Ujian Cinta
Dia seperti pedang. Menembus hati dan merayu luka. Seolah mereka begitu mahir mengalahkan ombak. Entah sadar atau tidak, kalau sebuah ikatan terkadang tidak mampu untuk mengembalikan segalanya seperti sediakala.Dia menitipkan cinta di atas mimpi.
"Aku akan kembali berlayar," kata Taga.
Apakah aku punya hak untuk melarang Taga pergi? Dia bukan siapa-siapa. Kami hanya sepasang kekasih. Dan hal itu bukan berarti aku bisa melarang setiap langkahnya jika itu adalah mimpi.
Mimpinya.
Dan aku hanya bisa mendukung dirinya di tanah kelahiran. Agar ia tahu, ada tempat untuknya pulang. Meski aku tidak tahu, apakah hatinya akan tetap sama.
"Kau harus kembali."
Taga memelukku erat. Rasanya seperti terbang namun jatuh ketika ia melepaskanku. Dia tersenyum.
"Kau harus kembali," ulangku.
"Aku janji."
Dia pergi. Menyisakan kata-kata elegi yang melekat di kedua sudut mata. Jika ombak membawanya pergi untuk berlayar, apakah ia akan kembali untuk sebuah janji?
Jangan memilih pelaut jika tak sanggup setia.
Kalimat itu mengingatkanku pada ucapan Ai dulu.
Taga akan kembali. Aku yakin itu. Dia pasti ingat hari dan tanggal berapa kami akan menikah.
Tiga bulan lagi.
Namun, satu bulan lebih Taga tidak memberiku kabar. Jelas sekali, aku merasa takut. Dia bagian dari tentara yang menjaga perbatasan negeri.
Apa terjadi penyerangan? Apa dia baik-baik saja? Aku sungguh cemas. Takut pada jiwa. Gelisah dan merasa tidak berdaya.
Ketika kau hanya mampu tetap berdiri tegar sambil berdoa. Tidak bisa memikirkan berbagai macam kenyataan atau kemungkinan yang akan terjadi.
"Kau harus kembali."
"Aku janji."
Taga sudah berjanji padaku, batinku menangis.
Waktu semakin cepat berlalu. Tidak ada kabar darinya. Semakin aku memikirkan Taga, rasanya begitu berat. Berbagai macam pertanyaan itu muncul seiring hari pernikahan kami semakin dekat.
Apa Taga tidak mencintaiku? Apakah ia pergi dan meninggalkanku begitu saja. Atau, dia tidak ingin menikah?
Beginikah rasanya menjalin cinta dengan seorang tentara? Aku hanya bisa menunggu dan menunggu, berharap ia akan kembali.
"Tersenyumlah, bukankah sebentar lagi kau akan menikah."
Ai menarikku untuk bangkit dari sofa. Dia begitu ceria untuk seorang gadis mungil.
"Kau harus memilih gaun pengantin. Aku sarankan dengan tiara indah yang panjang, untuk menutupi wajahmu dari Taga."
Aku memberinya seulas senyum.
°°°
Tiga hari lagi.
Wajahku tidak mampu lagi menyembunyikan semua perasaan yang ada. Keluarga Taga juga tidak mendapatkan kabar. Tapi mereka tetap menyakinkanku bahwa putra dan adik mereka akan menepati janjinya.
"Sayang ..."
"Ya?"
"Ada surat dari teman seangkatan Taga. Ini titipan darinya."
Semoga yang aku bayangkan tidak terjadi.
Aku membuka surat itu dengan berbagai rasa. Rindu, takut dan khawatir.
----+++-----
Untuk Shanya ... aku mencintaimu.
Kau masih ada di hatiku paling dalam. Sampai kapanpun itu. Kau percaya? Hanya dirimu.
Aku ingin pulang dan menikah denganmu. Hanya saja, aku tidak layak untukmu. Kami, batalion terdepan mengalami masa-masa sulit di tengah samudra. Ada tiga kapal besar yang menyerang pangkalan di wilayah laut Pasifik.
Shanya ...
Masihkah kau mau menerimaku. Saat wajahku tidak seperti dulu, wajah yang kau kenal kini sangatlah mengerikan. Masihkah kau yakin akan berjalan bersamaku? Saat aku tidak memiliki salah satu tangan yang terbiasa menggenggammu.
Dan aku tidak punya sepasang kaki untuk melangkah.
Aku tidak pantas untukmu. Taga yang kau cintai kini bukan lagi pria yang bisa kau banggakan.
Aku cacat.
Masihkah kau mau menikah denganku?
Lupakan aku, ini demi kebahagiaanmu.
----+++----
"Taga ..."
Aku tidak mampu lagi untuk berdiri. Menangis sejadi-jadinya di hadapan ayah, ibu, sahabat dan saudara. Aku tidak peduli!
"Apa isinya, Nak?"
Ibu mengusap rambutku pelan. Aku memeluk wanita yang telah melahirkanku erat.
Bagaimana bisa?
Bagaimana caranya melupakanmu dalam satu hari. Jika tiap detik aku mencintaimu.
"Aku akan tetap menikah dengan Taga. Tidak peduli apapun yang terjadi padanya."
"Benarkah?"
"Ya!"
Aku begitu mudah marah sampai-sampai membentak orang yang bertanya.
"Aku mencintainya meski wajahnya jelek sekalipun. Aku tetap memilihnya meski tidak memiliki satu tangan dan kedua kaki. Karena dia,"
"Napas," tambah seseorang yang sempat di bentak olehku.
Suara itu?
"Taga?"
Aku melihatnya.
Dia berdiri dan tersenyum hangat. Tidak ada yang kurang padanya. Jadi?
"Maaf, maafkan aku."
"Kaukah ini?"
Bangkit dan meraba wajahnya berkali-kali.
"Ya."
"Aku membencimu!"
"Aku mencintaimu."
Taga membohongiku. Dia mengujiku, apakah aku menganggapnya berarti meski dia tidak sempurna.
Ya, aku tahu. Setiap lelaki punya caranya sendiri untuk melihat ketulusan seseorang.
Dan aku, mencintai Taga karena hatinya. Bukan fisik yang ia miliki
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon