Selasa, 20 Maret 2018

GARAM ITU RACUN

GARAM ITU RACUN

Hands Holding Stomach In Pain
PHOTO BY PIXABAY
Saya mengernyitkan wajah, ketika menyeruput kuah tangkar buatan si Mbak langganan.
"Mbak, kok rasa tangkarnya ga kayak biasanya ya? Kayak kurang garem gitu?"
"Bukan kurang garem, Teh. Waktu masak, emang sengaja ga saya garemin. Sekarang garemnya dipisah, itu saya siapin di meja, Teh."
"Loh, kok sekarang garemnya dipisah? Jadi kurang enak tau Mbak."
Si Mbak Tangkar membuka laci gerobaknya, mengambil hape, lalu mendekati saya.
"Sebentar, Teh. Ini saya unjukin sesuatu."
Si Mbak mencari-cari sesuatu di layar hape.
"Nah, ini loh Teh, coba di baca. Ini saya dapet berita dari temen facebook saya, katanya kalo nyampur garem ke dalam masakan yang lagi dimasak itu ternyata bahaya, bisa jadi racun. Lah saya kan biasanya kalo lagi ngegodok tangkar itu garemnya suka langsung dimasukin ke godokan kuah bareng sama bumbu-bumbu yang lain, saya ga tau kalo itu jadi racun Teh, gitu."
"Terus, Mbak percaya gitu aja berita yang dikasih temen Mbak?"
"Lah iya Teh, wong ini ada tulisannya."
...
Berita soal memasukan garam ketika memasak akan menjadi racun, sebenarnya sudah menjadi berita basi. Itu jelas-jelas hoax, alias berita bohong. Saya sudah menge-cek kebenaran berita tersebut baik dengan mencari informasi melalui Google, maupun bertanya kepada Dokter.
Sampai saat ini, belum pernah ditemukan kasus ada orang yang meninggal gara-gara keracunan garam, di warung tangkar atau warung-warung berkuah lainnya, seperti warung soto dan sop misalnya.
Jadi misalnya di sebuah warung soto, ada seorang Bapak-Bapak sedang menyeruput kuah soto. "Sruputttt..."
Tahu-tahu, "Gubrak!" Kejang-kejang dan berbusa.
Si Mbak penjual soto kaget. "Ya Allah, Bapak kenapa Pak?!"
Dalam keadaan kejang-kejang dan berbusa, si Bapak menunjuk ke arah si Mbak sambil berkata, "Kamu, telah memasukan garam ke dalam kuah sotoku Mbak! Kamu jahat!"
"Glek" Si Bapaknya mati.
Si Mbak berteriak histeris, "Tidakkkkkkk!" Sambil mengaurkan garam ke wajahnya.
Drama banget ya pemirsah, gakgakgak.
...
Begitupun dengan berita hoax. Dia adalah drama. Drama jahat yang dibuat oleh orang-orang jahat, untuk memperoleh keuntungan pribadi dan golongan.
Para pembuat berita hoax tahu psikologis sebagian besar netizen di Indonesia, yang gemar meng-aamiin-i dan men-share berita apapun yang mampir di berandanya, tanpa terlebih dahulu melakukan cek dan ricek soal kebenaran berita tersebut. Ada berita soal memasak garam akan menjadi racun, share. Ada berita soal Syahrini pakai bulu mata palsu, share. Main share aja pemirsah. Padahal kalau dipikir-pikir, apa faedahnya kita men-share soal Syahrini pakai bulu mata palsu? Kecuali kalau Syahrini pake bola mata palsu, nah, itu baru berita.
"Mbak Syahrini, Mbak kok pake bola mata palsu, kenapa?" Tanya seorang wartawan infotainment.
"Iya Mas. Abis bola mata asli aku lagi cedera." Jawab Syahrini manjah.
"Cedera apa, Mbak?"
"Cedera hamstring."
Selain hoax politik yang sedang hangat-hangatnya menjelang pilkada dan pilpres, di pasar, kini sedang terjadi hoax yang tak kalah hangatnya. Yaitu, hoax soal telur ayam palsu.
Kalau ngga salah ingat, sebenarnya hoax soal telur ayam palsu ini sudah merebak setahunan yang lalu. Cuma menjadi heboh kembali gara-gara unggahan video viral yang menampilkan adegan, dimana seorang Bapak sedang bermain dengan telurnya, di hadapan Ibu-Ibu.
"Liat nih Ibu-Ibu, telur ini ada silikonnya. Lihat nih..." Kata si Bapak.
"Oh, iya-iya, itu telur si Bapak ada siliconnya." Jawab Ibu-Ibu polos.
"Liat juga nih, telurnya ga bau amis, dan ga ancur saat dipegang." Lanjut si Bapak memeragakan telurnya.
"Oh, iya-iya, itu telur si Bapak ga bau amis, ga ancur juga kalo dipegang. Wah, telur si Bapak ternyata palsu yaaa." Ibu-Ibu heboh.
"Nah, telur palsu ini udah banyak beredar nih Ibu-Ibu. Kebanyakan dari Cina-Cina gitu, mereka pintar bikinnya."
Dan otak Ibu-Ibu pun langsung ter-brainwash, bahwa benar telur tersebut adalah palsu, dan Cina adalah biang keladinya.
...
Pagi ini saya ke pasar untuk membeli telur. Dan setibanya di sana, saya mendapati Nci penjual telur langanan saya, sedang melamun.
"Hallo Tante. Udah tua ngelamun aja. Nanti cepet muda lohhh." Sapa saya sambil memilih-milih telur.
"Eh, Neng Dinda cantik. Sendirian aja?" Tanya si Nci ramah.
"Iya Tante, sendirian. Tumben nih sepi warungnya, biasanya rame."
"Iya, Neng. Udah beberapa hari sepi terus. Jatoh banget penjualannya, Neng. Ga kayak biasanya. Semenjak ada berita telur palsu."
"Iya, Tante. Tadi saya lewat tempat telur lain juga sama, pada sepi, lagi pada ngelamun."
"Ada-ada aja berita teh ya Neng."
"Sabar aja Tante. Di Indonesia mah gitu, sebentar juga telur tante bakal rame lagi. Orang-orang bakal lupa soal telur palsu, keganti sama berita laen."
"Berita apa tuh Neng?"
"Ihhh, Tante belum tau ya? Jadi gini Tanteee...."
Akhirnya kami bergosip. Gakgakgak.
...
Nyatalah, berita hoax sangat merugikan kita semua. Pedagang rugi, pembeli rugi, ekonomi rugi. Yang untung, ya si pembuat berita hoax.
Maka sebagai netizen, kita dituntut untuk cerdas dalam membaca suatu berita. Jangan langsung 'iya' dan main share saja, cek dan ricek dulu kebenarannya. Takut jadi ghibah dan fitnah, dosanya besar loh pemirsah, segede hutang suami saya.
Lalu, berita soal memasak garam akan menjadi racun, saya pastikan itu itu hoax ya. Berita soal telur palsu, itu juga hoax.
Untuk Bapak yang demo telur di video, saya sampaikan bahwa semua telur itu asli Pak, ga ada telur yang palsu. Mau telur ayam kek, telur bebek kek, semuanya asli. Apalagi telur suami. Saya jamin dua-duanya asli, Pak.
Yang Bapak sebut silicon, itu namanya membran telur, semua telur ya ada membrannya, Pak. Semakin tebal membrannya, semakin bagus kualitas telurnya. Dan yang Bapak sebut telurnya ga bau amis dan kuning telurnya ga pecah, itu tanda kalau telurnya masih fresh, Pak. Kalo telur masih fresh, dia memang ga akan bau amis, dan kuning telurnya ga gampang pecah.
Begitu ya Pak. Salam telur.
...
Jadi Ibu-Ibu, yuk kita masak pakai garam lagi, biar masakannya enak. Kalo masakannya enak, insyaallah suami kita bakal betah di rumah, ga kerja-kerja. Tapi pakai garamnya jangan kebanyakan ya, biar ga darah tinggi.
Dan yuk kita masak telur lagi, biar sehat, karena telur mengandung nilai gizi yang sangat tinggi. Tapi jangan kebanyakan ya makan telurnya, biar ga bisulan. Kalo sampe bisulan, ngeri ya pemirsah, apalagi kalo bisulannya di antara dua alis. 


EmoticonEmoticon

Popular Post

Laman