| PHOTO BY PIXABAY |
RAHASIA ALLAH PART 1
“Kau! bukan tipeku, jadi jangan sok perhatian lagi padaku,” ucapnya setengah berteriak kepadaku sekaligus melempar kotak nasi yang sengaja kubawakan untuknya.
Sungguh merasa malu sekaligus sakit, ketika kau menerima penolakan dimuka umum, di depan semua rekan kerjamu. Ingin rasanya wajah ini dimasukkan ke dalam laci meja kantor. Bulir air berdesakan keluar membasahi pipi, tak mampu lagi dibendung, jebol.
@@@
Kejadian dua minggu lalu, masih saja menari-nari diotakku. Menyusuri jalan tanpa tujuan, mencoba menenangkan hati dan pikiran. Dari kejauhan terlihat toko dengan berbagai macam jenis bunga segar, membuat mataku berbinar. Bergegas kesana, berniat untuk membeli. Sesampainya disana …
“Permisi,” celingak-celinguk mencari sang pemilik bunga.
“Iya. Cari bunga apa, Neng?” jawab seorang ibu paruh baya yang muncul dari dalam toko.
“Boleh lihat-lihat dulu, Bu?”
“Iya, Neng,” ucapnya sambil tersenyum “cari bunga buat siapa, Neng?”
Hanya diam yang kulakukan, bingung harus menjawab apa. Bunga ini untukku sendiri, apa iya aku harus jujur pada ibu ini. Akhirnya …
“Buat saya, Bu.”
Sekilas ibu itu, hanya terlihat mengangguk dan melemparkan senyum ke arahku, akupun tersenyum padanya. Wangi bunga-bunga ini sedikit membuat hati tentram, menghilangkan sejenak luka. Hidung pesek ini terus mengendus-ngendus berbagai macam bunga cantik nan wangi, akhirnya sang mata tertuju pada rangkaian bunga lili berwarna putih.
“Ini ya, Bu.”
Selagi menunggu bunga dibungkus, aku kembali melihat-lihat bunga yang lain. Bola mataku terhenti pada rangkain tulisan yang diketik kapital di selembar kertas putih yang ditempel di dinding, DIBUTUHKAN KARYAWAN.
“Ini, Neng.”
“Terima kasih, Bu,” ucapku “apa benar Ibu butuh karyawan?”
“Iya, Neng.”
“Apa saya boleh melamar kerja disini, Bu?”
@@@
Setelah berbincang dengan ibu Rani, pemilik toko bunga. Alhamdulillah, aku diterima bekerja di toko bunga ibu Rani. Sebelumnya beliau merasa heran, mengapa aku melamar kerja disana, dengan penampilan lebih terlihat seperti seorang pekerja kantoran. Ya, memang pekerja kantoran, tapi itu sebelum resmi resign pagi ini. Semua terasa berat, kau pasti mengerti bagaimana rasanya, bekerja sekantor dengan orang yang telah menolakmu. Terlihat lemah, iya. Aku mengakuinya. Tak peduli, yang penting menjauh darinya.
@@@
Mentari terlihat ceria pagi ini, karena sang mendung masih berada di peraduannya. Mungkin sang hujan masih ingin bermain diatas sana, belum siap bertemu bumi. Tapi, aku telah siap menyambut dunia, semangat baru, penampilan baru yang terkesan lebih tomboi, perpaduan jeans biru tua dengan t-shirt kuning serta rambut kuncir kuda.
“Kamu serius mau bekerja di toko bunga, Na?”, ujar ibu setelah aku duduk di kersi ruang makan.
“Iya, Bun.”
“Ayahmu belum tau, kan?” ucapnya sedikit khawatir, “ayahmu, pasti terkejut kalau tau,” lanjutnya.
“Aku akan menelponnya, Bun. Tapi nanti setelah aku pulang,” ucapku sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut.
@@@
“Beli bunga dong,” teriak seseorang dari luar toko, mungkin takut sang penjual tidak mendengarnya.
“Bunga apa, Mas?” ucapku menghampiri pemuda berkulit putih itu, “bisa dilihat-lihat dulu.”
“Kamu siapa?”
“Saya karyawan baru disini, Mas. Saya Dina.”
“Oh,” ucapnya sambil memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala, jadi merasa risih.
Pemuda itu terlihat mondar-mandir memilih bunga, aku terus memperhatikan dan mengikutinya, khawatir dia akan melakukan sesuatu, mencurigakan. Satu jam berlalu, pemuda itu belum juga menentukan pilihan bunga yang akan ia beli. Kuberanikan untuk menegurnya.
“Mas”
“Iya”
“Jadi beli bunga yang mana?”
“Pilihin mbaknya saja deh! Saya bingung.”
Akhirnya kusodorkan rangkaiam bunga mawar putih kepadanya, entah sejak kapan aku mulai menyukai warna putih. Sejenak ia melihatnya.
“Iya aku mau bunga itu. Cantik … seperti kamu.”
Seketika mataku melotot menatapnya, berani-beraninya dia berbicara seperti itu. Tapi karena dia pelanggan, aku tetap mencba ramah kepadanya. Bergegas merapikan bunga serta membungkusnya, lalu menyerahkan padanya.
“Mbak, belum tau nama saya kan?”
“Apa?”
“Saya Dimas.”
“Dimas!” seru ibu Rina, suaranya membuatku dan Dimas menoleh ke arahnya.
“Ibu Rina,” ucapnya sambil menghampiri ibu Rina, lalu mencium punggung tangannya.
Manis. Manis sikapnya maksudnya.
“Sudah lama tidak main kesini?”
“Iya, Bu. Maaf. Baru balik dari Bandung, ada kerjaan selama tiga bulan disana.”
“Ngeteh dulu.”
“Maaf, Bu. Lain kali ya, aku buru-buru mau ke pemakaman Ayah.”
“Baiklah.”
@@@
Pertemuan pertama itu dengan Dimas, menjadi awal keakraban kami. Ia sering mengunjungi toko bunga ibu Rina untuk sekedar bisa berbincang denganku, ia orang yang asyik, pandai membuat orang disekitarnya merasa nyaman, begitu juga denganku. Bahkan setiap weekend ia mengajakku pergi ke tempat-tempat indah yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Selalu ada kejutan darinya. Sungguh, ia telah mampu menghapus luka yang terlukis dalam hati. Bersamanya, membuat seorang wanita selalu merasa spesial. Rencananya, minggu depan aku akan mengajaknya bertemu orangtuaku.
“Assalamu’alaikum.”
“Sudah pulang, Na?”, ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari televisi, “Bunda, mau bicara sama kamu. Duduk sini!”
Aku berjalan ke arah Bunda, lalu duduk di sebelahnya. Bunda tiba-tiba mematikan televisi, menatap mata serta memegang kedua tanganku, tatapan serta raut mukanya terlihat serius, membuat deg-degan.
“Na”
Aku menunggu bunda melanjutkan kata-katanya.
“Kamu kan sudah tau kewajiban seorang muslimah, apa kamu tak berkeinginan menutup auratmu secara sempurna?”
Deg. Seperti ada kilat yang menyambar, mengagetkan sekaligus seperti cambukan. Bunda memang selalu mengingatkan untuk berhijab. Hal itu dilakukannya hingga usiaku 17 tahun. Setelah itu, bunda tak pernah lagi menegurku, mungkin bunda berfikir bahwa aku seharusnya sudah tau apa yang baik dan buruk serta kewajiban yang harus dilakukan. Hingga hari ini diusiaku yang ke-23 tahun, beliau menegur kembali. Dulu aku selalu mengabaikannya, tapi tidak untuk hari ini.
BERSAMBUNG....
EmoticonEmoticon