Jumat, 23 Maret 2018

FANS TENGIL

Fans tengil

fANS TENGIL

Hari ini mood pria berambut hitam legam itu di buat berantakan,hanya karena ulah fans yang tengil nya kebangetan.
Seperti biasa sebelum berangkat bekerja pria tinggi sekitar 185 cm itu menikmati sarapan pagi, secangkir kopi yang Ibu nya suguhkan, di reguk nya nikmat. Lalu merogoh handphone di saku celana levisnya. Seraya membuka akun facebook nya, puluhan notif muncul disana. Bagaimana tidak pria bermata bulat berwarna cokelat itu seorang penulis hebat, Ide cerita yang terkesan biasa saja, di tangannya bisa menjadi tulisan yang begitu menarik dan dengan sedikit kata kata nasehat yang begitu menyentuh tapi tidak sedikitpun menggurui.
Pria bermata cokelat itu terbelalak sesaat setelah membuka salah satu notif tertulis komentar "up" di salah satu statusnya. Salah? Tentu saja. Fans tengil itu mengomentari kiriman status di tahun 2013 lalu. Berisi tentang tulisan yang tidak penting baginya terlihat sangat konyol mungkin.
Sial, rasa kopi itu tak senikmat biasanya. Pahit sedikit kecut, ini bukan kesalahan ibu yang keliru memasukan gula menjadi garam, tapi ini ulah fans tengil itu.
Pria itu mendengus kesal, di raih tas ransel nya lalu di kait kan nya di lengan kanan. Melangkah menuju motor yang terparkir di depan rumah, sengaja di panaskan sedari tadi.
"Bu, aku berangkat," teriaknya sambil menyalakan motor.
"Kopi nya gak di habiskan nak?" Teriak si ibu sambil menegok kopi yang masih tersisa setengahnya.
"Kopinya kecut," sergah pria jangkung itu sambil melesat pergi bersama motor gede nya.
Dahi ibu mengkerut sesaat setelah ia mencicipi sisa kopi yang ia buatkan untuk anaknya.
" kecut gimana ... ?" Ini terasa manis seperti biasanya.
"Ahh ... anak itu memang selalu bertingkah membingungkan," gumam nya dalam hati.
***
Setelah memarkir motor gede nya, pria dengan setelan celana levis berbalut kemeja biru langit itu terlihat tampan dari biasanya, tapi wajahnya tak secerah baju yang ia kenakan saat ini. Wajah nya terlihat kusut dengan senyum yang begitu datar.
" kusut beud muka lo ...?" Celetuk di umay bagitu petra membuka pintu kantor.
"Berisik lo ...," bentak nya tanpa dosa.
" kenapa lagi, soal cewek," tanya umay tanpa basa basi.
"Kaga," jawab si Petra singkat, sambil di simpan ranselnya diatas meja lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi kerja.
"Lah terus ...?Gue tau soal fans lo 'kan? bertingkah apalagi mereka. Inbox in lo, komentar nyinyir di tulisan lo?" Umay nyerocos tanpa jeda.
"Ini lebih," jawab pria itu singkat.
Umay melirik dengan wajah penasaran sedangkan tangan nya sibuk mengetik di tombol keyboard.
"Maksud lo"?
"Dia bisa-bisanya stalking in facebook gue beberapa tahun lalu, trus pake acara komen segala.
otomatis status itu bisa up lagi gegara dia komentar. Lo kan tau apa yang terjadi sama facebook gue beberapa tahun lalu, pasti banyak orang baca plus komen disana."
"Akun cewek"?
"Kek nya gitu."
"Lah fans mah emang gitu, apalagi cewek maklumin aje." Jawab Umay cekikikan.
"Pans pens, pans pens. Apaan sih, geli beud. Lagian fans tengil kek gitu masa iya di maklumin," gerutu petra kesal.
"Gue nulis karena emang hoby, mereka suka atau enggak itu bukan urusan gue."
Pria berambut hitam klimis itu merogoh saku nya, di sentuhnya layar handpone.
Dia sibuk mengetik sesuatu disana.
[Gak usah stalk kejauhan, lu kan gak tau kejadiannya kenapa gue nulis status itu]
Pesannya dikirim melalui messenger tertuju pada fans tengil tadi.
"Oke lah fokus kerja sekarang," Ucap nya sembari mengusap wajah nya hingga kebagian belakang rambutnya."
***
Di seberang sana gadis yang sedang duduk manis di sofa itu, melompat senang hanya karena satu pesan masuk dari seseorang yang di idolai nya.
Tapi berubah masam setelah tahu pesan yang di terima bukan pesan manis melainkan bentuk teguran atas tingkah nya semalam yang keterlaluan.
Bagai petir di siang bolong niat nya untuk iseng belaka tak di sambut baik oleh Petra. Gadis itu menggigit kuku jarinya , cemas. Bagaimana bisa dia membuat idolanya tersinggung dan marah atas kelakuan iseng nya semalam.
Petra memang tidak seserius itu, yang di ketahui gadis itu Petra senang bercanda bahkan sesekali menulis bertema lawakan yang membuat pembaca nya tertawa geli termasuk gadis itu.
Gadis itu sibuk mengetuk keyboard yang ada di layar. Menulis alasan apa yang harus katakan, mencari kata kata yang tepat agar idolanya mengerti apa sebenarnya terjadi, berharap petra mau memberinya maaf.
Ting ... ting ... ting ...
"Ah elah ... berisik beud, bales dulu lah," gerutu Umay sibuk mengetik laporan yang di perintahkan Bos nya.
"Bentar, nanggung kerjaan dikit lagi, Paling notif di facebook," Jawab Petra cuek.
Ting ... ting ... ting ...
Layar nya kembali bergetar.
"Balas dulu lah sayang," pinta Umay dengan wajah kesal.
"Njir ... alay lu," Petra bergidik geli.
Di sentuh layar handphone nya notif tadi ternyata penuh dengan puluhan pesan yang dikirim gadis itu.
isi nya tak semua petra baca hanya bagian terakhir nya Tertulis 'maaf bang sudah keterlaluan ,jangan marah pliss'. Gadis itu mengiba.
"Arrgh ... ini cewek!"
"Kenapa? Cewek tadi ...? Dia minta maaf? Tanya Umay lagi.
Petra hanya diam.
"Lo balas?"
"Kaga."
"kasian."
"Lah cewek rese kek gitu di kasianin, cewek aja lo bela. Lah ... gue yang jelas-jelas korban malah Lu cuekin, temen macam apa lo," sergah Perta berdecak kesal.
"Eh ... Pet dengerin gue, disadari atau enggak, lo lagi ada di atas sekarang. Ada banyak orang yang mengagumi lo karena tulisan lo yang perfect termasuk gadis itu. Ada banyak yang berkomentar nyinyir tapi itu bikin lo bangkit, ada banyak pujian kalo lo gak hati-hati lo akan terlena."
"Termasuk gadis itu dia suka banget sama lo, dia rela stalking cari info tentang masa lalu lo, cuma buat nyari tau kenapa lo bisa sesukses ini.Mungkin dia pengen belajar hidup dari lo.Cuma ya, caranya dia kurang etis."
"Nilai plus buat lo, lo bisa menilai secara langsung tipe orang dari cara mereka berkomentar tanpa mereka sadari. Bagus nya lagi lo bisa dapet karakter yang bisa di jadian tokoh di tulisan lo selanjutnya. Udahlah ... positif thinking aje,"tambah Umay lagi.
"Cara bicara lo lama lama mirip nyokap gue kalo lagi ngomel," ledek petra .
"Sialan lo."
"But, tengkyu lah."
Petra mengambil handphone nya berniat membalas pesan gadis itu.
[Gue gak marah]
[Serius bang? Abang gak boong kan, pliss maafiin]
[Iya,gue maafin.]
[Makasih bang,aku janji gak akan ngulangin. Jadi, Aku boleh mengagumi mu lagi dan lagi?]
[ Gak usah kagum kita temenan aja. Itu lebih bisa menerima kita apa adanya]
[ Oke bang, kita sepakat temenan. Temen rasa abang yak ... ]
[Oke ... ]
"Udah kelar," celetuk Petra.
"Gitu dong, itu baru idola idaman," balas Umay sambil tertawa terbahak, dengkul nya menyikut lengan Petra .
Petra menyunggingkan senyum yang jarang Ia tunjukan.
***
Di lain tempat gadis itu benar benar di buat kagum, Petra adalah penyemangat hidup baginya. Sosok idola yang unik , tak haus puji juga ketenaran.
Dan satu hal yang ia pelajari bahwa sehebat apapun idolanya, cara mengagumi yang paling benar adalah menjaga privasi dan mendukung keputusan dalam hal apapun yang di ambil oleh idolanya termasuk menyembunyikan jati diri di balik bait bait mengagumkan yang di tulisnya

Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA


EmoticonEmoticon

Popular Post

Laman