Senin, 26 Maret 2018

SUNNY MENIKAHI MATAHARI

SUNNY MENIKAHI MATAHARI

SUNNY MENIKAHI MATAHARI

Positif. Menjadi mahasiswa baru sebuah universitas ternama di ibukota akan jadi alibi yang tepat untuk menghindari semua rasa sakit. Kartu undangan bermotif daun momiji warna gold-silver itu masih teronggok di atas CPU komputerku, belum kubuka sama sekali sejak kedatangannya sepekan kemarin. Aku tahu hari sakral mereka semakin dekat. Dan mengetahuinya semakin terasa sakit di sini.
Kalau ada waktu yang hilang, itu adalah waktu-waktu ketika aku tak lagi ingin mengingatnya. Ketika kupilihkan satu jalan pintas untuk memblokade semua komunikasi. Aku akan pergi. Sejauh yang kubisa. Menghilang tanpa perlu meninggalkan sepucuk pesan bahkan pesan kematian.
Namun di kala semua terasa begitu nyata, lagi-lagi gambar wajahnya yang pertama melintas. Seperti paras matahari. Aku membencinya setengah mati. Sungguh-sungguh membenci ketika mataku saja tak bisa menangkap lekuk kemilaunya.
Ingin rasanya menjadi batu. Cepat tenggelam di kolam yang dalam. Berharap jasadku tak ditemukan orang-orang, lalu kenangan tentangku tinggal nama.
Kalau saja aku boleh bermimpi sekali lagi, aku ingin bermimpi dipertemukannya. Sekali saja dipertemukan dengan matahariku. Kemudian aku akan membencinya sampai mataku tak dapat melihatnya. Sampai mati.
Tapi mengapa mataku tak mau terpejam? Atau akukah yang terlalu takut menghadapi gelapnya rasa cemburu? Haruskah kulakukan sesuatu?
***
Siapa perempuan paling bodoh sepagian itu? Aku. Si gadis berkaca mata yang terdiam menatap bayangan legam pepohonan pinus jatuh di permukaan air. Saat akhirnya dia datang melempar kerikil dan airnya beriak. Terkesiap. Menyadari keberadaan kami di suatu tempat yang tak asing. Di mana sepasang sepeda kumbang bersandar pada salah satu pohon pinus yang menjulang di muka danau.
Nama laki-laki itu Abraham. Orang-orang desa memanggilnya Raham tersebab kulitnya yang putih seperti gigi turis-turis asing di Derawan.
“Sunny, kamu pernah membayangkannya?” tanyanya suatu hari.
“Ngebayangin apa?”
“Dua puluh, lima puluh tahun lagi, apakah kita masih akan bermain di sini?” Matanya yang biru topaz tampak nanar.
Aku malah membuang tawa pada hamparan bening yang diterpa sepoi-sepoi angin selatan. Airnya berombak ke tepian membentur daratan tempat kami berdiri. Tempat kami saling mengulas cerita yang berlalu.
“Lima puluh tahun lagi? Kamu sendiri sudah tujuh puluh saat itu. Kamu pikir di usia segitu aku masih tahan kena angin seperti ini, hah? Aku bisa mati menggigil kalau kamu minta aku berenang buat ngambil sendalmu yang hanyut,” jawabku.
Andai saja kepingan daun semanggi berdaun empat itu milikku. Benar. Isi kepalaku pasti terlalu pongah dan tak menyadari ada kalimat perpisahan yang menggebu-gebu darinya.
“Ingat ya, sendalmu hanyut itu karena ulahmu sendiri,” tambahku.
“Tapi kamu janji. Mau, kan?” tangannya terulur meraih kepalan kananku. Aku tak pernah menolak kemana pun dia mengajakku pergi. Sejauh jangkauanku, kalau pun dia hendak memintaku menyelam mengambilkan kerang di dasar danau, aku mau.
Untuk pertama kalinya aku dengan keberanian terbesarku, mengalahkan segala penghalang, juga menyingkap tabir yang menjeda matanya dan mataku. Aku terpaku akan permintaannya yang tak terduga.
“Oke, oke, aku setuju nggak akan minta bantuan kamu buat ngambil sendalku yang hanyut. Tapi kamu yang jaga anakku dan Tania. Setuju?”
Aku seharusnya ingat. Bahwa bukan akulah satu-satunya perempuan yang pernah dia bawa mengunjungi danau kami. Raham, Tania, dan aku, terhitung sudah lima belas tahun menghabiskan waktu dan bersahabat.
Tanyakan saja pada danau yang bersaksi. Atau pada burung-burung camar yang mengintip dari pucuk-pucuk pinus di ketinggian. Tentang perburuan daun semanggi, tentang siang dan malam yang kami lalui atas nama persahabatan. Tentang ikatan yang aku sendiri tak mengerti benar apakah ini murni persahabatan. Dan aku tak pernah tahu bagaimana perasaan sahabatku. Perasaan Raham padaku.
Sisa-sisa kesadaranku hanyut dalam hitungan detik. Kepalan tanganku ditariknya mendekat, dipaksa memelukkan luka pada lautan garam yang luas. Di telingaku kata-kata saktinya mengalir bak hembusan beliung raksasa.
“Sunny. Mataharinya Raham. Kamu setuju, kan?”
Apakah aku hancur? Berkeping-keping.
“Aku bukan mataharimu, Raham.” Seberapa pun dalamnya palung lautanmu, kumohon, benamkan aku di dalamnya. Biar luruh penyesalanku.
Detik berikutnya dia ingin menatapku. “Sunny. Kamu nangis ya?”
“Aku bahagia, bodoh!” kilahku dengan isakan yang bersembunyi di bahunya.
***
Tidak banyak yang kubawa, hanya satu koper, satu tas travel, dan tas punggung mungil senada sneakersku. Aku mengemasi semuanya sendiri. Pakaian, perlengkapan mandi, beberapa dokumen penting, juga uang dari papa untuk dua bulan kedepan. Dengan beasiswa, semua itu lebih dari cukup.
Di halaman depan rumah, mama melepasku dengan drama yang dibuatnya berlebihan. Aku berpikir demikian karena bukan tipikal mama yang menangis untukku. Setidaknya secara jujur dan terus terang menunjukkan perhatian itu. Tapi aku luluh juga dengan mengecup sebelah pipinya. Dalam hati aku bicara pada diriku sendiri, sepertinya akan membutuhkan waktu lebih dari empat tahun agar kenangan tempat ini terlucuti satu-satu dari kepalaku.
Tania juga di sana. Memberi pelukannya seperti yang sudah-sudah. Seperti kakak kepada adik kecilnya. Hanya saja rasa itu tak lagi sama, tak lagi seperti bertahun-tahun kemarin. Akulah yang membuatnya berjarak. Memagari kehidupanku dari campur tangannya. Sudah seharusnya seperti itu.
Aku dengar papa mengoceh tentang Tania saat membuka pintu mobil. Tentang kepergianku menjelang hari bahagianya. Dengan tulus papa bersimpati akan kabar yang baru diketahui orang rumahku semalam. Bahwa Tania sempat bertengkar dengan Raham dan hampir membatalkan semua persiapan yang tinggal final. Aku tak terkejut dengan informasi papa.
Bahkan aku tahu persis kronologinya.
Dua minggu lalu, Tania pergi ke suatu pasar kain di kota. Aku diminta menemaninya memilih warna yang serasi dengan tema desain dan dekorasi, untuk meja prasmanan. Pihak wedding organizer sebenarnya sudah melakukan sentuhan akhir dengan menyelaraskan warna serta motif pakaian pagar ayu dan pagar bagusnya, juga soal taplak meja yang ditolak. Bahkan penanggungjawab catering sudah tiga kali memastikan selera si empunya hajatan tetap jadi prioritas. Termasuk manajer band lokal yang didapuk mengiringi meriahnya pesta resepsi yang kelak terselenggara, juga sudah minta uang muka.
Masalahnya, Tania tidak pernah di beri tahu oleh Raham, menyoal siapa master of ceremony yang dia tunjuk untuk melengkapi jalannya acara. Aku juga tidak begitu peduli benar. Mereka mengurusi semuanya berdua, keluarga turut serta tentu saja.
Tapi sikap kekanakan Tanialah yang mengganggu Raham, aku pikir begitu. Perempuan bergaya vintage itu mulai menurunkan tensitas kepercayaannya pada lelaki yang mulai tumbuh jambang belakangan hari ini. Dia menyelidiki bak Kasatreskrim mengintrogasi petahana kepergok berbuat mesum di belakang meja kantornya. Terlalu berlebihanlah.
Kemudian Raham mengajakku pulang. Alih-alih memperpanjang keributan dia justru membawaku ke satu angkringan, minum wedang. Puncaknya, malam itu juga Tania mengirim pesan teror kepada kekasihnya usai curhat denganku. Berupa ancaman, minta Raham melakukan sumpah kejujuran, atau tidak ada pernikahan.
Raham galau, dia sambangilah kekasihnya. Keributan pun tak terhindarkan. "Kreeeekkk!!" Tania merobek gaun putih yang masih terbungkus plastik dari butik. Kalau tak salah, itulah gaun yang akan ia kenakan pada saat akad nanti. Aku peluk saja Tania. Raham kehabisan kata-kata, pulang ke rumahnya dengan hati bercampur aduk.

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA


EmoticonEmoticon

Popular Post

Laman