Selasa, 20 Maret 2018

Sepeda, Sawah, dan Kamu

Hasil gambar untuk FOTO CITA DALAM DIAM PIXABAY
PHOTO BY PIXABAY

Sepeda, Sawah, dan Kamu

PROLOG

Nandi menuliskan kata hatinya pada satu buku yang yang Nongki sukai:
“Aku tak pernah tahu seberapa dalam antara cinta dan sayang itu akhirnya menyatu.Yang kutahu hanyalah di titik akhir kehidupan, di titik akhir usia produktif—kita inilah muncul rasa cinta dan sayang itu setelah berpuluh-puluh tahun sembunyi dan mungkin sengaja kita lupakan. Sebenarnya, kata ‘mungkin’ di sini adalah pradugaku saja. Kekhawatiranku saja. Sebab engkau terlalu istimewa saat datang kepadaku.

“Sekarang, hampir saja bisa kupastikan bahwa cinta dan sayang itu bukan hanya dilihat dari mana yang paling berat kadarnya. Dari mana salah satu yang akan menyatukan kepada yang lainnya. Atau dari mana yang akan lebih dominan. Atau mungkinkah keduanya saling beriringan datang sampai-sampai kita kehabisan kata-kata? Sebab begitu mereka menghampiri kita, tentu saja mereka tidak memikul pertanyaan. Kitalah menanggung beban. Satu beban yang berpuluh-puluh tahun sudah kita kira arahnya.

“Mereka serupa kita. Adalah kita yang tercerahkan oleh badai bercampur gelombang tinggi yang datang tanpa henti. Hampir-hampir saja kita tenggelam. Tak ada yang menolong. Tak ada yang peduli. Kecuali satu kekuatan terakhir yang harus kita munculkan. Ialah satu keberanian mengubah keadaan yang tak pasti menjadi pasti. Keadaan yang tiada menjadi ada. Cinta dan sayang tadi.
“Cinta dan sayang yang datang kepadaku ini, tentu ada musababnya. Mana mungkin cinta dan sayang itu begitu saja datang tanpa pernah ada ketukan pada pintu kita? Ada sejarah di sana. Ada ketukan di sana. Sebagaimana engkau lari ke Utara dan aku lari ke Selatan, tetap saja langit itu sama kita lihat. Terkadang biru yang cerah atau biru yang gelap. Berkapas-kapas awan hitam berusaha menutupi langit yang padu. Langit kita. Itulah takdir kita yang dijatuhkan serupa hujan. Benarkah hujan turun tiba-tiba saja tanpa ada tanda-tanda? Tentu saja hujan turun dengan banyak tanda-tanda. Takdir kita. Tentu ada tanda-tanda.

“Menyerahlah aku dan menyerahlah engkau. Kita takkan jauh-jauh lari. Sebab langit kita sama. Menyerahlah aku dan menyerahlah engkau. Waktu kita teramat sedikit.”
Sementara Nongki pun menuliskan kata hatinya kepada buku yang Nandi sukai:
“Bukan lagi tak kukenal masa kecil kita itu. Aku ada di sana dan engkau pun ada di sana. Cinta tumbuh bersama satu keadaan. Aku pergi dan engkau masih setia di sana. Ada satu waktu seperti lubang yang dalam. Aku terperosok di dalamnya dan terjebak tak bisa kembali. Lucunya, engkau kulihat di atas serupa bayang-bayang hantu yang berjalan-jalan. Melintasi diameter lubang yang besar dan melayang-layang di atasku. Keadaan di bawah amat gelap. Sedangkan keadaan di atas sungguh benderang. Aku ingin menjumpai engkau tetapi engkau bergeming. Aku memanggil-manggil dan engkau seolah menutup kedua telinga. Akhirnya aku hanya diam di sini hingga seseorang lain mendorongkan tangannya yang panjang. Sungguh tangan yang panjang sekali. Dan aku tak peduli itu tangan siapa. Aku menyambutnya sebab di sini sungguh mengerikan. Lubang yang dalam bagai lubang kematian. Aku sampai di atas dan engkau sudah tiada.

“Nandi, begitulah masa kecil kita. Sedikit harapanku waktu itu masih menyala-nyala dan baru kusadari itulah cinta dan sayangku kepada engkau. Aku tidak ada persiapan dan basa-basi. Cinta dan sayang itu datang begitu saja tanpa bisa kutangkal. Aku menunggu dan menunggu, dan akhirnya meninggi.

“Sungguh engkau kurasakan teramat sibuk dengan egomu. Lalu aku pun sibuk mencoret-coret masa kecil kita. Coretan yang kucoretkan dengan air mataku. Tinta masa kecil kita pun luntur seketika. Aku lari ke seberang samudera untuk melupakan engkau dan masih saja kudengar engkau sibuk mematutkan egomu di cermin. Engkau selalu sibuk dengan kesendirian sementara aku butuh pelukan. Butuh keyakinan dari engkau. Butuh kehangatan. Butuh jawaban dari engkau. Butuh kata-kata yang hilang. Sayang, tangan yang datang itulah kini menjadi tambahan tanganku. Tangan yang asing lama kelamaan menjadi dekat. Sedekat masa kecil kita.

“Nandi, pertemuan kita di ujung usia ini sungguhlah mengejutkan aku. Telah engkau lihat sendiri aku menjadi apa dan kulihat engkau mengapa jauh berubah. Aku pun heran, entah dari mana datangnya kedekatan ini padahal kita seperti di luar waktu dan ruang. Mungkin bisa dikatakan aku menguasai ruang dan engkau menguasai waktu. Padahal, Nandi, mana mungkin ruang dan waktu berdiri sendiri-sendiri? Bukankah ruang tanpa waktu adalah kefanaan? Begitupun sebaliknya. Kefanaan.
“Aku dengan tangan yang asing dan engkau sama. Lalu tangan-tangan asing itu menjadi bertambah asing setelah lama kita kenal. Serupa monster-monster kutub yang membuat beku di ujung usia kita. Sadarkah aku dan engkau berjalan menuju kefanaan? Apakah engkau sadari, kedatangan tangan cintamulah yang membuatku kembali bergairah. Namun apakah tangan engkau bisa menyatu dengan tanganku? Entahlah. Entahlah. Beban pikiranku sudah tidak selapang dulu. Sekarang teramat sempit. Bahkan aku hanya bisa bergerak jika terluka. Luka yang dalam. Luka yang basah. Luka yang panjang. Ialah tangan-tangan bukan tangan engkau yang kian memelukku rapat dan susah kulepaskan. Aku hidup dalam luka dan sulit tumbuh harapan baru. Sesungguhnya aku sudah tak sama dengan yang dulu.

“Nandi, beri aku waktu yang tersisa itu. Walaupun mungkin tak ada lagi sisa waktu yang akan habis dimakan kefanaan ini. Ya, aku ingin mencoba merajut pelan-pelan cinta dan sayang itu. Ya, aku ingin menikmati sisa waktu bersama engkau sampai kefanaan itu datang. Apakah aku nanti yang lebih dahulu pergi atau engkau yang lebih dahulu pergi? Atau siapa nanti yang akan menangis lebih dahulu saat satu dari kita pergi? Atau kita sama-sama pergi? Engkau tahu, kematian ini begitu dekat. Begitu dekat. Aku hampir-hampir memeluknya jika engkau tak muncul tiba-tiba. Engakulah memberikan napas baru dari napas-napasku yang telah lama sesak. Ada udara baru yang segar di sana. Kuhidu dalam-dalam napas segar itu. Napas engkau. Napas engkau yang dapat menghiburku. Napas engkau yang membuatku tersenyum. Membuatku tertawa dan membuatku kembali ke masa kanak-kanak dengan kulitku yang hitam serta bersepeda kita sepuas-puasnya di sawah perumahan kita yang kini sudah tiada. Perumahan kita yang dulu banyak hijau sawah-sawah.
“Nandi, apakah Subuh kita di sana masih sama?”

Setahun kemudian buku-buku itu sampai. Mereka membaca tulisan akhir pada bagian lembar-lembar kosong di halaman paling belakang. Itu buku menjadi kerinduan bersama. Kerinduan yang belum bisa dituntaskan dengan jarak yang tak tepermanai.
Nandi membacanya sambil berlinang-linang. Nandi tahu kesalahannya dulu. Nandi tahu betapa besar cinta dan sayang itu ada, dulu. Dan Nandi tahu mengapa ia dulu menghindar.

Sementara Nongki pun sama. Setumpuk tisu kering kini menjadi berat karena basah. Nongki tahu betapa Nandi cinta dan sayangnya begitu besar. Nongki tahu bahwa garis takdir itu kini sudah tepat di atas kepala mereka. Dan Nongki tahu apa kata akhir hatinya. Kata hati yang sekarang menjadi tak pasti. Tak seperti dulu. Kehidupan yang mereka alami tak sama lagi. Kehidupan yang panjang penuh duri-duri yang tajam. Duri-duri yang menyengat ialah tangan-tangan asing yang belum bisa pergi. Tangan asing yang telah lama memeluk Nongki. Tangan asing yang berada di garis cinta dan tidak. Mungkinkah cinta itu bisa berbagi bilangan? Bukan hanya satu?

Nandi selesai membaca. Ia yakin satu hal yang tersisa. Buku milik Nongki masih menyisakan beberapa lembar yang kosong. Sebagai penulis yang tak ada memiliki karya-karya besar, betapa pantang membiakan kertas-kertas kosong itu abadi di dalam kekosongannya. Nandi tersenyum setelah kering dan pecah-pecah bibirnya memikirkan segala tulisan Nongki. Nandi kagum bahwa gadis kecil yang dulu bersamanya itu berhasil menuliskan kalimat demi kalimat yang indah dan mengiris. Kalimat demi kalimat yang berubah menjadi silet. Nandi rela diiris-iris hatinya saat ini oleh kerinduan. Tak perlu banyak kerinduan kini Nandi butuhkan. Se-zarah kerinduan bagi Nandi sudah cukup untuk membuat Shakespeare cemburu dan menggerundel di dalam kuburnya.


EmoticonEmoticon

Popular Post

Laman