa yang kau ucapkan?”
‘Kenapa? Kau kaget dengan balasanku mas? Kau berharap aku akan terkejut, marah atau meratapi ucapan talakmu seperti saat kau menjatuhi talak 1, 10 tahun yang lalu?
Kau berharap aku akan mengemis belas kasihan hanya demi keutuhan rumah tangga kita? Tidak mas, aku sudah lelah dengan sandiwaramu, dengan ucapan talak dan rujuk. Bahkan kau mengulanginya saat ini.
Kau sendiri berjanji akan mengubah sikap dan emosi, namun tanpa bukti dan mengulangi berkali-kali” tersirat keputusasaan di ucapanku.
“Ingat, ini talak ke-2 mu mas, kau tak bisa mengingkarinya. Allah Maha melihat semuanya, dan di bulan Ramadhan ini malaikat turut menyaksikan. Akan ku ingat baik-baik mas, tepat sepekan sebelum hari lebaran kau menjatuhi talak ke-2 mu” isakku.
Dadaku sesak mengingatnya lagi.
***
“Braggg” suara meja dibanting keras menggema.
Aku terkejut dan segera bangkit menuju ruang tamu. Ku saksikan sendiri meja hancur tak berbentuk. Ini bukan kali pertama barang-barang di rumah kami menjadi sasaran amarahnya. Penyebabnya sepele, perbedaan pendapat sebagai suami istri, perbedaan pendapat dengan atasannya atau bahkan dengan keluarga besarnya. Tak heran jika kami pun tak memiliki isi perabotan rumah, karena harus berhadapan dengan tangan kasarnya.
Seperti saat ini, dia menginginkan sebuah handphone terbaru yang bermerk *P** dengan alasan perusahaanya mewajibkan memakai merk tersebut. Tentu saja aku melarangnya, dengan alasan dia sudah membeli produk yang sama empat bulan yang lalu, bahkan belum selesai angsuran dalam setahun ini. Selain itu dia juga beralasan akan memberikan hp milknya ke aku yang pecah bagian layarnya karena dibantingnya seminggu yang lalu. Aku menolaknya dengan halus, karena tak menginginkan barang baru selama masih bisa dipakai.
Gaya hidupnya yang selalu mengikuti trend baru, terkadang membuatku hanya tersenyum di hati. Dari jaket yang anti air, anti panas bahkan anti peluru wkwkkkw. Belum lagi celana panjang bila robek dikit di bagian samping langsung minta ganti, apalagi kalo jahitannya tidak rapi, alamakkkkk harus cepet-cepet ke vermak jeans untuk diperbaiki. Prinsip hidupnya Perfomance adalah yang utama, seseorang dilihat pertama kali dari penampilan nya.
***
“Dimana?” suara seberang telepon.
“Masih di rumah siswa” jawabku
“Jam berapa ini? Bukankah sudah 21.00, tadi pesanmu mengatakan pulang 20.30?” runtunnya.
“Iya, kebetulan siswa ada ulangan besok, jadi ada tambahan waktu karena belum jelas juga.”
“Ya sudah, cepat pulang, aku lapar”
“Aku sudah menyiapkan makanan di meja, ada ikan pindang pedas dan sayur budin kesukaan mas”
“Malas kalau makan sendiri, tidak enak” alasannya lagi.
“Baiklah ini sudah siap-siap pulang, 10 menit sampai rumah” jawabku halus.
Begitulah keseharianku, pagi mengajar di TK, siang mengerjakan tugas rumah tangga, sore sampai malam mencari tambahan les privat ke rumah siswa. Semua ku jalani dengan ikhlas dan seijin suami. Karena penghasilannya sendiri sebagai debt collect di leasing habis untuk angsuran sepeda motor, handphone, isi pulsa, bensin dan rokok. Jika ada sisa aku masih diberi jatah, jika tidak yaaaa sudah biasa amssyonggg.
Urusan tagihan listrik, isi dapur, isi kamar mandi sudah menjadi bagianku. Karenanya, tak pernah ku memikirkan baju baru apalagi lipstick baru. Boroo..borooo bro. Bersyukur kami tidak dibebani angsuran rumah, karena masih ada kontrakkan orang tua yang ditempati.
***
Seorang debt collector datang ke rumah dan menagih. Dengan heran ku bertanya, dari bank mana atau leasing mana bisa jadi dia adalah teman suamiku. Teryata bukan, tapi dari bank B** berusaha menagih angsuran credict card atas nama suami.
“Asstaqfirullah hal aadziim” seruku.
Bukankah sudah ku berikan uang sebesar Rp. 925 000,- dua bulan lalu. Aku masih ingat betul, memberi uang tersebut untuk melunasi credit card yang sempat macet. Lantas dikemanakan uang tersebut oleh suamiku?
===”””===
Part-3 Baper
Selama masa iddah kami harus berpisah rumah. Aku menempati kontrakan orang tua seorang diri, sementara suami … aku tak peduli. Tak pernah ku bertanya keberadaanya apalagi menghubungi. Sesekali dia mengirim pesan atau WA namun jarang kubalas, sekedar ku baca saja. Jika sudah seperti itu, dia buru-buru v-call untuk mengecek lokasiku.
Menjalani masa iddah merupakan masa terindah dalam hidupku. Aku benar-benar menikmati masa-masa tersebut layaknya burung yang terbebas dari cengkeraman manusia. Aku bisa tidur pulas tak ada yang mengusik di tengah malam, bebas tugas dari pekerjaan rumah tangga, bebas berpergian selepas pulang kerja bahkan bebas berkumpul dengan teman-teman sebaya.
Masa-masa remajaku seolah kembali selepas bertemu dengan beberapa alumni di reuni ke-dua. Terlebih lagi saat melihat sosoknya yang terkadang hadir di bawah alam sadarku ....... Berdesir hati ini saat berjabat tangan dan menikmati senyum tipisnya kembali.
“Hai, apa kabar?” sapanya. “Wah, bertemu juga akhirnya. Saya kira kamu tak datang?” runtunnya.
Aku hanya tersenyum simpul dan menjawab “Iya, baik…kamu juga kan?”
Semenjak itu, undangan alumni datang silih berganti, entah sekedar ngopi, nongki atau menghadiri resepsi. Yang terpenting bisa berkumpul dan tertawa riang menghilangkan kejenuhan.

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

Cinta tak Harus memiliki


Cinta tak Harus memiliki


CINTA YAK HARUS MEMILIKI


Tepat dua tahun yang lalu kami melangsungkan pernikahan, usiaku 22tahun dan suamiku 26tahun, karna hidup didesa usia 22tahun membuatku dicap sebagai perawan tua oleh orang-orang disekitarku.
"Apa yang ditunggu? Anak perempuan itu lulus SMP sudah cukup, tidak usah terlalu berlebihan, kalo orang tuanya petani, anaknya gak akan jauh beda pasti jadi petani juga" ucap bapak tua itu yang jika nyinyir, emak-emak rempongpun akan kalah.. "kamu itu kebanyakan gaya Lis, gak punya bapak aja sok-sokan Kuliah". Mendengar hal itu, Rasanya ingin aku siram saja bapak itu dengan air kotor ditimba yang ku pegang disungai, tapi aku tahan karna ada ibu yang melarangku melawan orang yang lebih tua.
"Suatu saat nanti akan aku beli mulutmu itu" grutuku yang saat itu masih berusia 19tahun.
Aku memang hanya tinggal bersama ibuku, Ayahku telah tiada sejak Usiaku masih 15bulan.
________________
Diusia pernikahan yang ke-2 dan dalam penantian mempunyai keturunan yang belum terjawab membuatku terkadang merasa jenuh, Sedih dan kecewa.
Jenuh dengan aktifitas yang monoton tanpa ada gangguan tangisan bayi disetiap waktunya.
Sedih ta mampu membuktikan kepada orang-orang bahwa akupun bisa memiliki keturunan.
Kecewa karna merasa belum bisa memberikan keturunan kepada pasangan.
Namun berbeda dengan Suamiku, ia Hebat.. Suami hebat yang Tuhan kirim Untuk mendampingiku.
Dengan selisih Usia 4tahun Ia mampu menjadi Kakak, Teman, Sahabat dan Ayah untukku, saat ia pulang kerja ta jarang ia dapati aku menangis dikamar, menangis karna tak mampu menahan sakit hati saat dikatakan mandul oleh orang-orang disekitar, walau Ia selalu berkata untuk tidak usah mendengarkan ocehan orang tetapi hati kecilku tetap tidak mampu menolak kutukkan itu dengan baik.
"Sabarlah Mah, jika sudah waktunya Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita, jangan lupa selalu berdoa ya" dikecupnya keningku lalu menyuruhku segera merapikan diri..
"mau kemana Yah?" Tanyaku masih sesenggukan karna berjam-jam menangis didalam kamar.
"Kita kerumah Agas, main-main sama dia biar Mama gak jenuh dirumah terus"
Agas adalah anak kakakku yang kini seumuran dengan usia pernikahanku.
Sesampai dirumah Agas, aku dapati kakak iparku sedang menggendong bayi berusia sekitar 5bulan.
"Anak siapa itu mbak? Kok aku gak pernah lihat sebelumnya"
"Anaknya mbak Ira te, tetangga sebelah yang baru pulang dari medan"
"Sini mbak biar aku yang gendong siapa tahu ntar bisa nular" hiii tawaku
Saat dalam gendonganku bayi itu menangis
"Gendong gitu aja kaku sampeyan Mah"
Goda Suamiku, Karna aku memang tidak pernah menggendong bayi sekecil itu sebelumnya.
Digantilah Suamiku yang menggendongnya mencoba menenangkan tangisannya.
Memang lebih mahir dia daripada aku, saat berada digendongan suamiku si bayi tidak lagi menangis.
"Siapa namanya mbak?"
Rara Te, Rara Ramadhani..
_______________
__*Rara Ramadhani, bayi kecil yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya olehku bahwa dia akan menjadi bagian dari Hidupku, Bagian dari Cintaku*__
Setiap aku kerumah kakakku aku juga selalu bertemu dengan Rara, ia sering dititipkan ke kakak iparku jika ibunya sedang menjaga warung.
Rara adalah anak ketiga, kakak pertamanya masih Usia 5tahun dan kakak keduanya Baru berusia 3tahun.
Pernah juga anak itu nginep dirumahku selama 2 hari..
Rasa yang sangat luar biasa saat Rara menginap dirumah, aku dan suami sangat bahagia saat tengah malam harus begadang menemani Rara yang tidak mau tidur..
"Suatu kebahagian bagiku bisa merasakan begadang tengah malam karna ada anak yang tidak mau tidur, begadang yang terkadang sangat tidak disukai ibu-ibu yang memiliki bayi".
Kini Usia Rara sudah memasuki Usia 7bulan, dia juga sudah seperti mengenal ku dan suami sebagai orang tua keduanya.
Setiap aku main kerumah kakaku Rara selalu menangis minta digendong suamiku..
_________________
Sore itu ada panggilan masuk di Handphoneku "Mama Agas"
"Assalamualaikum, te bisa kerumah"
"Waalaikumsalam, ia mbak, ada apa?"
"Kerumah saja, nanti kita bicara dirumah"
Setelah 30menit perjalanan akhirnya sampai dirumah Kakakku, disana juga Ada mbak Ira dan ketiga anaknya.
"Lho ada apa ini kok bawa-bawa koper?, Rara juga kenapa mbak kok dikompres?"
"Rara Panas te, ini baru pulang dari puskesmas"
"Oww jadi karna Rara sakit ya, makanya aku diminta kesini" digendonglah Rara oleh Suamiku, memang anak itu sangat dekat dengan suamiku, sepeti seorang Ayah dan anak kandungnya saja.
"Te, mbak Ira mau ngomong sesuatu" ucap kakak iparku, "ayoo wes mbak, katakan pasti Lisa mau kok" lanjutnya
"Mbak Lisa, aku berniat mau nitipkan Rara tinggal bersama Mbak, tolong Anggab Rara sebagai Anak kandung mbak, tolong ya mbk" pintanya
"Kenapa mbak? Mbak mau kemana?"
"Aku mau balik ke medan mbak, percuma aku disini toh suamiku gak inget sama aku dan anak-anakku"
"Suami mbak memangnya kemana?"
"Dia menikah lagi mbak, menikah lagi dengan Purel yang katanya sedang hamil anaknya dua bulan"
"Jadi selama 2bulan ini ia tidak pulang ternyata sudah menikah lagi mbak, katanya ia dipaksa menikahi selingkuhannya itu, kalo tidak orang tuanya akan melaporkannya kepolisi" lanjutnya
"Terus mbak Ira mau cerai?" Tanyaku
"Rencana seperti itu mbak Lis, biar nanti aku urus, yang terpenting aku titip Rara ya mbak, karna ditempat kerjaku tidak boleh membawa lebih dari dua anak"
"Anggab saja Rara anak mbak Lisa, tapi tolong jangan benar-benar diambil ya mbak karna aku sayang dia, nanti kalo mbak Lisa sudah punya anak,Rara akan kembali aku ambil"
Sebenarnya aku mengharap Rara menjadi anakku untuk selamanya tapi apa daya, ibunya masih memberatkan tidak mungkin aku memaksakan kehendakku memiliknya seutuhnya.
Aku dan suami menyetujui permintaannya, aku tau perasaannya saat itu, harus rela menahan rasa sakit hati karna dikhianati suami dan juga harus ikhlas hidup jauh bersama buah hatinya yang kini sedang sakit dan harus ia tinggalkan bersama oranglain yang sebelumnya tidak pernah dikenal.
______________
Malam itu Aku dan suami antusias dengan adanya keluarga baru dirumahku, saat aku belanja perlengkapan bayi, ibu menelfonku memberitahu bahwa Rara panas tinggi, Diare dan muntah-muntah, rasa khawatir sangat luar biasa aku rasakan, takut terjadi apa-apa dengan Rara, "apa yang akan aku ceritakan jika Rara ta bisa dselamatkan" fikirku
Dibawanya kerumah sakit, dokter mengatakan Rara muntaber, sungguh situasi yang sangat panik, untuk memberi kabar ibu kandungnyapun aku tidak berani..
Rara mulai kejang, membuat kekhawatiranku semakin bertambah. "Ayoolah nak, sembuhlah untuk Mama dan Ayah sayang, kamu anak Mama sayang, tidak akan Mama biarkan kamu menderita sayang" kubiskan kata-kata itu ditelinganya.
Rara menangis sekencang-kencangnya "Yayah..Yayah" ia menangis minta digendong Ayahnya, sosok Ayah yang ia tahu ialah Suamiku, karna Ayah kandungnya sudah pergi meninggalkannya sebelum Rara mampu mengenalinya.. "Alhamdulillah ia sudah tidak kejang lagi.
Terimakasih Tuhan, engkau telah menyelamatkan peri kecilku"
"Kamu anak Mama sayang" ku kecup keningnya "kamu anak Mama walau tidak lahir dari rahim mama"
___________________
Satu bulan sudah Rara bersamaku, ia lebih dekat dengan Ayahnya daripada aku Mamanya, entahlah... mungkin karna suamiku lebih sabar merawatnya, ketika tengah malam Rara rewel minta Susu Suamikulah yang bangun untuk membuatkannya susu sedang aku masih terlelap dalam tidur.
"Bodoh banget sih kamu Lis, Mau capek-capek ngerawat anak orang, dapat apa kamu? Dibayar bulanan tah, ntar kalo dah besar ya kamu dilupakan" Suara nyinyir itu aku dengar dari mulut tetanggaku yang berkumpul membeli sayuran didepan rumah. "Kenapa kamu yang repot, yang ngerawat kan aku" jawabku.
"Kamu itu Bodoh Lis, lebih baik ngerawat anak sendiri daripada anak orang" mendengar perkataan ini rasanya ingin ku dorong saja itu ibu tapi aku tahan, tak ingin ada keributan pagi-pagi, aku gendong Rara dari babywalkernya ku bawa dia masuk, ta ingin berlarut-larut mendengar ucapan ta penting dari tetanggaku.
Rara menangis karna masih ingin bermain, akupun ta kuasa menahan airmataku, perkataan itu sangatlah menyakiti hatiku, dimana aku belum bisa merawat anak yang benar-benar terlahir dari rahimku sendiri.

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

FOTO

Foto

FOTO

Berganti foto profil di FB sebenarnya hal yang biasa, bukan? Namun menjadi tidak biasa bagi pasangan Ramini dan Suwondo.
“Mas, saya nggak suka foto profilnya kau ganti yang itu,” kata Ramini sore itu saat mereka duduk di teras.
“Halah gitu aja kok dibikin masalah, to? Gonta-ganti foto profil itu kan biasa, kenapa mesti kau ributin?” Wondo hanya melirik istrinya. Matanya tak lepas dari gawai yang di tangannya. Wondo kembali mengganti foto profilnya dengan wajah seorang atlet, menampakkan otot-ototnya yang kekar.
“Ya sudah kalau Mas Wondo nggak mau dengar,” kata Ramini sambil pergi sesaat setelah melihat foto profil suaminya.
Gawainya ia letakkan begitu saja dekat suaminya. Perempuan bertubuh sedang dengan muka bulat itu kemudian menyelinap masuk. Wondo berharap, ia akan segera kembali, kemudian duduk dengan wajah cerah di depannya sambil menghidangkan kopi bersama camilan kesukaannya. Seperti biasanya di setiap sore mereka lakukan sambil beristirahat setelah seharian penat bekerja.
Tapi hingga senja turun, perempuan itu ternyata tidak muncul.
Lalu malam itu menjadi malam yang menggulatkan pertanyaan di benak Wondo.
Saat mereka biasanya menghabiskan malam bersama, namun perempuan itu memilih duduk di sudut ranjang dengan lutut terlipat, seolah takut mereka saling menyentuh. Hingga tengah malam, saat seharusnya mereka tidur, Ramini masih duduk dengan posisi yang belum berubah sejak Wondo memasuki kamar.
“Kau masih di situ, Min? Selarut ini belum tidur?” tanya Wondo di antara kantuk yang masih manja bergayut.
Tak ada jawaban. Wondo pun tak membutuhkan jawaban, karena ia kembali terlelap.
“Kau semalam tidak tidur, Min?” tanya Wondo pagi itu saat menemukan mata perempuan itu kemerahan dan kantung matanya sedikit mengembung karena kurang istirahat.
Ramini hanya mengangguk pelan. Tangannya segera menyiapkan tas, sepatu dan kaos kaki untuk suaminya.
“Hari ini aku pulang agak sore, kamu jangan lupa makan siang, ya?” katanya sambil meraih kepala istrinya. Namun perempuan itu kembali hanya diam. Tak ada respon hangat seperti biasanya.
“Kau baik-baik saja, kan Min? Atau sakit, ya?” Mata Wondo memicing, seolah dengan itu ia bisa melihat lebih jelas isi pikiran Ramini.
Ramini hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Nggak papa, Mas. Aku sehat, kok,” jawabnya seolah menghindar. Wondo melihat istrinya tampak termangu menatap keluar jendela. Matanya tampak sayu dan lelah.
Namun wondo hanya menatapnya sekilas lalu bergegas meninggalkan ruangan itu untuk berangkat kerja.
Kejadian malam itu kemudian terulang di malam-malam berikutnya. Tentu saja Wondo mulai terganggu. Semalam dua malam tak masalah, tapi hampir dua minggu Ramini nyaris tidak lagi bisa bersamanya. Kadang ia mondar-mandir di ruangan, kadang menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah tangganya. Tak jarang perempuan itu duduk berjam-jam di sisi ranjang memandang suaminya yang lelap karena capai setelah seharian bekerja.
Beberapa kali Wondo mencoba berbicara dengan perempuan yang hampir setahun dinikahinya itu, namun perempuan itu hanya menggeleng, mengangguk atau menjawab pendek pertanyaan suaminya. Apakah ia harus menggunakan kekerasan agar perempuan itu bisa seperti biasanya?
“Itu hanya akan memperburuk keadaan, Wond,” kata Mas Rudi yang sudah dua kali menikah itu.
“Perempuan memang kadang-kadang begitu, dia butuh waktu untuk dirinya sendiri,” lanjutnya saat malam itu ia tak berhasil mengajak Ramini kondangan.
“Apa di tampak tertekan?” tanya Mbak sari sambil meneguk teh manis yang di pilihnya di pesta itu.
Wondo diam. Ia baru sadar, Ramini memang berubah. Ia tampak tertekan, bahkan sering terkesan takut saat ia mendekat. Tapi apa masalahnya? Selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Setahun menikah dan mereka belum punya anak itu hal biasa. Mereka pernah membicarakan, dan itu tak masalah. Hasil pemeriksaan dokter juga menunjukkan mereka sehat, dan sangat mungkin mempunyai anak.
“Tak ada salahnya kau coba bicara dengannya, Dik,” saran Mbak Sari setelah mereka lama berbicara.
Wondo menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, kemudian mengusap kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. Bukan semata-mata karena perempuan itu tak lagi mampu memberinya kehangatan di ranjang, namun seolah jarak mulai terbentang di antara mereka. Ia baru menyadari, Ramini sudah jauh berubah. Hidup mereka kini dijalani tanpa rasa, hanya sebatas rutinitas saja.
Beberapa malam terakhir bahkan ia memilih untuk tidur terpisah dari suaminya. Mata itu tampak ketakutan setiap kali Wondo mencoba mendekat. Ini sudah keterlaluan! Sering kecurigaan menghampirinya. Mungkinkah Ramini ... ah tidak! Itu tak boleh terjadi, meskipun hanya sebuah dugaan! Ia harus membuang jauh pikiran buruk yang datang menerpanya berulang.
“Min ...,” kata Wondo memulai pembicaraan pagi itu. Ramini hanya menatapnya untuk menunjukkan respon terhadap panggilan suaminya. Meskipun sejurus kemudian ia segera memalingkan muka.
“Ada yang salah denganku?” tanya Wondo kemudian. Perempuan itu mendongakkan kepalanya.
“Tapi kamu itu sudah banyak berubah, lho ...,” kata Wondo lagi. Matanya tak lepas dari wajah perempuan di depannya. Hingga perubahan air muka perempuan itu bisa ia tangkap sempurna.
“Sudahlah, Mas. Aku menghormati keinginanmu, kok! Mas lakukan saja apa yang menurut Mas baik untuk dilakukan,” jawabnya sambil menunduk.
Kemudian ia segera berdiri untuk mengemasi peralatan makan yang mereka pakai dan membawanya ke dapur.
“Min, aku sudah mencoba bicara baik-baik denganmu, lho! Tap kau sengaja mengabaikan omonganku!” Suara Wondo terdengar meninggi di pagi yang sejuk itu. Jauh lebih nyaring dari kicauan burung Cing cing goling yang hinggap di dahan mangga depan rumah.
“Apa Mas Wondo juga mendengarku?” tanya Ramini sambil menghentikan gerakannya membilas piring kotor.
“Tentang apa, Min?” tanya Wondo kaget, “apa yang aku abaikan darimu?”
“Ingat-ingat saja sendiri,” kata Ramini sewot. Pekerjaannya sudah selesai, ia segera berlalu ke ruangan lain. Wondo berteriak menanyakan sepatu dan kaos kakinya, namun perempuan itu telah berlalu entah ke mana.
Menanyakan itu, berarti bertengkar! Kesimpulan Wondo. Tapi ia juga sadar, keadaan ini tak bisa dibiarkan terus menerus terjadi. Hampir setiap hari mereka bertengkar. Wondo terang-terangan menuduh istrinya sudah berubah. Perempuan itu bisa jadi kembali teringat pacarnya semasa SMA dulu.
“Kapan terakhir istrimu bersikap baik padamu?” tanya Mbak Sari saat istirahat siang. Hampir semua pekerjaan Wondo kacau hari itu. Bukan hanya hari itu, bahkan hampir seminggu ini.
Wondo memijit pelipisnya yang terasa sakit. Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir perempuan itu bersikap baik.
Sore itu di teras. Tentang foto itu! Itu pembicaraan mereka yang terakhir!
“Masa iya, cuma karena foto profil ia jadi berubah seperti itu?” seru Wondo kemudian.
“Maksudnya?” tanya Mbak Sari sambil menajamkan tatapannya.
“Min nggak suka aku gonta-ganti foto profil, Mbak. Masa gitu aja dijadikan masalah!” kata Wondo mencibir.
“Berarti kamu nggak paham perasaan perempuan, Dik,” timpal Mbak Sari lagi, “perempuan itu sensitif, dia lebih mengedepankan perasaan ketimbang nalarnya. Kau tidak mau menyelami jalan pikirannya. Kau hanya merasa itu seru, itu lucu tanpa pernah berfikir apa akibatnya bagi istrimu.”
“Menurutku Min berlebihan! Itu hal sederhana, to? Kok dibikin susah!” jawab Wondo ketus.
“Terserahlah, tapi bisa jadi memang itu masalahnya!” kata Mbak Sari tandas.
Jari runcingnya mengetuk-ngetuk meja di depannya. Matanya menerawang jauh.
Dan malam itu, hasrat Wondo sudah tak bisa lagi ditahan.
Hampir tengah malam perempuan itu masih sibuk di dapur. Pipinya kian ramping, wajahnya tampak semakin tirus.
“Min ...,” Wondo mencoba memeluk tubuh istrinya dari belakang. Itu pun sebenarnya ritual yang biasa mereka lakukan. tapi dulu ....
“Mas!” teriak Ramini kaget. Gelas yang dipegangnya bahkan jatuh dan pecah berderai setelah beradu dengan lantai.
Wondo tak kalah terkejut. Ramini undur beberapa langkah, matanya menatap tajam ke arah Wondo. Mata itu seolah bukan sorot mata yang ia kenal selama ini. Asing, bahkan menatap Wondo penuh dengan curiga.
“Kau kenapa, Min?” tanya Wondo kaget. “Lha aku kan suamimu, to? Apa salah yang aku lakukan?” tanya Wondo bingung.
“Tapi tidak, bagiku!” sahut Ramini ketus.
“Maksudmu?” tanya Wondo makin tak mengerti.
“Mas Wondo sudah memilih untuk menjadi orang lain bagiku,” jawabnya ketus kemudian berlalu. Masuk ke kamar tamu dan menguncinya dari dalam.
Wondo termangu menatap pintu yang terkunci dari dalam. Apa ia harus menyerah pada perempuan keras kepala itu? Apa benar hanya karena foto itu?
Hari itu Wondo benar-benar tidak bisa bekerja. Apa pun yang ia lakukan selalu saja salah.
”Bagaimana mungkin itu hanya karena foto?“ gumamnya berulang-ulang.
“Cobalah ganti foto profilmu, Dik! Hanya itu saranku. Tapi kalau kau tetap berkeras, ya terserah, itu pilihanmu. Bisa jadi rumah tanggamu akan menjadi taruhannya,” kata Mbak Sari saat mereka kembali menikmati makan siang bersama.
Iseng saja sebenarnya, tapi Wondo mencoba mengganti foto profilnya dengan foto dirinya. Meskipun ia tak percaya itu merupakan jawaban dari semua kegelisahannya selama ini.
Hari itu Wondo kembali pulang malam, Ibu masuk rumah sakit lagi. Ia sengaja tidak mengajak Ramini, selain karena pemberitahuannya mendadak, ia tahu Ramini pasti tak menginginkannya.
Malam hari baru ia pulang dari rumah sakit, Ramini berdiri di teras rumah seolah sengaja menunggunya. Dengan senyum menghias bibirnya, ia menyambut Wondo penuh kerinduan. Seolah baru bertemu setelah lama berpisah.
Wondo tak berani berharap. Bisa saja perempuan itu tiba-tiba berubah! Bisa saja ia tiba-tiba berlari menghindar seperti setiap malam yang telah mereka lalui selama ini.
“Mandi air panas saja, Mas. Sudah aku siapkan. Tadi Mbak Sari ngasih tahu kalau Mas Wondo pulangnya malam ngurus ibu yang sakit,” kata Ramini sambil menyerahkan handuk saat Wondo telah selesai berganti baju.
Heran? Tentu saja! Tapi bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Wondo dengan patuh mengikuti apa kemauan istrinya. Meskipun ia tak berani berharap. Tapi memang perempuan itu benar-benar berubah. Mungkin benar, perempuan memang makhluk yang aneh dan kadang sulit di mengerti jalan pikirannya. Labil dan mudah berubah. Ia merasa menemukan kembali istrinya yang manja dan seolah hilang beberapa waktu terakhir.
Juga saat kemudian perempuan itu memilih berbaring di sisinya malam itu.
Wondo masih belum berani berharap lebih. Setidaknya perempuan itu sudah tidak takut pada dirinya lagi.
“Mas ...,” bisik Ramini saat rebah di dadanya, setelah malam itu mereka lalui layaknya suami istri.
“Kemarin kenapa, Min. Kau membuatku takut,” bisik Wondo sambil mengelus punggungnya.
“Aku sering merasa Mas Wondo orang yang di foto itu,” jawab Ramini pelan, santai.
Hegh!!
laki-laki itu terkejut. Namun ia hanya diam, menunggu istrinya melanjutkan bicara.
“Aku merasa takut, Mas. Aku merasa ....”
“Ya?”
“Betapa mengerikan dan menjijikkannya diriku ... berganti-ganti suami. Apalagi saat harus disentuh atau melayani ... aku merasa itu bukan dirimu. Aku ngerti, itu hanya foto ... tapi semakin ingin aku melupakan, pikiran itu makin menguasaiku,” jelas Ramini terpatah-patah, “aku merasa takut dan tak pantas buatmu, Mas.”
Ada lelehan air bening di ujung mata perempuan itu.
Lalu terasa sunyi. Jantung dan aliran darah sejenak terasa terhenti. Jiwa Suwondo serasa melayang, lalu terempas menghadirkan rasa sakit yang mencengkeram dirinya karena penyesalan.
Itu yang selama ini dipikirkan Ramini. Baginya itu sebuah kesenangan, terasa seru, tapi Ramini merasakannya seperti itu. Sedemikian anehkah perasaan perempuan? Kadang-kadang yang pikirkannya jauh di luar nalar.
“Aku merasakannya seperti itu, Mas. Dan aku tak pernah bisa melawan perasaanku. Meskipun aku ngerti, itu hanya foto!” terdengar sesal Ramini yang tertuang dalam tangis. ***

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

LUKA YANG TERLUKA

LUKA YANG TERLUKA

LUKA YANG TERLUKA

Kamar ini tak henti menyuguhkan sunyi
Dimana tempat menuangkan diri pada kesamaran puisi
Atau cercap secangkir kopi?...
Yang pekat merayu pada arti

Aku coba merayu bintang
Di langit yang terbentang
Kisahku kembali terkekang
Dimanakah hati ini akan terbuang?
Di hamparan luas langit tempat Tuhan memelihara gemintang
Aku menujumu penuh rintang
Segala laku jadi luka
Jika kausua aku penuh prasangka
Demi bisa menghayati segala gerakmu
Kuhapus kata yang bermuara di mulutku
Demi segala luka yang menjagaku
Semoga rasa bisa menjagamu sesuntuk waktu
Lukaku kembali terluka
Bersama debu aku bersandiwara
Sabda cinta patahlah sudah
Hanya duka yang membuatku gila


Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

Ujian Cinta

Ujian Cinta

UJIAN CINTA

Dia seperti pedang. Menembus hati dan merayu luka. Seolah mereka begitu mahir mengalahkan ombak. Entah sadar atau tidak, kalau sebuah ikatan terkadang tidak mampu untuk mengembalikan segalanya seperti sediakala.
Dia menitipkan cinta di atas mimpi.
"Aku akan kembali berlayar," kata Taga.
Apakah aku punya hak untuk melarang Taga pergi? Dia bukan siapa-siapa. Kami hanya sepasang kekasih. Dan hal itu bukan berarti aku bisa melarang setiap langkahnya jika itu adalah mimpi.
Mimpinya.
Dan aku hanya bisa mendukung dirinya di tanah kelahiran. Agar ia tahu, ada tempat untuknya pulang. Meski aku tidak tahu, apakah hatinya akan tetap sama.
"Kau harus kembali."
Taga memelukku erat. Rasanya seperti terbang namun jatuh ketika ia melepaskanku. Dia tersenyum.
"Kau harus kembali," ulangku.
"Aku janji."
Dia pergi. Menyisakan kata-kata elegi yang melekat di kedua sudut mata. Jika ombak membawanya pergi untuk berlayar, apakah ia akan kembali untuk sebuah janji?
Jangan memilih pelaut jika tak sanggup setia.
Kalimat itu mengingatkanku pada ucapan Ai dulu.
Taga akan kembali. Aku yakin itu. Dia pasti ingat hari dan tanggal berapa kami akan menikah.
Tiga bulan lagi.
Namun, satu bulan lebih Taga tidak memberiku kabar. Jelas sekali, aku merasa takut. Dia bagian dari tentara yang menjaga perbatasan negeri.
Apa terjadi penyerangan? Apa dia baik-baik saja? Aku sungguh cemas. Takut pada jiwa. Gelisah dan merasa tidak berdaya.
Ketika kau hanya mampu tetap berdiri tegar sambil berdoa. Tidak bisa memikirkan berbagai macam kenyataan atau kemungkinan yang akan terjadi.
"Kau harus kembali."
"Aku janji."
Taga sudah berjanji padaku, batinku menangis.
Waktu semakin cepat berlalu. Tidak ada kabar darinya. Semakin aku memikirkan Taga, rasanya begitu berat. Berbagai macam pertanyaan itu muncul seiring hari pernikahan kami semakin dekat.
Apa Taga tidak mencintaiku? Apakah ia pergi dan meninggalkanku begitu saja. Atau, dia tidak ingin menikah?
Beginikah rasanya menjalin cinta dengan seorang tentara? Aku hanya bisa menunggu dan menunggu, berharap ia akan kembali.
"Tersenyumlah, bukankah sebentar lagi kau akan menikah."
Ai menarikku untuk bangkit dari sofa. Dia begitu ceria untuk seorang gadis mungil.
"Kau harus memilih gaun pengantin. Aku sarankan dengan tiara indah yang panjang, untuk menutupi wajahmu dari Taga."
Aku memberinya seulas senyum.
°°°
Tiga hari lagi.
Wajahku tidak mampu lagi menyembunyikan semua perasaan yang ada. Keluarga Taga juga tidak mendapatkan kabar. Tapi mereka tetap menyakinkanku bahwa putra dan adik mereka akan menepati janjinya.
"Sayang ..."
"Ya?"
"Ada surat dari teman seangkatan Taga. Ini titipan darinya."
Semoga yang aku bayangkan tidak terjadi.
Aku membuka surat itu dengan berbagai rasa. Rindu, takut dan khawatir.
----+++-----
Untuk Shanya ... aku mencintaimu.
Kau masih ada di hatiku paling dalam. Sampai kapanpun itu. Kau percaya? Hanya dirimu.
Aku ingin pulang dan menikah denganmu. Hanya saja, aku tidak layak untukmu. Kami, batalion terdepan mengalami masa-masa sulit di tengah samudra. Ada tiga kapal besar yang menyerang pangkalan di wilayah laut Pasifik.
Shanya ...
Masihkah kau mau menerimaku. Saat wajahku tidak seperti dulu, wajah yang kau kenal kini sangatlah mengerikan. Masihkah kau yakin akan berjalan bersamaku? Saat aku tidak memiliki salah satu tangan yang terbiasa menggenggammu.
Dan aku tidak punya sepasang kaki untuk melangkah.
Aku tidak pantas untukmu. Taga yang kau cintai kini bukan lagi pria yang bisa kau banggakan.
Aku cacat.
Masihkah kau mau menikah denganku?
Lupakan aku, ini demi kebahagiaanmu.
----+++----
"Taga ..."
Aku tidak mampu lagi untuk berdiri. Menangis sejadi-jadinya di hadapan ayah, ibu, sahabat dan saudara. Aku tidak peduli!
"Apa isinya, Nak?"
Ibu mengusap rambutku pelan. Aku memeluk wanita yang telah melahirkanku erat.
Bagaimana bisa?
Bagaimana caranya melupakanmu dalam satu hari. Jika tiap detik aku mencintaimu.
"Aku akan tetap menikah dengan Taga. Tidak peduli apapun yang terjadi padanya."
"Benarkah?"
"Ya!"
Aku begitu mudah marah sampai-sampai membentak orang yang bertanya.
"Aku mencintainya meski wajahnya jelek sekalipun. Aku tetap memilihnya meski tidak memiliki satu tangan dan kedua kaki. Karena dia,"
"Napas," tambah seseorang yang sempat di bentak olehku.
Suara itu?
"Taga?"
Aku melihatnya.
Dia berdiri dan tersenyum hangat. Tidak ada yang kurang padanya. Jadi?
"Maaf, maafkan aku."
"Kaukah ini?"
Bangkit dan meraba wajahnya berkali-kali.
"Ya."
"Aku membencimu!"
"Aku mencintaimu."
Taga membohongiku. Dia mengujiku, apakah aku menganggapnya berarti meski dia tidak sempurna.
Ya, aku tahu. Setiap lelaki punya caranya sendiri untuk melihat ketulusan seseorang.
Dan aku, mencintai Taga karena hatinya. Bukan fisik yang ia miliki.
End

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

Menantu Satu Merek

Menantu Satu Merek

MENANTU SATU MEREK

"Dek, jam berapa kam pulang?"
"Jam dua belas. Mengapa, Bang?"
"Tadi Bang Amur menelpon, katanya kita diundang makan siang ke rumahnya, ngasih makan Pinem."
"Oke. Jemput ya?"
"Oke."
Ngasih makan atau dalam bahasa Karo mbereken man adalah makan bersama keluarga besar untuk merayakan kesehatan orang yang telah tua. Jadi hari ini adalah acara mbere man Pinem, yaitu ibu kandung Bang Amur, sepupu suamiku. Pinem ini adalah kakak kandung ibu suamiku, mertuaku. Dipanggil Pinem karena marga yang dibawanya adalah Pinem. Perempuan tua yang telah menjadi nenek dalam Suku Karo dipanggil sesuai dengan berunya (beru untuk perempuan, marga untuk laki-laki-red).
"Mamak Lena itu agak lain kutengok ya kan?" kakak iparku memulai percakapan, saat kami sudah di mobil menuju rumah Bang Amur.
Entah mengapalah kakak ini ikut menjemputku. Jadi banyak lah ceritanya ini. "mejibang," kataku dalam hati.
"Kasar kali dia kalok bercakap sama Pinem itu." katanya lagi.
"Kasar bagaimana, Kak?" tanya suami heran, "tapi kan menantu pilihan Pinem itu, Kak. Satu merek. Sama-sama Pinem." sambung si Abang senyum-senyum.
"Itulah, untung gak jadilah kau sama dia. Mati berdiri kami kalau jadi kau dulu samamya." mulai ketus suara si kakak ini.
"Padahal kakak Mamak Lena itu cantik ya kan, putih, langsing, rambutnya dicat merah." aku menyela sambil senyum-senyum, "Laah... akhirnya Abang malah dapat adek yang montok." lanjutku.
"Montok itu lebih mantap, Dek, gak perlu pakai tilam yang tebal-tebal kali." terbahak dia saat berbicara. Aku ikutan terbahak sambil membayangkan kasur kami yang super tebal. Bohong aja pakai tilam gak perlu tebal, punggangku sakit.
Sesudah acara makan siang. Anggota keluarga masih duduk-duduk di ruang tamu. Sementara, Pinem sudah duduk santai sambil bercerita ditemani adik-adiknya. Sebagai anak tertua umur Pinem termasuk panjang juga karena dua adiknya sudah pergi terlebih dahulu, mertuaku sebagai anak kedua, dan adik ketiganya.
"Pinem, mana uang-uang yang kemarin dikasih tamu-tamu yang datang?!" terdengar keras suara Mamak Lena tiba-tiba.
Aku yang sedang berada di ruang tengah tertegun mendengar suara keras tiba-tiba itu. Bahkan seisi rumah, tetamu yang masih di rumah, bercerita pun, terdiam seketika.
"Bagus kam simpan uang-uang itu. Berceceran pula nanti. Udah makin pikun Pinem kutengok. Habis pulak nanti uangndu itu." kembali terdengar suara Mamak Lena.
Adalah wajar di sini jika tetamu datang mengunjungi orang yang sakit, pulangnya menyalamkan uang. Namun, alangkah baiknya kalau Mamak Lena bertanya lembut kepada mertuanya, orang tua renta yang semua hartanya bahkan sudah berpindah tangan ke anak laki-laki satu-satunya, Bapak Lena. Juga akan sangat menyenangkan melihatnya apabila menantunya yang cantik itu bertanya nanti setelah para tamu pulang.
Tiba-tiba ada air mata jatuh di sudut mataku, dan di sudut hati berkata, semoga nanti kalau sudah serenta itu, aku tetap mendengar kalimat-kalimat lembut.

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

WANITA LAIN SUAMIKU PART 2

WANITA LAIN SUAMIKU PART 2

WANITA LAIN SUAMIKU PART 2

Sesampai di rumah aku langsung masuk kamar dan melemparkan diri ke ranjang. Air mataku tumpah, hati ini sakit. Orang yang aku cintai begitu tega menikam hatiku. Aku melempar semua bantal lalu beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuknya. Aku harus kuat, harus tegar menghadapi semua ini. Aku mulai menghapus semua sisa lelehan air mataku dan fokus memasak makanan kesukaannya.
"Kamu masak apa hari ini?" Tiba-tiba suara bariton miliknya mengejutkanku.
Aku menatapnya sekilas. "Makanan kesukaanmu, kamu mandi dulu dan ganti pakaian sana!" Ujarku padanya. Dia pun berlalu meninggalkanku. Aku berharap dia tidak sadar dengan mata sembabku.
***
Setelah semua terhidang di meja makan tak lama dia pun muncul. "Kamu ngapain aja di rumah? Kamar berantakan kayak kapal pecah." Ujarnya padaku. Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya. 'Kamu tuh yang bilang kerja malah jalan-jalan sama cewek dan anak kecil' rintihku dalam hati.
Kami pun makan dengan lahap tapi, entah kenapa air mataku tiba-tiba jatuh. Aku benci suasana seperti ini. Aku sadar dari dulu akulah yang lebih mencintainya. Aku yang mengejarnya, aku juga yang setiap hari mengatakan kata-kata cinta untuknya. Aku yang berusaha keras agar dia mencintaiku. Aku berusaha mendapatkan hatinya hingga dia jatuh cinta kepadaku dan memintaku menjadi isterinya.
"Apa kamu masih mencintaiku?" Tanyaku padanya untuk memecah keheningan diantara kami. Dia menatapku lalu menelan makanannya. "Jangan mulai lagi, ini dunia nyata. Kamu terlalu banyak berdrama." Aku terhenyak mendengar jawabannya. "Kalau kamu bosan, dan sudah tak mencintaiku lagi, ceraikan aku!" Ucapku bergetar. Dia berhenti menyuap makanannya lalu berdiri, menatapku penuh emosi. "Kamu benar-benar tidak berubah dari dulu. Kamu pikir pernikahan itu permainan sampai kamu dengan mudah bilang cerai. Kamu benar-benar kekanakan." Dia pun berlalu meninggalkanku. Aku hanya menatap punggungnya yang kian menjauh. "Aku membencimu Mas!" Teriakku padanya. Aku pun melempar piring hingga pecah. Tak puas dengan itu aku melempar gelas yang bernasib sama dengan piring. Tapi, tetap saja dia tidak muncul.
***
Hari ini dia berangkat kerja tanpa sarapan, tanpa pamit. Aku pun membuatkan makanan kesukaan dia dan mengantarkan ke tempat kerjanya.
Aku kembali kecewa saat aku mencarinya ternyata dia tengah asyik bercengkrama di taman rumah sakit dengan gadis kecil yang aku lihat kemarin, wanita muda itu pun ada disana. Mereka tertawa bahagia seperti sebuah keluarga. Aku mendekat kearah mereka dan bersembunyi dibalik pohon. Aku mendengar percakapan mereka dengan jelas.
"Papa, besok kita jalan-jalan lagi yah sama Mama." Ucap gadis kecil itu.
"Iya sayang, besok kita jalan-jalan lagi sama Mama setelah kamu dioperasi." Jawab suamiku. Wanita muda itu hanya tersenyum menatap suamiku.
'Papa' dia memanggil suamiku dengan sebutan itu. Aku lemas dan benar-benar tidak percaya dengan pendengaran ku. Aku salah dengarkan? Anak yang kemungkinan masih berusia 5 tahun itu memanggil suamiku Papa. Bukankah kami saling mengenal 4 tahun sebelum menikah. Dia juga tidak pernah menikah sebelumnya. Apakah suamiku menikah diam-diam sebelum menikah denganku? Apa anak itu hasil hubungan gelapnya dan baru muncul sekarang? Ribuan tanya bertebaran di kepalaku.
Aku menjatuhkan rantang yang kubawa
Kakiku benar-benar lemas, aku pun menjatuhkan diri. Air mataku mengalir deras, hati ini kembali berdenyut nyeri. Sakit sekali, sangat sakit. Aku memegangi dadaku yang terasa sesak. Aku terus saja menangis dan hujan tiba-tiba turun menyapa bumi. Mungkin hujan tahu aku berduka. Aku sudah tak memperdulikan apapun lagi. Semua orang berlari mencari tempat berteduh. Hanya aku yang diam membiarkan hujan menghapus lukaku. Aku menatap ke langit berharap ini mimpi. Aku mencubit lenganku. 'Sakit', jadi ini bukan mimpi tapi nyata. Aku berharap tidak ada yang melihat ku seperti ini.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tiba-tiba seseorang datang lalu memayungiku. Aku menatap sosok yang berdiri di hadapanku ini. Dia mengulurkan tangannya dan dengan ragu aku meraih tangannya.
***
Bersambung

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

WANITA LAIN SUAMIKU PART 1


WANITA LAIN SUAMIKU

WANITA LAIN SUAMIKU

Melihat sekeliling rumah begitu sepi. Tak ada suara apapun mungkin hanya deru nafasku saja. Aku kembali melihat layar 5 inci yang ada di depanku. Tak ada balasan chat. Padahal aku sudah mengiriminya hampir 100 pesan tapi tak satu pun yang di balas. Uhh dibaca pun tidak. Aku pun melemparkan layar 5 inci itu dengan kasar ke sofa. Aku beranjak ke dapur untuk membuat sup ayam kesukaan suamiku. Iya suami yang mungkin lupa dimana rumahnya.
Setelah selesai di dapur aku kembali mengambil ponsel yang aku lempar tadi. Ada notif pesan dari dia. Aku pun membacanya dengan gesit.
[Aku sibuk]
Hanya itu balasannya? Aku mengirimi pesan 100 kali sedangkan dibalas cuma begitu? Ckckck apa dia sehat? Aku kembali melempar ponsel dan membanting diri di sofa. Dia tidak pernah berubah, rasanya sesak diperlakukan seperti ini.
***
"Mas, kapan sih kamu punya waktu buat aku?" Tanyaku padanya. Dia sibuk membaca tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya. "Jangan mulai berdrama lagi. Kamu nggak lihat banyak sekali pekerjaan di hadapan ku?" Ucapnya ketus tanpa menatap kearahku. "Satu lagi, kamu kebiasaan dari dulu saat aku nggak balas chat kamu, kamu terus saja menerorku dengan ribuan chat bodohmu itu. Kamu pikir aku ngapain? Duduk manis pegang hp saja di rumah sakit? Pakai otakmu. Aku kerja, kamu paham apa arti kerja?" Ucapnya kasar padaku dan kali ini dia menatapku tajam "Aku kangen kamu. Apa aku wanita yang kamu butuhkan hanya saat mau membuang sperma mu saja? Aku ini isterimu." Teriakku padanya sembari berlalu meninggalkannya.
***
Setelah pertengkaran itu aku tidak pernah berbicara dengannya. Bahkan dia juga tidak berusaha memulai pembicaraan, dia tidak pernah meminta maaf padaku. "Dasar egois!". Aku pun dikagetkan dengan dering dari ponselku. Aku melihat nama yang tertera dilayarnya, nama suamiku tapi aku tidak menjawab agar dia merasakan rasanya diabaikan. Aku pun bersiap-siap untuk ke salon dan belanja hari ini. Untuk pertama kali aku tidak meminta izin padanya untuk keluar rumah karena aku masih sangat dongkol padanya.
***
Di depan Mall aku melihat suamiku dengan seorang anak dan wanita muda. Aku mencoba menyangkal apa yang aku lihat tapi semakin aku memperhatikannya semakin aku menyadari itu suamiku. Lalu siapa anak kecil dan wanita itu? Apa suamiku punya hubungan gelap? Tidak, membayangkannya pun aku tak sanggup. Kakiku rasanya lemas, aku berusaha menenangkan diri dan mengatur nafasku. Aku kembali memperhatikan mereka. Tampak mereka masuk ke mobil suamiku. Air mata tiba-tiba berjatuhan tanpa aba-aba. Sakit sekali melihat orang yang ku cintai bersikap cuek padaku tapi tersenyum manis bersama wanita lain. Katanya dia sibuk bahkan tak punya waktu untukku tapi untuk orang lain dia punya waktu dan mengajaknya jalan-jalan. "Aku membencimu suamiku". Aku pun masuk mobil dan menghempaskan pintu mobil dengan kasar. Aku tancap gas dan mulai menggila dan memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Air mataku tak bisa diajak kompromi, jatuh tanpa aba-aba.
Bersambung

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

SUNNY MENIKAHI MATAHARI

SUNNY MENIKAHI MATAHARI

SUNNY MENIKAHI MATAHARI

Positif. Menjadi mahasiswa baru sebuah universitas ternama di ibukota akan jadi alibi yang tepat untuk menghindari semua rasa sakit. Kartu undangan bermotif daun momiji warna gold-silver itu masih teronggok di atas CPU komputerku, belum kubuka sama sekali sejak kedatangannya sepekan kemarin. Aku tahu hari sakral mereka semakin dekat. Dan mengetahuinya semakin terasa sakit di sini.
Kalau ada waktu yang hilang, itu adalah waktu-waktu ketika aku tak lagi ingin mengingatnya. Ketika kupilihkan satu jalan pintas untuk memblokade semua komunikasi. Aku akan pergi. Sejauh yang kubisa. Menghilang tanpa perlu meninggalkan sepucuk pesan bahkan pesan kematian.
Namun di kala semua terasa begitu nyata, lagi-lagi gambar wajahnya yang pertama melintas. Seperti paras matahari. Aku membencinya setengah mati. Sungguh-sungguh membenci ketika mataku saja tak bisa menangkap lekuk kemilaunya.
Ingin rasanya menjadi batu. Cepat tenggelam di kolam yang dalam. Berharap jasadku tak ditemukan orang-orang, lalu kenangan tentangku tinggal nama.
Kalau saja aku boleh bermimpi sekali lagi, aku ingin bermimpi dipertemukannya. Sekali saja dipertemukan dengan matahariku. Kemudian aku akan membencinya sampai mataku tak dapat melihatnya. Sampai mati.
Tapi mengapa mataku tak mau terpejam? Atau akukah yang terlalu takut menghadapi gelapnya rasa cemburu? Haruskah kulakukan sesuatu?
***
Siapa perempuan paling bodoh sepagian itu? Aku. Si gadis berkaca mata yang terdiam menatap bayangan legam pepohonan pinus jatuh di permukaan air. Saat akhirnya dia datang melempar kerikil dan airnya beriak. Terkesiap. Menyadari keberadaan kami di suatu tempat yang tak asing. Di mana sepasang sepeda kumbang bersandar pada salah satu pohon pinus yang menjulang di muka danau.
Nama laki-laki itu Abraham. Orang-orang desa memanggilnya Raham tersebab kulitnya yang putih seperti gigi turis-turis asing di Derawan.
“Sunny, kamu pernah membayangkannya?” tanyanya suatu hari.
“Ngebayangin apa?”
“Dua puluh, lima puluh tahun lagi, apakah kita masih akan bermain di sini?” Matanya yang biru topaz tampak nanar.
Aku malah membuang tawa pada hamparan bening yang diterpa sepoi-sepoi angin selatan. Airnya berombak ke tepian membentur daratan tempat kami berdiri. Tempat kami saling mengulas cerita yang berlalu.
“Lima puluh tahun lagi? Kamu sendiri sudah tujuh puluh saat itu. Kamu pikir di usia segitu aku masih tahan kena angin seperti ini, hah? Aku bisa mati menggigil kalau kamu minta aku berenang buat ngambil sendalmu yang hanyut,” jawabku.
Andai saja kepingan daun semanggi berdaun empat itu milikku. Benar. Isi kepalaku pasti terlalu pongah dan tak menyadari ada kalimat perpisahan yang menggebu-gebu darinya.
“Ingat ya, sendalmu hanyut itu karena ulahmu sendiri,” tambahku.
“Tapi kamu janji. Mau, kan?” tangannya terulur meraih kepalan kananku. Aku tak pernah menolak kemana pun dia mengajakku pergi. Sejauh jangkauanku, kalau pun dia hendak memintaku menyelam mengambilkan kerang di dasar danau, aku mau.
Untuk pertama kalinya aku dengan keberanian terbesarku, mengalahkan segala penghalang, juga menyingkap tabir yang menjeda matanya dan mataku. Aku terpaku akan permintaannya yang tak terduga.
“Oke, oke, aku setuju nggak akan minta bantuan kamu buat ngambil sendalku yang hanyut. Tapi kamu yang jaga anakku dan Tania. Setuju?”
Aku seharusnya ingat. Bahwa bukan akulah satu-satunya perempuan yang pernah dia bawa mengunjungi danau kami. Raham, Tania, dan aku, terhitung sudah lima belas tahun menghabiskan waktu dan bersahabat.
Tanyakan saja pada danau yang bersaksi. Atau pada burung-burung camar yang mengintip dari pucuk-pucuk pinus di ketinggian. Tentang perburuan daun semanggi, tentang siang dan malam yang kami lalui atas nama persahabatan. Tentang ikatan yang aku sendiri tak mengerti benar apakah ini murni persahabatan. Dan aku tak pernah tahu bagaimana perasaan sahabatku. Perasaan Raham padaku.
Sisa-sisa kesadaranku hanyut dalam hitungan detik. Kepalan tanganku ditariknya mendekat, dipaksa memelukkan luka pada lautan garam yang luas. Di telingaku kata-kata saktinya mengalir bak hembusan beliung raksasa.
“Sunny. Mataharinya Raham. Kamu setuju, kan?”
Apakah aku hancur? Berkeping-keping.
“Aku bukan mataharimu, Raham.” Seberapa pun dalamnya palung lautanmu, kumohon, benamkan aku di dalamnya. Biar luruh penyesalanku.
Detik berikutnya dia ingin menatapku. “Sunny. Kamu nangis ya?”
“Aku bahagia, bodoh!” kilahku dengan isakan yang bersembunyi di bahunya.
***
Tidak banyak yang kubawa, hanya satu koper, satu tas travel, dan tas punggung mungil senada sneakersku. Aku mengemasi semuanya sendiri. Pakaian, perlengkapan mandi, beberapa dokumen penting, juga uang dari papa untuk dua bulan kedepan. Dengan beasiswa, semua itu lebih dari cukup.
Di halaman depan rumah, mama melepasku dengan drama yang dibuatnya berlebihan. Aku berpikir demikian karena bukan tipikal mama yang menangis untukku. Setidaknya secara jujur dan terus terang menunjukkan perhatian itu. Tapi aku luluh juga dengan mengecup sebelah pipinya. Dalam hati aku bicara pada diriku sendiri, sepertinya akan membutuhkan waktu lebih dari empat tahun agar kenangan tempat ini terlucuti satu-satu dari kepalaku.
Tania juga di sana. Memberi pelukannya seperti yang sudah-sudah. Seperti kakak kepada adik kecilnya. Hanya saja rasa itu tak lagi sama, tak lagi seperti bertahun-tahun kemarin. Akulah yang membuatnya berjarak. Memagari kehidupanku dari campur tangannya. Sudah seharusnya seperti itu.
Aku dengar papa mengoceh tentang Tania saat membuka pintu mobil. Tentang kepergianku menjelang hari bahagianya. Dengan tulus papa bersimpati akan kabar yang baru diketahui orang rumahku semalam. Bahwa Tania sempat bertengkar dengan Raham dan hampir membatalkan semua persiapan yang tinggal final. Aku tak terkejut dengan informasi papa.
Bahkan aku tahu persis kronologinya.
Dua minggu lalu, Tania pergi ke suatu pasar kain di kota. Aku diminta menemaninya memilih warna yang serasi dengan tema desain dan dekorasi, untuk meja prasmanan. Pihak wedding organizer sebenarnya sudah melakukan sentuhan akhir dengan menyelaraskan warna serta motif pakaian pagar ayu dan pagar bagusnya, juga soal taplak meja yang ditolak. Bahkan penanggungjawab catering sudah tiga kali memastikan selera si empunya hajatan tetap jadi prioritas. Termasuk manajer band lokal yang didapuk mengiringi meriahnya pesta resepsi yang kelak terselenggara, juga sudah minta uang muka.
Masalahnya, Tania tidak pernah di beri tahu oleh Raham, menyoal siapa master of ceremony yang dia tunjuk untuk melengkapi jalannya acara. Aku juga tidak begitu peduli benar. Mereka mengurusi semuanya berdua, keluarga turut serta tentu saja.
Tapi sikap kekanakan Tanialah yang mengganggu Raham, aku pikir begitu. Perempuan bergaya vintage itu mulai menurunkan tensitas kepercayaannya pada lelaki yang mulai tumbuh jambang belakangan hari ini. Dia menyelidiki bak Kasatreskrim mengintrogasi petahana kepergok berbuat mesum di belakang meja kantornya. Terlalu berlebihanlah.
Kemudian Raham mengajakku pulang. Alih-alih memperpanjang keributan dia justru membawaku ke satu angkringan, minum wedang. Puncaknya, malam itu juga Tania mengirim pesan teror kepada kekasihnya usai curhat denganku. Berupa ancaman, minta Raham melakukan sumpah kejujuran, atau tidak ada pernikahan.
Raham galau, dia sambangilah kekasihnya. Keributan pun tak terhindarkan. "Kreeeekkk!!" Tania merobek gaun putih yang masih terbungkus plastik dari butik. Kalau tak salah, itulah gaun yang akan ia kenakan pada saat akad nanti. Aku peluk saja Tania. Raham kehabisan kata-kata, pulang ke rumahnya dengan hati bercampur aduk.

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

Minggu, 25 Maret 2018

WAKTU TAK PERNAH LUPA

WAKTU TAK PERNAH LUPA

WAKTU TAK PERNAH LUPA

Cinta adalah ingatan terbaik. Kau melintasi beberapa periode waktu, dimensi dan bahkan reinkarnasi tak akan membunuh bayangannya. Jika aku menyebut cinta sebagai kesucian, murni dan tak terjamah, maka itulah yang kurasakan setiap kali seluruh perhatianku teralih ke satu titik, yaitu dirinya.
Pada hari ini ia bercukur seraya menyenandungkan lagu Traümer. Pria itu melakukannya dengan gerakan melingkar yang terorganisir. Sebagaimana ia menjalani hidup seperti rotasi jarum jam, memastikan surat kabar dilipat dengan benar, kursi makan tidak bergeser sedikit lebih jauh beberapa derajat, bahkan sepatu tidur harus berwarna merah pada Senin dan hijau pada Sabtu.
Penyimpangan sekecil apapun dari ritual itu akan mengusiknya. Lebih hebat dari reaksi marahnya saat Bayern München tak berhasil meraih kemenangan dalam Bundesliga.
Ini waktu tepat untuk memberitahunya bahwa kemarin adalah hari ulang tahunku. Sebaiknya ia memikirkan sebuah kado istimewa untukku, paling tidak untuk beberapa tahun yang terlewatkan. Mungkin lebih tepatnya, sengaja dilewatkan, atau Tuhan memang sedang menghukumku saat itu.
Akan tetapi, waktu-waktu yang hilang tak akan pernah kembali untukmu. Kau hanya perlu menebus rasa kehilangan akan itu.
"Ada sesuatu yang ingin kaukatakan, Chriselda?" Ia mencuci pisau cukur dengan air hangat, menggosok-gosoknya seakan benda itu baru saja terbenam dalam kubangan lumpur.
"Sebenarnya pertanyaan itu lebih pantas kuajukan padamu."
Masih dengan suara setengah terbenam di antara handuk yang menggosok wajah, ia berkomentar, "Kau tahu aku sama sekali tidak menyukai rahasia. Sekecil apapun itu."
Aku mencoba percaya tak akan ada hal yang lebih buruk terjadi di antara kami. Percuma saja, gerutuku dalam hati. Alih-alih mengharapkan atmosfer yang lebih baik, ia bahkan tak pernah benar-benar yakin apa yang kuinginkan. Juga perubahan pada diriku yang seharusnya mendapatkan lebih banyak perhatian. Ia hanya sebongkah batu.
Ya, itulah pria yang kaucintai sepenuh hati, Chriselda.
"Bukankah kita sudah memainkannya selama bertahun-tahun???" seruku garang.
Sama sekali bukan sifatnya untuk memaafkan intimidasi itu begitu saja. Ia menatapku seperti burung hantu, hanya saja bedanya burung hantu ini memiliki taring yang akan siap mengoyak tubuhku.
"Mengapa kau tak mengatakan apapun?" tuntutku, merasa di atas angin saat menyadari ia hanya melemparkan handuk dengan marah, melenggang pergi, bersikap seolah tak ada yang terjadi.
Ia menuangkan sereal ke dalam mangkuk, menarik kursi makan. Duduk di sana sambil membuka kotak susu dengan marah. Aku tersenyum senang, menyadari bagaimana sekuat apapun ia mencoba menyangkal kekalahan itu, tetap tak dapat mencegahnya dari melakukan hal di luar idealisme. Ia tak pernah makan dengan pakaian tak lengkap seperti saat ini.
"Terserah padamu jika ingin bergabung denganku di meja makan ini atau tidak." Ia bersungut sambil menyuap beberapa sendok sereal sekaligus.
Ia marah, mungkin sangat marah. Namun tetap berusaha menjaga logika di atas emosinya.
"Kita harus bicara."
Aku berjalan menghampirinya dengan tangan terlipat di dada. Gaya menghakimi yang aku tahu sangat dibencinya dan dipandang sebagai sebuah kecongkakan dan dominasi.
"Bukankah kita sedang melakukannya?"
"Kemarin hari ulang tahunku. Tidakkah itu berarti sesuatu bagimu?" Suaraku melunak, sadar sepenuhnya bahwa mengkonfrontasi pria itu saat ini bukan hal benar untuk dilakukan.
Tangannya menggantung sendok di ujung bibir. Ia memikirkan ucapanku, lalu sedikit terhibur menyadari bagaimana polemik di antara kami tidak harus setajam reaksi yang kutunjukkan.
"Jadi kau ingin hadiah?" Ia memutar kepala, tersenyum padaku. Kehangatan senyum itu ... saat ini aku bahkan rela mati untuknya.
"Aku berhak untuk itu, bukan?"
Kubalas senyuman itu sambil menempelkan tanganku ke atas punggung tangannya yang berbulu. Ia terkesima saat aku mengusapnya lembut.
"Chriselda, kita akan membicarakan hal itu besok. Aku sedang merasa kurang sehat." Ia menarik tangannya dengan gusar.
"Aku hanya ingin satu hari berada di luar!"
Ia menghentikan langkah, melihat melampaui punggungnya, lalu menjawab dingin, "Keinginanmu sungguh tidak masuk akal."
Jadi ia ingin bermain-main denganku. Tentu saja! Bukankah selama ini kami telah memainkan permainan yang sama selama bertahun-tahun?
"Sebaliknya, aku tidak pernah merasa sewaras ini."
"Kau sadar konsekuensi dari ucapanmu itu?" Akhirnya ia benar-benar berbalik menghadapku. Wajahnya semakin berwarna merah muda. "Dan kau tak pernah mempermasalahkan ini sebelumnya. Kau bahagia tinggal di sini."
"Itu karena aku ketakutan, Ludwig."
Dan saat mengucapkannya, aku merasakan sensasi dingin yang hampir kulupakan selama bertahun-tahun kembali menyelimuti tubuh ini.
Ia menatapku dalam pandangan yang sulit kutafsirkan. Ada rasa marah, namun juga bisa kulihat kebingungan dan rasa bersalah di sana.
"Kau tak pernah menyerah rupanya. Kupikir setelah semua yang kulakukan selama ini ..."
"Aku tahu kau telah begitu baik padaku. Tapi itu semua tidak cukup."
Ia menghempaskan tubuh pada sofa, menyadari seberapa banyak perubahanku, melepaskan dirinya dalam kekalutan hebat. Hal ini selalu berakhir dengan otot-otot wajah yang menegang, lalu keinginan seperti akan mencabut rambut-rambut itu dari akarnya.
"Inikah yang kauinginkan? Menikmati kebebasanmu?"
Aku tak akan pernah sanggup menatap kesedihan di wajah Ludwig. Mungkin seharusnya aku sudah membenci pria itu sejak bertahun-tahun lalu. Tetapi bahkan dengan segala kenangan akan awal pertemuan kami yang sedemikian buruk, tetap tak menjadi alasan yang cukup bagiku untuk menganggapnya sebagai musuh.
Aku terlalu mencintainya sehingga napasku menjadi sesak setiap kali ia berpaling dariku.
"Itu memang tidak akan terdengar adil bagi kita," jawabku, mengambil posisi duduk di sampingnya selayaknya seorang kekasih yang bersedia menyerap segala rasa sakit pasangannya.
"Kau tidak bersalah, Chriselda. Aku tak akan menyangkalnya kali ini."
Mein Gott! Ia begitu rapuh dan aku hanya ingin mendekapnya, meyakinkan segalanya akan baik-baik saja, seperti yang dulu selalu dilakukannya untukku.
"Aku merasa bahagia bersamamu."
Kudekatkan wajah pria itu ke arahku, merasakan hangat bibir dan lidahnya. Seperti mimpi yang menjadi nyata saat tangan kokohnya melingkari leherku.
Satu menit, dua menit ...
Hasratku seketika harus terbunuh saat ia menarik wajah dan tubuhnya menjauh. Ekspresi pria tersebut seperti baru saja menemukan kenyataan bahwa peluru yang dilepaskan untuk menembak kijang justeru berakhir di dada seseorang.
"Ada apa? Kau tidak menikmatinya?" tanyaku dengan nada tersinggung.
"Ini sama sekali tidak benar," jawabnya dengan suara bergetar. Aku tahu saat ini ia sedang mencoba melawan keinginannya.
"Kita saling mencintai."
Ia berdiri, mengatur jarak yang cukup aman dariku, lalu menjawab, "Mustahil! Kau adalah puteriku, Chriselda!"
Aku hanya bisa memandangi tubuh setengah bungkuknya yang menjauh dengan perasaan hancur. Di mana kenangan masa kecil itu masih sekokoh prasasti. Ia tidak ikut pecah bersama hatiku, melainkan melesat mundur pada sebuah momen. Titik balik dari seluruh kerumitan ini.
Saat di suatu sore ia merenggutku dari bus sekolah sebelas tahun silam. Mendandani dan mengganti namaku seperti puteri tujuh tahunnya yang hilang. Ia memberikan cinta dan segala yang kubutuhkan saat itu. Sesuatu yang telah lama hilang dari Muter dan Vater. Hak yang tak pernah kumiliki. Dan aku hanya perlu menukarnya dengan waktu.
Kami masih dua orang asing yang sama. Hanya saja, waktu mengubah perasaan dan banyak hal.

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

Popular Post

Laman