Sabtu, 24 Maret 2018

Rombong

Rombong

ROMBONG


Pagi, ayam jantan mak sudah membangunkanku dari tidur, perlahan ku buka mata mencari mak yang sudah ku ketahui keberadaannya. Bergegas tapi pelan aku mengayunkan kaki menuju dapur, ternyata benar ada mak sedang sibuk memasak menu sarapan pagi ini. Mak menyadari kedatanganku dan tersenyum, lalu kembali meniup api di dalam tungku. Aku seperti biasa duduk bersandar di tiang pintu dapur sambil melihat mak dan ayam yang berseliweran minta makan.
Kak Rini, dedek Aris sudah dari tadi bangun. Kak Rini sedang sibuk mencuci piring di sumur, dia terlihat sedikit buru-buru, mungkin hari sudah sedikit siang, dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi artinya waktunya bersiap berangkat ke sekolah sudah dekat.
Sedang adek juga sudah rapi mengenakkan seragam merah putih dari tadi siap menunggu sarapan di sajikan mak.
Bapak tidak kelihatan, biasanya setelah sholat jama'ah subuh di Masjid cuma sebentar singgah di rumah, untuk salin pakaian kerja lantas bergegas ke sawah pak haji, kata mak seperti itu. Dan pak haji baik, sering kasih kerjaan untuk bapak dan sarapan juga di sana.
Namaku Retno rahayu puteri nomor dua dari bapak barokah dan bu sulastri. 12 tahun yang lalu aku di lahirkan oleh ibu dengan kondisi sungsang dalam kandungan, Alhamdulillah aku masih bisa selamat. Dan sehat.
Sarapan sudah siap, saatnya kami menyantapnya, Adek tampak makan dengan lahap tiwul dengan lauk daun singkong tumis, seadanya. begitupun kak Rini. Sedang mak lebih memilih menyuapiku terlebih dahulu setelah itu baru giliran mak, Tampak wajah mak yang mulai keriput itu semringah melihat anak-anaknya lahap menikmati makanan yang di sajikan, walaupun menunya sederhana.
"Ayo le, nduk, di wareki leh ma'emee yo, gek ndang sekolah nko lek kawanen ,..."!?. Sambil menyiapkan dua gelas air putih berisi hampir penuh. Lalu kembali menyuapiku.
Mak sangat menyayangi kami, terlebih aku. Mungkin karena aku gak nakal seperti teman adek yang sering main di halaman, karena sering ambil gundunya adek waktu bermain.
Mak pernah bilang anak-anaknya harus rajin belajar, mak gak mau anak-anaknya gak sekolah, biar gak bodoh seperti mak katanya. Harus pinter dan jadi orang sukses. Tapi bagi kami mak dan bapak adalah orang terbaik sedunia, yang menyayangi anak-anaknya.
Mak sangat menyayangiku, tiap pagi di mandi'in, makan di suapin dan tidur pun selalu di kelonin dan sangat di istimewakan dan begitu di manjakan,
Mungkin karena itu juga mak belum mau pisah denganku, sehingga sampai saat ini belum juga di izinkan bersekolah seperti teman seusiaku yang lainnya.
Hari sudah mulai siang, Adek, kak Rani sudah berangkat ke sekolah. Dan mak seperti biasa kerja mencari penghasilan tambahan membantu bapak. Mak kerja apa saja dari mulai buruh tanam padi, sayuran dan lainnya. Dan mak bilang hari ini kerja di sawah bu Retno, tetangga sebelah rumah membantu menanam padi di sawah dengan upah setengah hari 'dua puluh lima ribu rupiah'. Mak sangat senang karena jarang ada yang minta bantuan seperti itu, mengingat sangat sedikitnya lapangan kerja.
Mak pun menggendongku lalu di bawanya ke dalam Rombong. tempat biasanya aku menunggu mak pulang.
Sudah 4 tahun aku di rombong, sejak berusia 8 tahun karena kata mak biar aku gak di culik orang.
Setelah di beri roti dan mainan dan ciuman di pipi kiri dan kanan mak pun berangkat. Jenuh ...?
Sudah pasti, karena aku cuma bisa melihat anak-anak seusiaku bermain di jalanan sedang aku diam, sendirian di dalam Rombong menunggu adek, bapak, mak dan kak rani pulang.
Dan hari sudah siang, saatnya adek aris pulang aku tertawa kegirangan. Ini artinya aku bisa ikutan bermain di halaman depan, melihat adek Aris dan kawan-kawan bermain.
Adek Aris masih kelas 5 SD, sangat baik dan sayang sama aku, segera adek menarik tali rapiah yang mengikat lalu menggandengku keluar dari dalam Rombong, aku tersenyum. ya memang aku selalu seperti itu, cuma itu yang ku tau. akupun duduk di tanah sambil menggambar entah apa ...
Tak berapa lama Mak pulang, dan langsung menggendongku ke arah sumur. Ya, ini saatnya aku mandi dan makan siang. Kak rini sudah pulang juga dari tadi menyiapkan makanan untuk makan siang ini. Bukan untuk mak, adek aris ataupun bapak. Tetapi sepiring kecil nasi sisa pagi tadi untuk di suapkan lagi untukku, oleh mak.
°°°
Hari sudah hampir sore bapak belum juga pulang, kata mak tadi ada tanggapan motong kayu carang tempat pak danang. Karena beberapa hari lagi mau mantu putrinya, bapak dapat kerja tambahan.
Kadang kasihan lihat bapak, tubuhnya kurus, lengan dan kakinya keriput mirip lengan dan kakiku ini, tapi tidak menyurutkan semangat bapak untuk berkerja mencari napkah, demi anaknya bisa tetap bersekolah dan makan dengan sedikit kenyang.
Akhirnya bapak pulang juga, setelah di omongin, semoga panjang umur pak ...!?, Aamiin.
Hari sudah malam, setelah makan malam, mak rebahan di sampingku, bapak masih sibuk di kandang kambing menyalakan tungku, biar gak di gigit nyamuk.itu bukan ternak bapak, tapi milik pak jumari yang memberi upah bagi hasil, untuk tabungan kalo ada kebutuhan mendesak.
Sedang adek dan kak rini masih sibuk belajar mengerjakan sesuatu, membolak balik buku.
Mak menepuk-nepuk kaki kecilku dengan lembut, sedang tangan kanannya ku jadikan sandaran untuk bantal, meringkuk manja di ketiak mak.
Sore tadi bapak dan mak cerita serius sekali, seperti kebingungan. Membahas tentang aku yang belum juga ada perkembangan, entah perkembangan apa?
Ku lihat mak sampai meneteskan air matanya, dia takut tubuhnya sudah semakin lemah, dan bapak cuma menarik napas pasrah.
Ya ,,, mak takut kalau sudah gak ada di dunia ini siapa lagi yang akan menyayangiku, merawatku dengan telaten seperti mak. Karena aku cuma perempuan cacat penyandang distabilitas yang kesehariannya hidup di dalam Rombong.
Nb : Rombong sejenis susunan bambu yang di rancang seperti kurungan persegi panjang, biasanya di teras rumah. ini sudah umum untuk penyandang cacat yang sudah mulai beranjak remaja agar tidak pergi kemana-mana sewaktu di tinggalkan.

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA


EmoticonEmoticon

Popular Post

Laman