Pilihan
"Bang, sudah sadarkah?" Kugenggam tangannya, terasa dingin dengan raut wajah pucat.
"Elin ..." hatiku sakit, nama itu yang di sebutnya lagi.
"Ini aku Lina, Bang. Bukan Elin." Kudekati wajah nya, matanya mengerjap lemah.
"Elin! Jangan pergi!" Serunya sambil berusaha bangkit, tak mampu karena kesadarannya baru kembali akibat obat bius selepas operasi tadi malam. Nyeri makin menghujam di hati, bahkan alam bawah sadar nya masih mengingat nama Elin, dan bukan namaku.
"Lin, kamu disini?" Daud terkejut lalu menarik tangannya yang kugenggam. Tersayat sekali lagi dinding hatiku.
"Abang tak pulang tiga malam, dan sekarang ada disini tanpa kutahu sebabnya. Beruntunglah perawat jaga disini temanku, jadi nomorku yang dihubungi." Kucoba meredam emosi saat bicara padanya.
"Aku ada urusan." Jawabnya ketus seraya memalingkan wajah ke ambang jendela. Tak punya nyali menatap mataku.
"Urusan apa yang tak boleh kutahu, Bang? Aku isterimu, sudah dua tahun kita coba jalani rumah tangga kita." Kucari kejujuran di manik matanya, parasnya memerah saat pandangannya ke luar kuhalangi di dekat jendela.
"Kamu nggak perlu tahu, yang penting dirumah dan terima penghasilanku," Sergahnya gusar.
"Tapi penghasilan Abang pun aku tak tahu, lebih sering kurang padahal banyak lembur. Slip gaji pun Abang tak berikan." Ungkap ku tanpa sungkan lagi. Selama ini tak pernah kutanyakan karena menghargai setiap rupiah yang dia berikan. Berapapun itu meski jauh dari kata cukup.
"Sudahlah! Pulang saja dan tunggu dirumah." Daud menghardikku, dan itu menambah luka hatiku.
"Abang berubah sekarang," ucapku sambil memandang keluar jendela. Terlihat seorang perempuan memasuki pelataran rumah sakit. Bisa jelas kulihat karena ruang perawatan ini di lantai dua.
Akupun keluar dengan sesak di dada.
"Lin, gimana Abang?" Tanya perempuan itu, Elin, saat berpapasan di lorong gedung.
"Sudah sadar, dia menunggumu." Kupalingkan wajah karena aku benci dia. Perempuan yang masih tersimpan di hati Daud, bahkan sampai sekarang cintanya tak berubah.
"Maaf baru bisa kesini, waktu Abang minta didampingi operasi, aku sedang ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal." Jelasnya tanpa kuminta.
"Jadi Abang dirumahmu selama tiga hari?" Makin banyak sayatan tak berdarah di hatiku. Bahkan Daud tidak berterus terang soal sakitnya padaku.
"Abang menginap semalam saja sebelum masuk rumah sakit. Sakit kepalanya memburuk lalu kuajak kesini."
"Menginap?" Ya Tuhan, habis sudah hatiku menjadi serpihan. Ternyata Daud masih mengharapkan Elin, meskipun perempuan itu yang meninggalkannya dulu.
"Iya, tapi kami beda kamar kok," ucapnya gugup.
"Elin, aku bukan anak kecil dan kalian bukan bayi lagi!" tukasku kesal, "kalau kau masih menginginkannya, aku akan lepas kan."
"Bukan begitu, Lin. Aku udah nggak ada hubungan sama Abang." Ujarnya sambil menggenggam tanganku, kutepis karena panas hati.
"Elin, operasi syaraf Abang sudah terjadwal sejak lama. Abang merahasiakan padaku dan memintamu mendampingi. Menurutmu itu apa? Dia lebih menginginkanmu daripada aku!"
"Abang memang minta rujuk, tapi aku nggak mau karena sudah ada kamu, Lin."
Perih hati sudah tak dapat kutahan. Rasanya ingin meledak saat menyadari aku hanya pecundang. Menyakitkan memang, manakala menjadi orang kedua tapi di hatinya masih berharap pada cinta pertama.
"Kalau begitu kita temui Abang sekarang, dan dia harus memilih." Putusku sambil mendahului menuju ruang perawatan.
"Elin? Lina?" Abang tampak terkejut.
"Aku mau Abang putuskan sekarang." Kuhampiri dan kuraih tangannya di sisi kanan. Sementara Elin menggenggam tangan kirinya. Dan jantungku serasa terlepas, saat tangannya menepis dan membalas genggaman Elin.
"Kalian ini apa-apaan sih? Aku sakit tapi malah bikin pusing!" Daud gusar, dan rasa cintaku menguap, berganti benci. Jelas sudah pilihan nya hanya Elin.
"Bang, jangan egois! Aku tahu hati Abang masih untuk Elin, meski dia sudah mencampakkan Abang. Ternyata aku hanya pelarian dan Abang tak sungguh-sungguh mencintaiku." Kuungkapkan semua rasa kecewa dan penyesalan yang membuncah dalam dada. Dulu Daud melamarku setelah bercerai dari Elin, karena perempuan itu berselingkuh.
"Aku perlu waktu untuk berpikir." Daud berucap lirih.
"Tak perlu, Bang. Aku sudah tak ingin bersamamu. Cukuplah dua tahun kita belajar mencintai, tapi hari ini Abang sudah menunjukkan cinta Abang hanya untuk Elin." Kutinggalkan lelaki yang pernah memujaku, menikahiku, tapi cinta di hatinya bukan untukku.
"Lin, tunggu!" Elin berusaha mengejar dan menangkap tanganku.
"Kembalilah pada Abang, aku akan mengurus perceraian kami segera." Tegasku segera berlalu. Membawa serpihan hati yang masih tersisa.
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon