Cinta tak Harus memiliki
Tepat dua tahun yang lalu kami melangsungkan pernikahan, usiaku 22tahun dan suamiku 26tahun, karna hidup didesa usia 22tahun membuatku dicap sebagai perawan tua oleh orang-orang disekitarku.
"Apa yang ditunggu? Anak perempuan itu lulus SMP sudah cukup, tidak usah terlalu berlebihan, kalo orang tuanya petani, anaknya gak akan jauh beda pasti jadi petani juga" ucap bapak tua itu yang jika nyinyir, emak-emak rempongpun akan kalah.. "kamu itu kebanyakan gaya Lis, gak punya bapak aja sok-sokan Kuliah". Mendengar hal itu, Rasanya ingin aku siram saja bapak itu dengan air kotor ditimba yang ku pegang disungai, tapi aku tahan karna ada ibu yang melarangku melawan orang yang lebih tua.
"Suatu saat nanti akan aku beli mulutmu itu" grutuku yang saat itu masih berusia 19tahun.
Aku memang hanya tinggal bersama ibuku, Ayahku telah tiada sejak Usiaku masih 15bulan.
________________
Diusia pernikahan yang ke-2 dan dalam penantian mempunyai keturunan yang belum terjawab membuatku terkadang merasa jenuh, Sedih dan kecewa.
Jenuh dengan aktifitas yang monoton tanpa ada gangguan tangisan bayi disetiap waktunya.
Sedih ta mampu membuktikan kepada orang-orang bahwa akupun bisa memiliki keturunan.
Kecewa karna merasa belum bisa memberikan keturunan kepada pasangan.
Namun berbeda dengan Suamiku, ia Hebat.. Suami hebat yang Tuhan kirim Untuk mendampingiku.
Dengan selisih Usia 4tahun Ia mampu menjadi Kakak, Teman, Sahabat dan Ayah untukku, saat ia pulang kerja ta jarang ia dapati aku menangis dikamar, menangis karna tak mampu menahan sakit hati saat dikatakan mandul oleh orang-orang disekitar, walau Ia selalu berkata untuk tidak usah mendengarkan ocehan orang tetapi hati kecilku tetap tidak mampu menolak kutukkan itu dengan baik.
"Sabarlah Mah, jika sudah waktunya Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita, jangan lupa selalu berdoa ya" dikecupnya keningku lalu menyuruhku segera merapikan diri..
"mau kemana Yah?" Tanyaku masih sesenggukan karna berjam-jam menangis didalam kamar.
"Kita kerumah Agas, main-main sama dia biar Mama gak jenuh dirumah terus"
Agas adalah anak kakakku yang kini seumuran dengan usia pernikahanku.
Sesampai dirumah Agas, aku dapati kakak iparku sedang menggendong bayi berusia sekitar 5bulan.
"Anak siapa itu mbak? Kok aku gak pernah lihat sebelumnya"
"Anaknya mbak Ira te, tetangga sebelah yang baru pulang dari medan"
"Sini mbak biar aku yang gendong siapa tahu ntar bisa nular" hiii tawaku
Saat dalam gendonganku bayi itu menangis
"Gendong gitu aja kaku sampeyan Mah"
Goda Suamiku, Karna aku memang tidak pernah menggendong bayi sekecil itu sebelumnya.
Digantilah Suamiku yang menggendongnya mencoba menenangkan tangisannya.
Memang lebih mahir dia daripada aku, saat berada digendongan suamiku si bayi tidak lagi menangis.
"Siapa namanya mbak?"
Rara Te, Rara Ramadhani..
_______________
__*Rara Ramadhani, bayi kecil yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya olehku bahwa dia akan menjadi bagian dari Hidupku, Bagian dari Cintaku*__
Setiap aku kerumah kakakku aku juga selalu bertemu dengan Rara, ia sering dititipkan ke kakak iparku jika ibunya sedang menjaga warung.
Rara adalah anak ketiga, kakak pertamanya masih Usia 5tahun dan kakak keduanya Baru berusia 3tahun.
Pernah juga anak itu nginep dirumahku selama 2 hari..
Rasa yang sangat luar biasa saat Rara menginap dirumah, aku dan suami sangat bahagia saat tengah malam harus begadang menemani Rara yang tidak mau tidur..
"Suatu kebahagian bagiku bisa merasakan begadang tengah malam karna ada anak yang tidak mau tidur, begadang yang terkadang sangat tidak disukai ibu-ibu yang memiliki bayi".
Kini Usia Rara sudah memasuki Usia 7bulan, dia juga sudah seperti mengenal ku dan suami sebagai orang tua keduanya.
Setiap aku main kerumah kakaku Rara selalu menangis minta digendong suamiku..
_________________
Sore itu ada panggilan masuk di Handphoneku "Mama Agas"
"Assalamualaikum, te bisa kerumah"
"Waalaikumsalam, ia mbak, ada apa?"
"Kerumah saja, nanti kita bicara dirumah"
Setelah 30menit perjalanan akhirnya sampai dirumah Kakakku, disana juga Ada mbak Ira dan ketiga anaknya.
"Lho ada apa ini kok bawa-bawa koper?, Rara juga kenapa mbak kok dikompres?"
"Rara Panas te, ini baru pulang dari puskesmas"
"Oww jadi karna Rara sakit ya, makanya aku diminta kesini" digendonglah Rara oleh Suamiku, memang anak itu sangat dekat dengan suamiku, sepeti seorang Ayah dan anak kandungnya saja.
"Te, mbak Ira mau ngomong sesuatu" ucap kakak iparku, "ayoo wes mbak, katakan pasti Lisa mau kok" lanjutnya
"Mbak Lisa, aku berniat mau nitipkan Rara tinggal bersama Mbak, tolong Anggab Rara sebagai Anak kandung mbak, tolong ya mbk" pintanya
"Kenapa mbak? Mbak mau kemana?"
"Aku mau balik ke medan mbak, percuma aku disini toh suamiku gak inget sama aku dan anak-anakku"
"Suami mbak memangnya kemana?"
"Dia menikah lagi mbak, menikah lagi dengan Purel yang katanya sedang hamil anaknya dua bulan"
"Jadi selama 2bulan ini ia tidak pulang ternyata sudah menikah lagi mbak, katanya ia dipaksa menikahi selingkuhannya itu, kalo tidak orang tuanya akan melaporkannya kepolisi" lanjutnya
"Terus mbak Ira mau cerai?" Tanyaku
"Rencana seperti itu mbak Lis, biar nanti aku urus, yang terpenting aku titip Rara ya mbak, karna ditempat kerjaku tidak boleh membawa lebih dari dua anak"
"Anggab saja Rara anak mbak Lisa, tapi tolong jangan benar-benar diambil ya mbak karna aku sayang dia, nanti kalo mbak Lisa sudah punya anak,Rara akan kembali aku ambil"
Sebenarnya aku mengharap Rara menjadi anakku untuk selamanya tapi apa daya, ibunya masih memberatkan tidak mungkin aku memaksakan kehendakku memiliknya seutuhnya.
Aku dan suami menyetujui permintaannya, aku tau perasaannya saat itu, harus rela menahan rasa sakit hati karna dikhianati suami dan juga harus ikhlas hidup jauh bersama buah hatinya yang kini sedang sakit dan harus ia tinggalkan bersama oranglain yang sebelumnya tidak pernah dikenal.
______________
Malam itu Aku dan suami antusias dengan adanya keluarga baru dirumahku, saat aku belanja perlengkapan bayi, ibu menelfonku memberitahu bahwa Rara panas tinggi, Diare dan muntah-muntah, rasa khawatir sangat luar biasa aku rasakan, takut terjadi apa-apa dengan Rara, "apa yang akan aku ceritakan jika Rara ta bisa dselamatkan" fikirku
Dibawanya kerumah sakit, dokter mengatakan Rara muntaber, sungguh situasi yang sangat panik, untuk memberi kabar ibu kandungnyapun aku tidak berani..
Rara mulai kejang, membuat kekhawatiranku semakin bertambah. "Ayoolah nak, sembuhlah untuk Mama dan Ayah sayang, kamu anak Mama sayang, tidak akan Mama biarkan kamu menderita sayang" kubiskan kata-kata itu ditelinganya.
Rara menangis sekencang-kencangnya "Yayah..Yayah" ia menangis minta digendong Ayahnya, sosok Ayah yang ia tahu ialah Suamiku, karna Ayah kandungnya sudah pergi meninggalkannya sebelum Rara mampu mengenalinya.. "Alhamdulillah ia sudah tidak kejang lagi.
Terimakasih Tuhan, engkau telah menyelamatkan peri kecilku"
"Kamu anak Mama sayang" ku kecup keningnya "kamu anak Mama walau tidak lahir dari rahim mama"
___________________
Satu bulan sudah Rara bersamaku, ia lebih dekat dengan Ayahnya daripada aku Mamanya, entahlah... mungkin karna suamiku lebih sabar merawatnya, ketika tengah malam Rara rewel minta Susu Suamikulah yang bangun untuk membuatkannya susu sedang aku masih terlelap dalam tidur.
"Bodoh banget sih kamu Lis, Mau capek-capek ngerawat anak orang, dapat apa kamu? Dibayar bulanan tah, ntar kalo dah besar ya kamu dilupakan" Suara nyinyir itu aku dengar dari mulut tetanggaku yang berkumpul membeli sayuran didepan rumah. "Kenapa kamu yang repot, yang ngerawat kan aku" jawabku.
"Kamu itu Bodoh Lis, lebih baik ngerawat anak sendiri daripada anak orang" mendengar perkataan ini rasanya ingin ku dorong saja itu ibu tapi aku tahan, tak ingin ada keributan pagi-pagi, aku gendong Rara dari babywalkernya ku bawa dia masuk, ta ingin berlarut-larut mendengar ucapan ta penting dari tetanggaku.
Rara menangis karna masih ingin bermain, akupun ta kuasa menahan airmataku, perkataan itu sangatlah menyakiti hatiku, dimana aku belum bisa merawat anak yang benar-benar terlahir dari rahimku sendiri.
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon