Pembebasan - Bacakan Aku Cerita
Baru saja aku membuka mata, sudah terdengar omelan dan makian Nenek dari arah dapur yang letaknya bersebelahan dengan kamar di sudut rumah, tempat aku dan Ibu tidur mengubur lelah.
"Goblok! Numis sayur seuprit wae bumbune sak kranjang. Sekarang ini harga bumbu dapur semua mahal. Mikir!"
Lalu, dug ...!
Suara benturan pada tembok memaksa mata terbuka semakin lebar. Bergegas membuka pintu kamar lalu secepat bisa dengan sebelah kaki berjalan menuju dapur. Persis dugaanku, di sana terlihat Ibu sedang memegang pundaknya yang terantuk dinding, paras pias menahan nyeri. Sedangkan Nenek, ah ... wajah itu serupa jelmaan algojo dalam cerita di tv saat usai mengeksekusi pesakitan. Seringai puas bahkan buas.
"Maaf, Bu, maaf ...," ucap Ibu, lirih menahan perih, jiwa pun raga.
"Menantu tidak berguna!"
Nenek kemudian berpaling padaku, sorot mata kesumat menyambar hingga meleburkan nyali sampai sekecil butir kerikil. "Kau juga, hanya bisa merepotkan. Benalu!" ucapan Nenek ganas sangat tandas. "Kalau bukan karena Harno, tidak sudi aku memelihara kalian di rumah ini. Kalian penyebab anak lelakiku meregang nyawa di usia muda!"
Sebelum berlalu menuju ruang tamu, masih sempat kakiku menerima sambaran tongkat Nenek. Tanpa berani mengaduh, apalagi menangis, kurasakan saja denyutan nyeri bertubi mengaliri semua syaraf sampai pusat nadi. Ibu segera mendekap erat tanpa kata. Hanya isak tertahan sanggup diberikan, melepaskan sedikit penderitaan hingga tidak terlalu nyeri menghantam lebam isi dada.
Aku tidak menangis. Ah ... kemana perginya air mata? Sudah keringkah hulunya? Atau aku telah lupa bagaimana rasanya sakit raga pun jiwa?
Semua berawal dari kecelakaan tiga tahun lalu. Saat itu hari ulang tahunku yang ke tuju. Ayah dan Ibu memberikan hadiah sebuah sepeda seperti yang dimiliki kawan-kawan sepermainan lainnya. Naas, saat sedang gagah menaiki sepeda baru di halaman rumah, karena terlalu pongah tidak terlihat sebongkah batu menghalangi laju roda sepeda. Aku jatuh terjungkal menabrak pagar pembatas halaman dengan jalanan.
Darah mengucur deras dari dahi membasahi pipi, bercampur air mata kesakitan yang tak hendak berhenti. Ayah dan Ibu panik, segera membawaku ke Rumah Sakit. Untung tak dapat diraih, naas tiada bisa ditolak.
Ayah terlalu cepat tancap gas membawa kendaraan membelah jalanan didera kepanikan melihatku kesakitan. Di suatu tikungan tajam, mobil yang dikemudikan hilang kendali, menabrak sisi pembatas jalan kemudian menghantam tebing batu setelahnya. Kondisi Ayah dan Ibu kritis, mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit, dan aku ... harus rela kehilangan sebelah kaki yang telah remuk terhimpit tempat duduk. Ibu dapat diselamatkan namun Ayah setelah beberapa waktu terbaring koma di ruangan ICU, tanpa pernah lagi membuka mata, menghembuskan napas terakhirnya.
Nenek yang tadinya penyayang, berubah total jadi bengis dan sangat kasar. Menimpakan kesalahan penyebab kematian Ayah padaku dan Ibu. Aku tidak diperbolehkan lagi bersekolah setelah berbulan perawatan dan dinyatakan sembuh total dari pasca operasi amputasi kaki.
"Ndak usah sekolah. Jalan saja susah, merepotkan orang lain nantinya. Memalukan!" Sanggah Nenek tidak goyah saat Ibu memohon ijin supaya aku tetap bisa melanjutkan pendidikan, walaupun harus tinggal kelas.
"Bu, kita pergi saja dari rumah ini," ajakku berkali-kali. Namun hanya kata hiburan dan himbauan untuk bersabar yang selalu terdengar sebagai jawaban. "Ngger cah bagus, sing sabar ya. Kasihan nenekmu bila kita pergi dari rumah ini. Beliau juga sedih dan sama menderitanya setelah Ayah meninggal."
Aku yang cacat tidak bisa melindungi Ibu dari perlakuan Nenek. Semakin hari kian menjadi-jadi. Ada saja alasan Nenek menuding kesalahan menyebabkan Ibu dan aku menerima makian, seringnya disertai pukulan.
Kadang aku berpikir, apakah karena Ibu tidak berani mengambil resiko lelah mencari nafkah sendiri untuk kehidupan kami berdua di luar sana? Nenek memang kaya, uang baginya bukan masalah. Berpetak-petak sawah disewakan dengan sistim bagi hasil. Juga beberapa kepemilikan rumah kontrakan yang semakin mempertebal pundi-pundinya. Ah ... andai aku tidak kehilangan kaki, pasti bisa membantu Ibu mencari nafkah, lalu kami berdua akan pergi dari rumah neraka ini. Namun, kalau kami pergi, lalu Nenek dengan siapa? Benar kata Ibu, keluarga tidak akan saling meninggalkan sepahit apapun rasa kehidupan. Otak kecilku berputar tidak karuan.
Hingga umurku sudah 17 tahun, beban penderitaan yang tidak berkesudahan tetap harus ditelan. Kasihan Ibu, setiap saat harus menderita. Nenek juga, hatinya pasti sangat sedih ditinggalkan satu-satunya putra tercinta. Aku sayang kalian. Akan aku ubah semuanya menjadi indah, membebaskan semuanya dari rasa benci dan penderitaan berkepanjangan. Bersama lagi berbagi kasih seperti semula, saat Ayah masih ada. Tunggulah.
Lalu kini ....
Setiap hari aku merindukan untuk bisa segera berkumpul bersama mereka. Secepatnya.
Namaku Sira, dua bulan ke depan tepat berumur 25 tahun. Saat ini sedang menunggu eksekusi mati setelah pengadilan memutuskan bersalah atas tuduhan pembunuhan berencana pada Nenek dan Ibu.
Nenek, Ayah, Ibu, tunggu aku. Kita sekeluarga akan segera bersama terbebas dari semua derita. Bersabarlah.
Pekanbaru, 06052018
Penulis Putri Neyumar

EmoticonEmoticon