| PHOTO BY PIXABAY |
Mencintaimu dalam diam
Saat kau hadir, mengisi relung-relung hatiku yang begitu lama kosong dantak tertata..
Bagaikan embun pagi yang membasahi dahagaku.
Meski tak satupun kesempatan menyatukan inginku dan mungkin juga inginmu.
Biarlah cukup cintaimu dalam diam…
Huft… untuk kesekian kalinya aku menuangkannya dalam sebuah tulisan,..yah.. apa yang bisa ku lakukan selain ini? Jika rindu ini tak terkira, aku hanya bisa mengimajinasikannya hadir dalam khayalku. Ingin rasanya berlari dan segera memeluknya. Namun… aku cukup sadar diri hanya bisa mencintainya dalam diam.
Kenapa harus mencintai dalam diam? Mengapa tidak mencintainya diam-diam?... perbedaannya terletak pada maknanya jika aku gunakan kata mencintai diam-diam itu berarti dia yang aku cintai tidak mengatahui. Tapi jika aku katakan mencintaimu dalam diam, itu artinya kami berdua saling mencintai. Namun keadaanlah yang memaksa untuk kami cukup mencintai dalam diam.Mengapa dengan diam, dan diam seperti apa yang dimaksud?
Dia sosok yang sangat istimewa di hatiku, saat pertama kali aku mengenalnya, sampai hari ini dan aku selalu yakin dia teristimewa sampai ku menutup mata. Bukan karena dia tampan sebenarnya, walaupun tidak kupungkiri tubuhnya yang gagah selalu membuat dadaku berdetak kencang saat didekatnya. Wajah tampannya yang membuat ku tidak bisa tidur semalaman saat ku meridukannya, yang teristimewa adalah karena kasih sayangnya, bagaimana dia menghormati wanita itulah yang membuatku terus mencintainya.
Aku adalah wanita karier yang kala itu bekerja menjadi guru di sekolah dasar. Sekolah tempatku bekerja adalah sekolah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Sehingga menuntut gurunya menguasai Bahasa Inggris. Merasa masih perlu banyak belajar, aku dan beberapa teman kerja memilih untuk memperdalam dan belajar lagi bahasa inggris. Agar tidak mengganggu waktu kerja kami. Kami memilih untuk mengambil kelas malam.
Saat mengenalnya, aku masih sendiri saat itu.
Berawal dari sebuah pertemuan dalam satu kelas balajar bahasa Inggris cepat di tempat dimana aku tinggal. Saat perkenalan pertama di malam itu, tak sedikitpun ada rasa ingin aku mengenalnya lebih dekat. Saat itu aku hanya menganggap dia adalah teman belajar. seiring berjalannya waktu, entah apa yang membuat kami dekat saat itu. Tapi aku merasa ada sesuatu yang membuat kami dekat. Entah mengapa aku lambat memahainya saat itu. Setelah aku telaah lebih jauh sekarang, ternyata dari sejak pertama kali bertemu, sepertinya dia sudah mengincarku. Mencoba mendekatiku lebih jauh. Saat itu memang aku sedikit tidak memperdulikan sekitarku, termasuk ketika dia mendekatiku. Karena saat itu aku sedang patah hati. Karena aku coba menata hidupku yang hancur kala itu, sehingga aku jadi protec terhadap siapapun yang mendekatiku.
“Sebenarnya apa arti aku di hidupmu?”. Sempat kaget ketika aku buka isi pesan di whatsApp ku..
Belum sempat membalasnya sudah da pesan yang masuk lagi.
“Sedangkan kamu ada suami yang bahkan punya anak”.
“Kamu sudah melakukan banyak hal dengan suamimu tapi kamu bilang tidak punya rasa terhadap suamimu?”.
“kamu malah bilang rindu dan mencintaiku??”.
“Apa kamu yakin dengan perasaanmu??”.
“Membanyangkan kamu bersama suamimu, bercumbu dengannya. Tapi kamu masih bilang cinta dan rindu sama aku?..”
“Rasanya sakit sekali membanyangkan itu”.
Sebelum dia mengirim pesan lagi, aku sudah siap-siap mengetik untuk membalas semua pertanyaannya.
“Setiap kali aku kirim pesan kamu, pasti aku mengeluh diakhirnya. Karena aku tau, aku salah… aku juga tau kamu pasti berpikir kamu hanya kujadikan pelampiasan saat aku sedih dan galau dengan suamiku”. Balas ku
“Aku sadar diri dengan posisiku sekarang, itulah kenapa setiap aku mengirim pesan dan katakan kalau aku rindu dan cinta kamu. Aku selalu berusaha dan berharap segera move on dan pergi jauh dari kamu”.
“Beberapa bulan ini, aku sengaja tidak menghubungi kamu karena aku tidak mau menyusahkan kamu atas perasaan ini”.
“Aku ingin yang terbaik buat kamu, jika aku pergi dari hidup kamu itu yang terbaik buat kamu. Aku akan berusaha lakukan seperti yang kamu mau.”
“Cinta perempuan dan laki-laki itu berbeda, perempuan masih bisa melanjutkan hidupnya meski tidak hidup dengan orang yang dicintainya”.
“Karena nanti yang akan menguatkannya adalah karena rasa kasihan bukan cinta. Aku menikah tidak berdasarkan cinta, tapi aku memang harus segera menikah karena aku tidak mau semakin kecewa berharap sesuatu yang tidak mungkin dari kamu. Aku memilih menikah karena aku ingin yang terbaik buat kamu. Bisa saja aku kejar kamu saat itu, tapi tidak aku lakukan karena aku tau… kalau aku bukan yang terbaik buat kamu.”
“Pertanyaan kamu tadi mengingatkan siapa dan bagaimana posisi ku sekarang”.
“Mungkin memang saatnya aku harus pergi dari hidup kamu…”.
“Ini semua harus diakhiri”.
Aku tidak mengirimnya lagi setelah ini, kubiarkan dia membaca dan meresponnya.
Sampai akhirnya ku lihat di layar hp ku da pesan masuk dan segera aku baca.
“ Maafkankalau aku banyak kekurangan dan perilaku aku yang menyusahkan kamu”.
“Aku ingin hubungan kita sehat tanpa perlu menyakiti atau tersakiti. Aku tidak ingin jika nantinya ada dendam Say”. (panggilan sayangnya untukku)
“makanya aku bilang aku takut salah merspon perasaanmu”.
“Karena biar bagaimanapun aku tetap sayang kamu”.
“Aku tidak ingn berakhir dengan buruk.”
“Maafkan aku kalau aku bertindak terlalu egois”.
Aku mencoba mengetik dan membalas setiap pertanyaan dan peryataan yang dia kirim di whatsApp tadi. Tak terasa hangatnya air mata jatuh tak terbendung. Rasanya bagai tersanyat sembilu…
aku memblasanya,
“selama ini aku yang berusaha menghubungimu terlebih dahulu, itu pastinya bermuara dari aku. Inilah yang justru aku inginkan dari dulu, bahkan aku selalu minta ini darimu. Denganmu bersikap tegas seperti ini,… ini yang terbaik buat aku. Memang menyakitkan… semoga ini menjadi terapi agar aku terbiasa tanpamu. Maafkan atas perasaan ini, maafkan untuk semuanya. Dalam setiap nafasku ada doa terbaik untukmu”.
“Kamu selalu jadi seseorang yang teristimewa di hidupku, kemarin… hari ini dan selamanya”
“Kamu akan selalu jadi yang kucintai”.
“Terimakasih untuk semua waktumu untukku, apapun tentangmu percayalah itu adalah kenangan yang terindah dalam hidupku”.
Kali ini dia tidak membalas pesanku dengan kata-kata. Dia hanya mengirim sebuah emoticon yang mungkin diartikan kalau dia mencintaiku. Sebelum dia membalas pesanku aku tuliskan lagi beberapa kalimat yang berharap menutup pembicaraan malam ini dengan tidak emosi.
“Aku selalu merindukanmu… biarlah takdir yang menentukan di mana muaranya”.
Sesaat setalah kutuliskan itu, terbersit di benakku untuk bertanya yang sama apakah dia merasakan perasaan yang sama dengan ku.
“Apakah sebeneranya arti aku di hidupmu?
Kali ini aku sudahi untuk tidak mengetik dan mengirimnya lagi, ku biarkannya membalas satu persatu pertanyaanku.
“sebenarnya aku tidak ingin kamu pergi… Aku Cuma ingin kita bisa menyikapi perasaan masing-masing tanpa harus menyakiti diri sendiri.” Dia membalasnya
“Karena mau bagaimanapun kamu adalah seseorang yang berharga di hidup aku”.
“Aku sayang kamu, walau aku tidak bisa memilikimu paling tidak aku bisa menjadi sahabat yang akan berusaha ada ketika kamu butuhkan”.
“Aku ingin sekali bertemu kamu dan bicarakan semua ini”.
Tak terasa malam semakin larut, pesannya yang terkahir tadi tidak aku balas saat itu. Hanya sempat ku read atau baca tanpa balas.
Khawatir menanti jawabanku, dengan tertatih aku mengetiknya dan ku katakan
“semoga Tuhan menakdirkan itu, menakdirkan bertemu dengan kamu, kalaupun tidak… pasti itu yang terbaik untukku”.
Rasanya seperti mendengar petir di siang hari tanpa ada hujan angin sebelumnya, sesaat terhenyak dadaku terasa sesak jika mengingat pembicaraan kami baru saja. Oh..my God, apa ini yang namanya mengiklaskan seseorang yang paling ku cintai selama ini pergi dari hidupku?... rasanya sakit sekali, lebih sakit dari patah hatiku sebelumnya. Ku baca lagi satu persatu pesannya tadi. Aku merasakan seperti separuh jiwaku pergi, aku bahkan tidak yakin dengan kata-kataku sendiri. Apakah aku sanggup? Apakah aku sudah siap dengan semua resikonya?. Haruskan semua ini berakhir?... air mataku terus mebasahi pipiku, tanpa sadar membuat suamiku yang sedang tidur terlelap di sampingku terbangun oleh isak tangisku. Semakin merasa berdosalah aku ketika suamiku dengan penuh kasih sayang bertanya mengapa aku menangis.
Ya Tuhan… mengapa semua ini harus terjadi padaku,..salahkah jika rasa ini ada untuk seseorang yang tidak seharusnya ada di hatiku. Suamiku lah yang seharusnya berhak atas semua cinta dan kasih sayangku. Tak selayaknya dan tak sepantasnya biarkan rasa itu terus berkembang dan bertahan di hati. Meski kami tak melakukan apa yang dilarang oleh agamaku, tetap saja aku sadar ini kesalahan.
Aku masih memikirkan kata-katanya tadi, dia menginginkan persahabatan dalam pernikahanku. Sungguh itu tidak akan aku sanggup melakukannya. Bukan karena aku tidak mau berada terus di sisinya ketika dia butuhkan aku. Tapi… sungguh aku tidak sanggup melihat dia bersama perempuan lain, lebih baik aku pergi sekalian dari pada aku harus menahan sakitnya setiap hari.
Meski ini sangat… sangat… sangat… menyakitkan untukku, biarlah mungkin memang aku ditakdirkan mencintainya dalam diam.
Aku tertidur dalam keadaan memendam kesedihan ini.
Tuhan… jika rasa ini diizinkan oleh Mu ada di hatiku, mengapa Engkau biarkan ini terus berlajut, sedang Engkau tau ini adalah kesalahan.
Sesaat setelah packing untuk keperlanku berangkat ke beberapa Negara di Eropa, aku merebahkan tubuhku yang sudah tampak lelah sekali. tiba-tiba entah mengapa aku teringat kata-kata terakhir seseorang yang membuat serasa separuh jiwaku hilang kala itu.
Dia ingin bertemu untuk selesaikan semua yang belum tuntas saat itu, tak terasa sudah 3 bulan lamanya tidak ada kabar tentangnya. Aku pun sama meski sulit sekali membendung rindu ini, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menghubunginya. Berusaha berkomitmen dengan apa yang sudah ku putuskan sendiri untuk pergi dari hidupnya.
Aku pergi bukan tanpa alasan…
tapi mengapa tidak kau lakukan itu sejak dulu, sebelum memutuskan untuk menikah dengan orang lain?... pikirku dalam hati.
Dia seseorang teristimewa di hatiku, tapi dia bukan suamiku...
Dia hadir tepat ketika sesaat aku berusaha bangkit dari keterpurukanku, meskipun tak banyak waktu bersama dengannya, tapi kebersamaan itu membuat aku tak mampu melupakannya seumurhidupku.
Kami saling mencitai..namun ketika kami ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius dan berencana mengenalkan ku kepada keluarganya. Dia terkesan untuk mundur dari ku. Aku sudah memprediksinya ini semua tidak akan mungkin terjadi. Ya… tidak akan mungkin terjadi, bagaimana kedua orang tuanya bisa merestui hubungan kami? Sedangkan usiaku terpaut jauh dari usianya. Usiaku kala itu lebih tua delapan tahun darinya. Bahkan orang tuaku sendiri sempat keberatan ketika aku menceritakan bahwa seseorang yang akan ku kenalkan berumur lebih muda dari ku.
Aku sempat ingin dikenalkan, waktu itu dia berjanji mengajakku ke rumah salah satu saudaranya yang masih satu kota dengan tempat tinggalku. Kebetulan keluarganya tinggal di luar kota akan berkunjung ke rumah saudaranya sekaligus akan memboyong dia untuk kembali ke kota asalnya. Sempat berpikir apa yang membuat mereka tiba-tiba memutuskan untuk membawanya pergi dari kota ku. Sudahlah yang terpenting saat itu aku bersiap diri untuk bertemu dengan keluarganya. Namun saat dalam perjalanan aku mencium gelagat yang tidak menyenangkan, karena sekiranya aku dibawa menuju rumah saudaranya mengapa akudibawa ke tempat lain. Dalam perjalanan pun beberapa kali dia menerima telp dari ibunya. Entah apa yang mereka bicarakan. Dan akhirnya memang benar dia tidak jadi mengajakku bertemu dengan orang tuanya.
Hari itu berlalu, tak ku tanyakan mengapa semua yang direncanakan batal. Aku juga berusaha tidak menghubunginya.
Keesokan harinya ku tunggu itikadnya untuk meminta maaf terlebih dahulu. Tapi sia-sia saja dari sejak pagi sampai sore tak kutemukan miss call atau sms di ponselku. Akhirnya aku memilih tidur cepat malam itu, karena ada tugas yang harus ku selesaikan pagi-pagi sekali.
Kring… kring… beberapa kali bunyi telp berdering terdengar ketika aku sedang asyik terlelap. Sempat ku abaikan. Tapi… karena penasaran aku bangun dan melihat siapa yang menelpon. Kulirik jam di ponselku, Pukul 00.10, ternyata itu dia yang beberpa hari ini ku tunggu telponnya. Sengaja tidak ku telpon ulang,
Ponselku berdering lagi, kali ini aku angkat.
“Assalamu’alaikum”. Dia menyapaku
Ku balas “Wa’alaikumsalam”. Dengan nada yang masih seperti malas-malasan.
“Kamu sehat kan sayang?”. Tanyanya
“Alhamdulillah sehat”. Jawabku
Kami berbincang lama sekali di telpon… tidak biasanya dia seromantis ini dan aku merasakan dalam setiap nada bicaranya Ada perasaan takut,
Akhirnya kata yang sebenarnya aku tunggu namun sekaligus kata yang paling tidak mau aku dengar terlontar dari mulutnya.
“Seandainya kita lahir di zaman yang sama, aku tidak akan melepaskanmu sedikitpun dari genggamanku”.
Sayangnya kita lahir di zaman yang berbeda”. Ucapnya
Aku sudah faham apa maksudnya, apa itu zaman… pasti dia ingin menyampaikan perbedaan usia ku dengannya. Tanpa sepatah katapun dariku, ku biarkan dia melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
“sehari sebelum orang tua ku ke kota mu, keluarga besarku berkumpul dan membicarakan tentangmu, aku sampaikan apa yang menjadi keinginan terbesarku. Namun sepertinya tidak seperti gayung bersambut. Mereka tidak membiarkanku membelamu. Maafkan aku yang tidak bisa memilihmu”.
Jika dia ada di depanku saat itu, pasti dia akan melihat betapa air mata ini tak henti-hentinya membasahi pipiku. Aku berusaha agar nada suaraku tak terdengar parau karena menangis.
Saat itu aku tidak mengatakan apapun sebagai pembelaan atau berharap dia merubah keputusannya. Yang ku pikirkan saat itu, apapun yang terbaik untuknya. Biarlah pupus sudah harapanku kesekian kalinya memiliki seutuhnya seseorang yang ku cintai. Asalkan itu yang terbaik untuknya. Biarlah mungkin aku hanya bisa mencintainya dalam diam.
Nada suaranya pun dari jauh ku dengar sepertinya sama dengan ku, dia menahan sesaknya dada karena sulitnya bernapas. Itu pasti karena dia juga menahan tangis.
Dia memang berumur jauh di bawahku, tapi… sikapnya yang dewasa mampu meluluhkan hati ini. Pengalaman hidupnya yang membuat dia tau sekali bagaimana menghormatiku. Tak pernah sekali pun saat bersamanya dia melecehkanku apalagi melakukan yang dilarang oleh agama.
Aku merasakan sekali bagaimana dia menyayangiku, kasih sayang yang tidak pernah ku temukan sebelumnya dari setiap laki-laki yang mendekatiku. Pengetahuannya tentang agama yang dianutnya pun luar biasa mampu mengingatkan dan membimbingku. Mungkin karena dia pernah sekolah di Al- Azhar Kairo dan pernah monndok di pesantren. Menurutku dia sempurna untukku, tapi sayangnya mungkin akulah yang tak pantas mendampinginya. Dan itu pula yang selalu membuatku merasa memang sebaiknya aku harus mundur dan biarkannya menggampai mimpi yang masih begitu panjang untuknya.
Setelah malam itu, aku berusaha untuk menjauh darinya. Hanya sesekali menghubunginya kalau aku tak bisa menahan rinduku. Beberapa kali aku mengganti nomor ponselku agar tidak bisa dihubungi… namun sayangnya nomor telponnya tidak pernah ganti.
Aku baru tersadar dari lamunanku saat putri kecilku memanggilku…
“Ummi… dede mau mainan itu, tolong ambikan dong umi”. Ucap si mungiku
Hari itu tiba, saatnya aku harus pergi ke Negara Eropa dan Australia. Aku memenangkan lomba Olimpiade Guru Nasional yang juaranya bisa jalan-jalan sambil belajar atau istilah kerennya Study Banding. Semua bersiap-siap mengantarku ke Bandara Soekarno Hatta di Tangerang. Sedih memang harus meninggalkan putri keciku dengan papah dan mbahnya. Walaupun ini perjalanan yang bukan kali pertama untukku ke luar negeri. Tahun sebelumnya aku mendapat kesepatan untuk melaksanakan Jalan-jalan gratis ke Malaysia dari salah satu bank di kotaku. Namun tetap saja sedih rasanya meninggalkan putriku.
Sesampainya di Bandara kami semua menunggu pemberitahuan kalau penumpang pesawat termasuk aku harus segera memasuki pesawat yang akan ku tumpangi.
Panggilan pun akhirnya terdengar, aku masuk untuk memeriksa paspor dan diperiksa oleh petugas imigrasi. Saat aku berpamitan dengan keluargaku dan segera berlalu. Aku melihat seseorang di depanku sedang berpamitan juga dengan keluarga. Dan sepertinya dia sedang berpamitan kepada perempuan dan entah mengapa aku memandanginya terus. Aku seperti mengenalnya, seperti yak asing lagi. Setelah dia berbalik menghadapku aku kagetnya luar biasa… ternyata yang ku perhatikan tadi, pantas aku tidak menoleh sedikitpun karena ikatan emosi ini… dia banyak berubah sehingga membuatku pangling ketika bertemu dengannya. Tujuh tahun bukannya waktu yang sebentar tentunya untuk merubah seseorang baik fisik ataupun perilaku seseorang. Yang jelas dia pastinya lebih tampan sekarang, leih percaya diri dan lebih terlihat bersih.
Huft… Dia seseorang teristimewaku ada di depanku, dia pun sama sepertinya merasakan kaget yang sama. kami saling menatap, jika kekasih atau mungkin istrinya tidak menepuknya mungkin kami masih bertatapan. rasanya hati ini berdebar kencang, nafas pun serasa berhenti, aliran darahku seperti tak teraliri oksigen sehingga tubuhku menjadi dingin, tangan ku gemetar. Ya Tuhan… mengapa rasa ini masih sama seperti ketika dia berusaha mendekatiku. Saat aku berjalan melewatiinya . Akhirnya aku berlalu mendahuluinya untuk memasuki ruang imigrasi dan pemeriksaan paspor. Tak sadar dia mengejar langkahku yang sebenarnya sengaja aku buat sangat cepat agar tak melihatnya lagi. Aku sudah melalui pemeriksaan dan akhirnya kami menunggu bergiliran untuk masuk ke pesawat. Aku sengaja kucing-kucingan agar tak bertemu dengannya, untungnya aku dipersilahkan lebih dulu masuk ke pesawan. Sambil melangkah di dalam lorong menuju pesawat. Aku sempat berpikir, apa dia menaiki pesawat yang sama?... ah… sudahlah cukup aku menyakiti diri sendiri dengan terus mengingatnya. Aku mencari tempat dudukku, kebetulan aku dapat duduk di samping kaca jendela pesawat. Aku masukkan barang-barang ke bagasi.Aku rapihkan dan akhirnya aku bisa duduk dengan tenang. Penumpang di sebelahku sudah duduk juga di sampingku. Hanya satu penumpang yang belum ada di jajaran kursiku. Aku melihat pemandangan sejenak keluar jendela pesawat karena beberapa penumpang sedang sibuk mencari-cari tempat duduk dan membereskan bagasi masing-masing.
Entah kenapa aku menoleh ke kanan karena posisiku berada di jendela sebelah kiri pesawat. Dadaku berdegup kencang, dia di depanku sekarang. Dia ternyata duduk dekat penumpang sebelahku. Jadi kami hanya terhalang satu penumpang. Dia tersenyum, aku bingung harus balas gimana,. Akhirnya ku balas dengan senyum juga walaupun ku yakin dia faham senyumku yang sangat kikuk. Bagaimana tidak membuat aku jadi salah tingkah, beginisetelah kepergiannya waktu itu di boyong oleh keluarganya, sampai aku menikah dan bahkan sampai dia mengirim pesan lewat whatsApp kemarin. Kurang lebih 7 tahun sudah kami tak bersua, kami hanya berhubungan lewat telp dan social media. Sekali lagi dia berhasil membuat Rasanya dada ini berdegup kencang sekali, dunia ini seperti berhenti berputar, oh… Tuhan,… masih tak percaya seperti mimpi. Beberapa kali kami merencanakan untuk bertemu, tapi sepertinya takdir belum mempertemukan kami bertahun-tahun silam. Tapi hari ini… saat aku mencoba berhenti memikirkannya, berusaha untuk ikhlas kalau dia bahagia dengan perempuan lain. Dia ada di depan ku sekarang, duduk di samping ku meskipun tidak berdampingan langsung. Aku bingung harus menyapanya atau tidak, aku bingung bagaimana harus bersikap, ingin sekali menangis sekencang-kencangnya sampil memeluknya. Huft… tapi itu tak mungkin ku lakukan, aku ingat kalau aku sudah bersuami dan sudah punya putri yang cantik dan pintar.
Saat aku sedang bingung harus bagaimana dan banyak sekali yang berputar-putar di kepalaku. Penumpang di sampingku seorang laki-laki yang kebetulan dia juga pemenang lomba tersebut. Memecahkan keheningan, dia bertanya kepadaku dan menawarkan sesuatu kepadaku. Dia pemenang lomba juara 1, kalau aku pemenang lomba juara 3. Yah tidak mengapa buat ku. Pikirku saat itu. Yang penting aku bisa jalan-jalan ke luar negari seperti yang selalu aku impikan. Temanku bernama Rian, dia masih jomblo walaupun usianya sudah 28 tahun.
Pramugari dalam pesawat sudah mengingatkan kalau pesawat akan segera take off, sebelumnya pramugari tersebut memberikan pengarahan melalui microfon pesawat. Agar memperhatikan bagaimana menggunakan sabuk pengaman, menonton demonstrasi bagaimana jika pesawat tiba-tiba mengalami kecelakaan dll nya. Entah mengapa penumpang sebelahku dengan baik menawarkan untuk memakaikan sabuk pengaman itu. Jelas aku menolaknya, selain karena ada dia di sebelahku juga. Itu juga karena sudah 2 kali aku naik pesawat jadi sudah tau bagaimana caranya.
Pesawat segera take off penumpang disuruh berdoa sesuai agama masing-masing. Pesawatku pun akhirnya take off. Sepertinya perjalanan pertama kami ke Negara Autralia, sekitar enam jamanlah kami sampai di bandara Sidney di Australia. Saat sudah di udara, aku masih bingung harus menyapa terlebih dulu, atau bertanya sesuatu kepadanya. Nampak dia mau menyapaku, tapi beberapa kali penumpang di sebelahku mendahuluinya mengajak aku ngobrol dan bertanya sana-sini.
Enam jam untukku di pesawat sepertinya lama sekali… karena aku seperti tidak enjoy saat itu. Tadinya aku mau bertanya kepadanya, akan mengunjungi kota mana di Australia atau hanya transit saja. Tapi penumpang yang sekaligus teman baru ku itu bertanya lebih dulu kepadanya.
“Mas mau ke Autralia juga? Mau ke Kota mana?”.
“ oh… iya mas, saya menuju ke kota Addelaid Australia”.
Aku menguping pembicaraan itu, Australia?... pikirku, ko sama juga aku juga menuju ke addelaide. Mau apa dia di sana? Tanyaku dalam hati..
Temanku merespon jawabannya, “Wah… sama dong kita juga mau menuju ke Addelaide, mas ada kegiatan apa di sana? Atau memenuhi tugas kerja ya?”.
Jawabnya “ Aku mendapatkan tugas untuk meliput kegiatan pemenang lomba OGN, kegiatan sehari-harinya selama di Negara yang di kunjungi, mewawancarainya untuk keperluan pembuatan film documenter orang-orang berprestasi dan sukses dalam kariernya dalam dunia pendidikan”.
“Oh… ya kebetulan sekali kalau begitu mas, kami berdua ini adalah pemenang lomba yang mas sebutkan tadi”. Jawab temanku.
“Maksudnya?” tanyanya
“ Saya pemenang lomba juara 1 dan perempuan sebelahku ini bernama ibu Vina juga pemenang lomba juara 3, jadi nanti mas akan sering bersama kami”. Jawab Rian temanku.
“Oh… (dengan wajah kaget) benarkah?”. Jawabnya.
“Klo begitu perkenalkan saya Arfi yang akan meliput kegiatan mas dan temannya”. Jawabnya.
Mereka terus ngobrol, entah apa yang mereka bicarakan aku mulai tidak konsentrasi mendengarnya. Aku justru sedang berpikir sembari bersyukur dan bahagia kalau aku akan bersamanya selama 3 minggu ke depan.
Astaghfirullah… aku diingatkan kala itu, kenapa aku berpikir seperti itu? Pikirku.
Meskipun ini yang ku nantikan bertahun-tahun, dan mungkin juga penantiannya. Tapi tetap aku harus ingat, harus menjaga sikap dan hatiku.
Aku tidak mau menoleh ke arahnya, aku terus menatap awan-awan dari jendela pesawat. Mungkin karena lelah teman di sampingku sepertinya tertidur. Aku sudah mulai kikuk dan canggung lagi bingung harus bertanya atau diam. Ku pilih untuk diam saja.
“Kamu sehat V?”.tanyanya mengagetkan aku yang sedang asyik dengan lamunanku.
“Oh..iyaAlhamdulillah aku sehat”. Aku tidak bertanya lagi, kali ini aku tidak mau menjemput bola. Aku ingat kata-kata terakhirnya di pesan whatsApp kemarin. Aku takut salah bersikap dan berkata.
“ Selamat ya… sudah memenangkan lomba yang bergengsi ini”. Ucapnya
“Iya terimakasih”. Aku jawab selalu dengan kata-kata yang singkat
“Kita akan bersama-sama selama 3 minggu ke depan”. Apa kamu senang? Tanyanya.
“Kenapa pertanyaannya seperti itu?”. Tanya ku balik
“Memangnya kamu tidak senang ya bertemu lagi dengan ku?, bukankah ini yang selalu kita harapkan?”. Tanyanya lagi.
Aku diam saat itu tak bisa menjawabnya, ada pramugari yang sedang menawarkan makan siang karena sudah waktunya makan siang.
“Mau makan dengan menu apa bu?”. Tanya pramugari itu.
“Kami menyediakan nasi putih dengan ayam bumbu kacang, nasi dengan daging sapi atau nasi goreng dengan telur dadar dan sosis”. Pramugari itu menjelaskan
Belum sempat aku jawab dia langsung memilih menu untu kami berdua. Kebetulan Rian baru terbangun karena kami.
Aku kaget dia memilihkan menu makanan yang aku sukai,
“Nasi goreng telur dan sosis, minumnya teh manis hangat untuk dua orang”. Ucapnya
Ternyata dia masih ingat apa makanan kesukaanku, tanpa berpikir panjang aku langsung memakannya karena memang perutku sudah keroncongan menahan lapar. Tapi tiba-tiba aku teringat dia bersama perempuan tadi, mesra sekali gaya berpamitannya. Siapakah dia, istri atau pacarnya?
Tanyaku pada diri sendiri.
Tak terasa air mata ini menetes rasanya ada rasa sakit sekali, kenapa aku jadi cemburu? Membuat selera makanku mendadak hilang. Aku hentikan makanku dan meminum beberpa teguk air teh manis hangat.
Rian bertanya “Kenapa tak dihabiskan bu makanannya?”.
“Oh… sepertinya perutku belum terasa lapar karena tadi di bandara aku sudah makan”. Jawabku…
Setelah kami selesai makan pramugari yang menawarkan makanan dan minuman tadi mengambil peralatan makan dan sisa makanan untuk dibawa.
Karena sedari tadi aku menahan ke toilet padahal sudah tak tahan lagi ingin buang air kecil, akhirnya aku berdiri untuk ke tolilet. Aku meminta tolong Rian dan dia bangun dari tempat duduknya karena aku tidak bisa lewat. Pesawat yang kami tumpangi adalah Qantas Airways, kami mendapat kelas ekonomi. Tapi lumayan lah walau kelas ekonomi tapi sama mewahnya dengan Garuda Indonesia. Jadi kalau mau ke toilet ya harus izin penumpang sebelahnya. Karena tidak bisa lewat.
Saat aku berdiri dan mulai melewatinya tak ku sadari posisi kami jadi berhadapan dan sangat dekat sekali, Ya Tuhan… dadaku berdetak kencang sekali, aku cepat-cepat melangkah agar tak ketahuan kalau dadaku berdetak kencang. Selesai ke toilet aku menuju tempatku tadi, otomatis membuat kami jadi berhadapan lagi. Saat berhadapan untuk kedua kalinya, sambil berbisik dia katakana “Pertanyaanku belum kamu jawab tadi”. Aku tak mengiraukannya… aku duduk kembali di bangku ku.
Untungnya Belum sempat aku menjawab rupanya Rian mengajak berbincang lagi dia.
“Mas masih sendiri atau sudah berkeluarga?”. Tanya Rian. Klo saya belum berkeluarga mas,… masih pengen berpetualang dan berprestasi lagi.
Entah kenapa saat Rian bertanya itu, aku sepontan menoleh ke arahya.
“Saya sudah berkeluarga mas”. Jawabnya…
Rasanya petir menyambar kepalaku dan mebuat mataku terasa pedih sehingga menumpahkan airnya. Aku segera menoleh ke arah kaca jendela sebelah kiriku. Sambil meyeka air mataku yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Dalam hatiku, semoga tak terlihat oleh mereka.
Setelah 3 jam kemudian akhirnya informasi yang disampaikan pramugari di pesawat membangunkan lamunanku.
Pesawat akan segera landing, penumpang diharapkan memasang sabuk pengamannya lagi. Pesawat akan mendarat di bandara Internasional Sidney Autralia. Kemudian kami akan menaiki pesawat kecil menuju Addelaide.
Pesawat landing dengan selamat, Alhamdulillah kami semua sampai dengan selamat gumamku dalam hati. Semua penumpang termasuk aku sedang bersiap-siap keluar sambil membawa barang yang ada di bagasi. Tidak banyak barang yang ku bawa di bagasi pesawat. Yang lainnya koper-koper besar sudah ada di bagasi khusus barang-barang yang besar dan berat.
Dua orang laki-laki itu berdiri di depanku, mereka menunggu ku sambil keluar dari pesawat. Kami langsung naik menggunakan bus menuju bandara untuk menunggu menaiki pesawat selanjutnya. Aku berjalan membelakanginya bersama teman teman yang lain. Sepertinya dia mengeluarkan kamera dan mulai magambil gambar kami. Aku menuju toilet dan mencari tempat agar bisa solat. Tak ku sadari ada yang mengikuti ku. Dua orang tadi dia dan Rian. Dia menawarkan untuk solat berjamaan dan jamak qasar solat Dzuhur dan Ashar.
Ya Tuhan, seperti mimpi… dia ada di depanku sekarang. Menjadi imam solatku.
Selesai solat aku mencari tempat untuk duduk agar bisa menelpon keluargaku, aku sengaja menghindari sebisanya.
Pesawat yang akan membawaku ke Adelaid sudah siap untuk berangkat, aku bergegas menuju pesawat kecil itu. Beberapa pemenang dan tim yang lain ikut bergabung dalam pesawat yang sama.
Tadinya aku pikir posisi tempat duduk boleh di mana saja, tapi tetap menggunakan nomor duduk meskipun pesawat itu lebih kecil, pastinya agar tidak semrawut dan lebih tertib. Kali ini aku duduk tidak di sampingnya. Perjalanan yang kami tempuh ini selama dua jam menuju Adelaide. Selama 6 jam menuju bandara Internasioal Sidney, aku berusaha terjaga untuk tidak menutup mataku. Karena lelah kali ini aku tertidur pulas.
Saat bangun pesawat sudah hampir landing. Alhamdulillah… gumamku dalam hati.
Sebelum menuju tempat tinggal di rumah-rumah warga Adelaide Australia kami berkumpul untuk mengikuti pengarahan sambil disuguhi minuman khas Adelaide.
EmoticonEmoticon