London - Bacakan Aku Cerita
"Ayo ... buruan bisnya hampir dekat!" seru Ketua Kodok, mengomando rombongan macam rupa.
"Dia gak peka banget, mana ada cewek bisa dandan secepat itu," keluh Paus yang masih repot dengan belek di sudut matanya.
"Pantesan jomlo," timpalku.
"Santai aja, tinggal bubuk sesuka hati dan mandi bebek di akhir waktu. Hahaha"
Duyung sang mantan Lee Min Ho menyelah. Ia nampak sedikit meremas perut. Sedang gawai, sudah bertengger di saku piyamanya.
"Lu mo ngapain?" tangan si Marmut menghalangi langkah Duyung.
"Bikes amet, lu."
Marmut mengernyitkan dahi, lagi kumat mungkin si Duyung.
"Emak bawain jus sehat kesukaan kalian, dan poin dua ratus perak buat, Kuda Poni."
Mak Gee masuk dengan nampan penuh jus segar, sontak kami semua menghampiri. Termasuk Izrail yang baru datang dengan tampang kusut, dan arit yang diselipkan di pinggang kirinya.
"Ssst, Izrail lagi kedatengan tamu." Marmut berbisik, aku sedikit menunduk.
"Galak mode on!" Aku dan Marmut menahan tawa, kulihat mukanya sudah semerah kepiting rebus.
"Apaan sih? Bagi-bagi atuh." Mahmud menyikut, aku cuma bisa cekikian tak kuat menjelaskan.
"Izrail lagi haid!" jelas Teh manis, yang diam-diam menguping pembicaraanku dan marmut.
"Ada apa ni, kok pada tegang?" Kakek satu-satunya pulang membawa manisan yang langsung dimasukkan ke tempat sampah.
Elang muncul di balik pintu, membawa manisan juga yang langsung masuk ke tong sampah.
Aku dan Marmut bengong, memerhatikan hal serupa itu berulang-ulang.
Si Paus gemas, turut melakukan kegiatan antik si Kakek. Bertubi-tubi.
Disusul Duyung, tanpa basa-basi. Aku dan Marmut saling tatap-mengangguk dan segera ikut berpartisipasi.
"Ya ampun, anak bandel!" hardik Nda Yanti tiba-tiba, sapu lidi di tangan terangkat gagah. "Aku pikir kalian belajar, gak taunya nyampah, siapa yang mulai duluan?!"
"Kek Iid," jawabku polos
"PonPon!" Duyung mendelik, aku menunduk pura-pura tak lihat.
"Baru aja anak-anak aku suap jus, gak tahunya udah ngotorin beranda lagi."
Issh, Mak Gee ngapain ikut-ikutan Nda Yanti?
"Ekhem ... Khem ..." Izrail berdehem, aku melirik tampang sangarnya sekilas.
"Perhatian, semua diharap merapat!" Ketua Kodok memulai, sembari terus mengabsen pasukan.
"Begini, gak usah banyak basa-basi, bagi yang serius ikut ke London akan siap dalam waktu 10 menit!" Izaril menyusun kata sebijaksana mungkin, meski lebih dominan galak.
"Isssh, aku belum mandi tau!" protes Paus, yang didukung olehku, Marmut, dan Duyung.
"Masa awewek joroknya kebangetan!"
Lagi-lagi Mak Gee, menutup hidung. Huhh
"Satu ... dua ... " Hitungan dimulai, kuliahat tanduk Izrail mulai tumbuh.
Kami semua kalang kabut, memasukkan baju dalam tas, mandi, dandan, mengolesi deodoran. Kadang terbentur, kadang si Duyung bolak-balik kamar mandi, akibatnya semakin memperpanjang antrean.
"Bungsu pulaaang!" Si bocah manis itu menampakkan barisan gigi rapinya. Kedua tangan, penuh tas berisi salinan. Sudah mandi pula.
"Su, bantuin napah!" Elang menyerahkan setumpuk baju. Dengan senang hati anak itu menerima.
"Satu, dua, dua setengah ...." Peluit tanda final telah diacungkan.
Izrail menatap sinis di ambang pintu.
"Tet ... teeeet!"
Sayup-sayup klakson bis makin mendekat. Mang Nted, Es Ha, dan Shiny berdiri gagah di atap.
Dari jauh, seperti power rangers memamerkan senjata terbaru paling mutakhir.
"Duyung, mamasmu!"
"Mamas ...." Duyung lari menghampiri, menjinjing rok. Es Ha merentangkan tangan. Shiny sibuk menyiapkan bidikan.
Semua lari, mengejar bis itu. Tentunya dengan tangan membawa tas berat. Aku di depan, kakiku yang panjang dengan mudah mengantarkan pada posisi awal.
Tiba-tiba, seonggok tahi ayam hangat tak terelakkan untuk diinjak. Aku, aku terpeleset. Jatuh duduk, sedang koper menggelinding turun. Lebih dulu menghampiri bis. Lalu, terkapar begitu saja. Isinya tercerai. Berantakan.
Mahmud cekatan menolong, disusul Duyung yang rela kembali demi mengulurkan tangan. Begitu juga ketua yang bertanggung jawab atas segalanya.
"Kalian, cepetan! Aku nanti nyusul, jangan kembali lagi!"
Aku mulai meracau. Mengabaikan uluran tangan mereka. Menendang kaki ketua dan Duyung, supaya lekas pergi.
Mereka bersikukuh, aku tetap batu. Bergeming.
"Kalian nakal! Cepatlah!" hardikku lagi. Kali ini lebih kasar.
Ada sorot tak tega di mata mereka, aku mendelik kesal. Berusaha terlihat sesangar mungkin, "Aku bertaruh kalau kalian tetep menoleh, bakal tertinggal pesawat!"
Mereka saling pandang, aku tak mampu memerhatikan pupil Duyung dan Ketua lebih lama.
"Aku mau oleh-oleh keju varmeer. Kalian mampir ke Belanda ya," pintaku sangat, sambil mengelus punggung tangan mereka. Meyakinkan. "Entar kalau pulang, teh hangat kalian sudah siap, oke?!"
Yah, anggukan. Mereka mengangguk sebelum akhirnya berjalan, meski semua sibuk menoleh berkali-kali.
Aku tersenyum, melambaikan tangan tinggi-tinggi. Tak kuasa untuk tidak mengigit bibir, demi menahan cairan bening di pelupuk mata.
Dan akhirnya, mereka benar-benar pergi. Menuju London, kota para pemimpi.
Aku, masih bahagia! Bangkit berdiri, menggapai gagang pintu.
Selesai membersihkan kotoran aku pun keluar dari kamar mandi masih berbalut handuk di badan.
"Kalian?" Tanyaku bengong sambil memegang erat handuk takut melorot. Terkaget melihat rombongan itu lagi pada selonjoran di ruang tamu.
"Baling-baling pesawatnya belum di pasang kakak." Bungsu menjawab kepenasaranku, yang serentak di ikuti anggukan semua yang ada di ruangan itu.
Bagiku London bukanlah kota para pemimpi lagi, karena mimpiku ingin selalu bersama mereka. Walaupun di sini, di rumah penuh sampah bekas jus.

EmoticonEmoticon