ISTRIKU IBU TIRIKU
Aku melihat seorang gadis cantik yang selama ini kuidam-idamkan.Yang menjadi obsesiku untuk menjadi istriku kelak. Gadis berkulit putih. Berambut panjang seperti Titi Kamal. Memiliki mata sayu seperti Nike Ardilla. Bibirnya seseksi Anggelina Jolie. Tapi jangan terlalu lebar. Memiliki betis seindah Mariah Carrey. Dan memiliki gigi putih seindah gigi Britney Spears.
Pagi ini aku telah menemukannya. Gadis itu benar-benar nyata di depan mataku. Kami bertemu di halte, manakala menunggu hujan reda.Ingin sekali aku mendekatinya. Tapi aku terhalang oleh orang-orang yang juga sama-sama berteduh di halte. Sial…..
Aku memberikan sepetik senyuman maut untuknya. Kata teman-teman sih, senyumanku bisa menggetarkan setiap wanita. Bahkan nenek-nenek juga bakalan keblinger jika melihat senyumanku. Hehehe … masa sih?
"Salut men. Bu Tutik, dosen terkiller aja sampe salting gitu. Sol sepatunya sampe patah gara-gara kepleset setelah lu hadiahin senyuman maut lu itu. Gile benerrr....." Indra menepuk-nepuk pundakku.
Aku hanya tersenyum di dalam hati mengingat-ingat kejadian itu. Masa sih senyuman-ku ini bisa sedahsyat itu? Aku menuju cermin. Menatap ketampananku, warisan bokapku. Kata nyokap, aku dan bokap begitu mirip. Mendekati sempurna sakin miripnya. Apa iya?
"Mas, bisa pinjam handphonenya? Maaf, hp saya lagi low-bat!" Gadis idaman-ku menghampiriku. Aku begitu mengagumi kecantikannya. Bidadari dari surga.
"Hello....," gadis itu menggoyang-goyang tangannya di mataku. Aku terkesiap.
"Eh … ya? Ada apa Mbak?" Aku gelagapan.Grogi, gilak.....
"Boleh saya pinjam HP Mas? Penting banget. Hp saya low-bat." Gadis itu meninggikan suaranya.
Karena hujan begitu deras, sehingga tidak kedengaran suaranya.
"Oh … silakan!" Aku memberikan HP-ku kepadanya, "hati-hati ada petir, Mbak!" basa-basiku.
Semenjak hari itu, kami mulai akrab. Dan saling memberi nomor handphone. Namanya Alda. Wuiiih, persis nama artis almarhumah Alda. Semoga saja nasibnya tidak seperti Alda.
Benih-benih cinta mulai mengisi ruang hati kami. Alda pun menerima cintaku. Aku bahagia sekali. Namun aku belum bisa memutuskan untuk segera menikahinya. Di samping kami masih sama-sama muda. Statusku pun masih mahasiswa. Tentu saja hal ini sangat tidak relevan untuk membahas tentang perkawinan. Aku sendiri masih bergantung kepada orang tua.
Alda memang telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit, sebagai sekretaris. Tentu saja aku masih minder karena Alda lebih sukses dibandingkan aku yang hanya mengharapkan uluran tangan orang tua. Bahkan untuk makan atau nonton pun, keseringan Alda yang teraktirin aku. Aku takut dicap sebagai cowok matre.
Malam ini aku dan Alda menghabiskan waktu bersama di rumah kontrakannya. Meskipun hanya sebuah rumah kontrakan, tapi menurutku rumah ini terlalu besar untuk ukuran seorang Alda. Tidak ada seorang pembantu pun. Bagaimana bisa ia mengerjakan semua pekerjaan rumahnya dengan rumah yang sebesar ini? Jika kubanding-bandingkan dengan mantan pacarku Emi, bisa pingsan seumur hidup dia jika harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Hehehe ... Alda benar-benar gadis yang luar biasa. So beautiful. I like it's.
"Brams, aku ingin kita meresmikan hubungan kita sesegera mungkin!" Aku terbatuk-batuk mendengar Alda berbicara seperti itu.
"Maksudmu, kawin?" aku menelan ludah. "Aku rasa kita terlalu tergesa-gesa. Kau kan tau aku masih kuliah. Paling tahun depan aku baru kelar. Terus aku belum ada pekerjaan. Gimana bisa aku membiayai istriku. Tunggulah sampai aku benar-benar siap. Aku sangat mencintai kamu. Dan sangat menginginkan kamu. Kamu adalah ratu di hatiku dan pelabuhan terakhirku,"aku mencoba meyakinkan Alda.
"Tapi aku ingin segera kita menikah Brams! Aku kan memiliki pekerjaan. Jadi kamu fokus aja dengan kuliah-mu! Aku tak ingin sendirian di rumah ini. Dan aku tak ingin anak kita lahir tanpa seorang ayah, "Alda meletakkan tanganku di perutnya. Aku bagai tersengat listrik.
"Apa? Kau … kau hamil?" Aku panik. Bagaimana mungkin? Padahal kami baru melakukannya satu kali saja. Itu pun karena Alda yang memulai. Lantas , gimana tanggapan nyokap dan bokap jika mereka tahu? Aku benar-benar seorang anak lelaki yang telah mencoreng nama besar keluarga. Tamatlah riwayat-ku sudah. Tapi aku juga tidak ingin anakku lahir tidak memiliki seorang ayah. Betapa bajingan-nya aku. Oh Tuhan, aku mencintai Alda. Tapi aku juga tidak ingin mengecewakan keluargaku. Bagaimana ini?
"Sayang, aku tau. Mungkin ini sangat mengagetkan buat kamu. Aku juga tidak ingin membuat kamu dilema," Alda merubah posisi duduknya. Dan kembali menatapku dengan serius.
"Gimana kalau kita menikah siri saja? Gampangkan? Kamu gak perlu memberi tau keluarga kamu. Cukup kita berdua saja yang tau. Dan penghulu yang menikah-kan kita. Beres kan?" Alda menggelayut manja di pundakku. Dan mulai melakukan penyerangan-penyerangan panas di bibirku. Aku tak diberi kesempatan untuk berpikir. Tangannya mulai mempreteli kancing-kancing bajuku. Dan aku pun tak kuasa untuk menolaknya. Kini aku yang berbalik untuk melumat bibirnya sedalam-dalamnya. Alda menarik tubuhku hingga kami pun terjatuh.
Hari ini kami telah resmi sebagai suami istri. Mekipun hanya menikah siri. Seperti orang yang melakukan poligami saja. Meskipun aku seorang pria, tapi aku paling anti poligami. Aku tidak ingin nyokap, kakak perempuan dan adik perempuan-ku mengalami hal semacam itu. Hemmm, akan aku hajar laki-laki yang berani menyakiti mereka. Termasuk bokapku sendiri jika memang terbukti telah melakukan poligami. Aku semakin ngelantur saja.
Meskipun kami telah menikah, namun kami tidak tinggal serumah. Dengan alasan supaya keluargaku dan keluarga Alda tidak ada yang curiga. Begitu alasan Alda. Bagaimana pun kami tidak ingin mereka kecewa. Aneh, waktu itu ia memintaku untuk segera menikahinya agar ia tidak kesepian di rumah. Setelah menikah, ia memberi alasan yang lain lagi. Pusing aku. Sebenarnya aku pun tidak keberatan. Karena aku juga ingin fokus dengan kuliahku dulu. Tapi aku masih menyimpan segudang tanda tanya besar dengan sikap Alda.
Kami menghabiskan malam bersama di setiap weekend saja. Tapi jika kami sama-sama rindu, maka terkadang kami menghabiskan malam di kosanku. Kebetulan teman-teman kos-ku sudah pada tau kalau aku sudah menikah siri dengan Alda. Mereka pun hanya bisa menggoda ku jika melihatku pagi-pagi sudah keramas.
"Gimana Brams, enak ya?" goda Edo. Aku hanya cengingisan. Pikiran mereka sudah pada jorok jika melihat Alda menginap di kosan. Busyet.
Akhir-akhir ini sikap Alda agak aneh. Aku dilarang pulang ke rumahnya selama 2 minggu ini. Dengan alasan karena keluarganya pada ngumpul di rumah kontrakannya. Ia hanya mampir ke kosanku jika ingin menuntaskan kebutuhan batinnya.
HP Alda berdering. Kebetulan Alda sedang mandi. Terpaksa aku angkat. Sebuah nomor dengan inisial 'S'. Siapa 'S' ini? Kenapa mesti hanya sekedar inisial. Kenapa bukan nama yang tertera di HP Alda? Pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi isi kepalaku.
"Sayang, kenapa lama sekali diangkat? Bapak sudah tidak tahan lagi nih. Cepat pulang ya, Sayang!" telepon selular itu kututup sebelum lelaki biadap itu berkiwar-kiwir, membuatku ingin menelannya bulat-bulat.
Sialan! Siapa laki-laki ini? Ada hubungan apa antara istriku dengan laki-laki itu? Kenapa laki-laki itu ada di rumah Alda? Aku mulai curiga. Aku harus menyelidiki ini. Gerahamku gemerutuk. Aku tak kuat untuk menahan cemburu dan amarah di hatiku. HP Alda ku kembalikan ke tempatnya semula, supaya Alda tidak curiga kepadaku. Aku berusaha untuk tenang dan berpikiran positif tentang Alda.
"Brams, mungkin 2 hari ini aku keluar kota. Karena Direkturku ada pekerjaan di luar kota. Dan aku harus mendampinginya."
"Oh....," hanya itu yang bisa ku ucapkan. Tenggorokanku terasa tersekat. Aku tak mampu untuk berkata-kata. Alda berlalu sembari memberikan sebuah kecupan di pipiku.
Begitu Alda menaiki mobilnya, aku segera membuntutinya dengan taxi. Pikiranku jadi kacau. Rasanya sulit sekali untuk mengontrol emosi ini.
Benar saja. Alda menuju kontrakannya. Taxi tumpanganku sedikit menjauh. Seorang laki-laki menyambut Alda dengan pelukan mesra. Aku benar-benar dibakar api cemburu. Aku emosi. Aku bergegas menghampiri mereka setelah membayar taxi tumpanganku.
"Apa-apaan ini?" Aku menarik laki-laki tua itu dari belakang. Sebuah bogem mentah mendarat di pelipisnya. Laki-laki itu kelimpungan dan hampir jatuh. Dan tatkala kami saling melihat, betapa kagetnya kami.
"Papa....?" aku kaget setengah mati.
"Brams....?" Papa juga kaget.
"Apa-apaan ini, Pa?" Alda shock begitu mendengar aku memanggil Papa pada laki-laki itu.
"Kalian....?" Alda tak dapat melanjutkan kata-katanya. Wajahnya sangat sulit untuk digambarkan.
"Yah, aku memang anak laki-laki ini. Kamu mungkin kaget dan bertanya-tanya, kenapa aku mesti tinggal di kosan? Sementara papaku adalah seperti yang kamu ketahui saat ini. Pengusaha? Anehnya kenapa aku tidak pernah tahu kalau kamu bekerja di perusahaan papaku?" aku menatap Alda dengan kekecewaan yang mendalam.
"Karena aku ingin mandiri. Aku ingin hidup sederhana tanpa harus memakai semua fasilitas yang dapat diberikan Papa untukku. Tapi lihat, apa yang telah kamu lakukan? Kamu telah menghianati aku dan papa. Apa yang telah Papa lakukan? Ada hubungan apa antara Papa dengan perempuan ini?" Aku memukul dinding dengan kecewa. Papa masih mengusap-usap pelipisnya yang berdarah karena bogeman-ku.
"Maafkan papa, Brams! Dia, ibu kamu juga," Papa menunduk. Aku kaget setengah mati. ternyata Alda diam-diam telah melakukan poliandri.
"Dia juga istriku, Pa." Aku benar-benar tak sanggup menahan amarah.
Lantas anak siapa yang dikandung Alda? Tiba-tiba papa kesakitan sambil memegang dada kirinya. Dan.....* End.
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon