CAHAYA
Dihina, dimaki, direndahkan. Tapi saat semakin banyak yang mengikuti langkahku yang tanpa beban, tawa meremehkan itu berubah menjadi kebencian.
Itu awal mulanya.
Bertumbuh menjadi kerlip cahaya, sekilas membawa musim yang sempurna, tanpa cela. Hingga membuat mereka yang tadinya merendahkan, mulai merasa tak nyaman. Takut terabaikan. Hanya saja apa yang bisa mereka lakukan? Bukankah tidak ada yang ingin terlihat sebagai tersangka dalam kerumunan masa?
Aku pernah ditusuk, didorong, lalu terhempas keras setelah sebelumnya disayat-sayat. Tapi hanya dalam hitungan detik, cahayanya berpendar semakin terang. Lalu mulai menjalani waktu bagai tak pernah mengalami siksaan.
Bukankah hal yang menyakitkan melihat kemenangan terukir di wajah seseorang yang berusaha kau jatuhkan?
Sial, sial! Kutuk mereka, mengerang.
Sementara aku, dengan langkah melamban tetap berusaha berjalan. Tetap bercahaya, bahkan kemudian terang benderang.
Adakah yang berhenti saat hati meminta untuk terpuaskan? Tidak. Jika kau tak bisa melakukan jalan lurus, maka lakukan jalan memutar. Jika kau tak bisa menyakiti seseorang sebagai lawan, maka peluklah sebagai kawan, maka luka dari pisaumu akan menancap semakin dalam.
Hanya saja, setiap orang memang ditakdirkan punya satu kelemahan. Takdir terjatuh setelah mengenal kekasih yang salah. Kekasih yang dengan mudah mempercayai kata iblis yang ingin memecah.
Dihembuskanlah bau menyengat itu. Bau anyir yang seolah menyeruak dari tubuhku. Sang kekasih, menyerukan permintaan tolong dengan tubuh menggeliat hebat. Seolah aku yang membuatnya tengah sekarat.
Mereka bilang, hitunglah sahabatmu saat kau sedang terjatuh. Bukan saat kau sedang berada di puncak. Dalam perih yang menyayat, aku mengamati mereka satu persatu. Mereka tampak terpecah di tiga kubu.
Yang sebelah kiri itu, menghujat tanpa batas waktu. Menertawakan, mencemooh, merendahkan, dan menyeret yang lain untuk berpikir sama tentangku.
Yang di kanan itu, membela. Menyatakan rasa tidak percaya atas berita tentang anyir yang menerpa. Mereka tetap menungguku di tempat yang sama.
Sementara yang di tengah, seperti terengah. Kadang menoleh ke kanan, kadang ke kiri. Sesaat percaya tentang hujatan. Marah. Lalu kembali berpikir secara logika. Hanya saja, mereka diam tanpa kata.
Lalu aku menghilang di balik pekat malam. Dimana dari sini masih terdengar tawa riang bagi mereka yang merasa telah menggenggam kemenangan. Berhasil, sorak mereka! Lalu terlihat meriah kembang api khas pesta pora di langit-langit di atas kepala.
Aku beringsut menjauh. Melihat di atas jernih air telaga sinar bulan memantul, lalu bayangan diri. Astaga! Ada yang berbeda.
Sinar yang menyelimuti kini perlahan meredup, lalu mulai padam.
Mereka merayakan pesta di kegelapan sana. Mengetahui aku sedang berkaca menatap hati yang menganga. Merasa bahagia akhirnya bisa memberi luka begitu hebatnya. Memadamkan cahaya yang sempat menyilaukan netra.
Malam berlalu menciptakan gigil. Aku mendekap diri. Berada di kegelapan sini, membuatku sejenak terlupa. Cahaya terang yang pernah menyelimuti telah mereda.
Aku melangkah kembali. Selangkah terhenti melihat ada satu tubuh dipaksa bercahaya mengganti sosok yang telah pergi. Dia mundur dan menggelengkan kepala, tapi terlihat menikmati.
Sementara aku di sini, menyulut sebatang korek api. Biar cahayaku sebatas ini. Tidak terlalu menyakiti, dan aku tak merasa kedinginan lagi.
Kadang kita tak perlu bersinar begitu terang jika ingin ketenangan. Karena tidak semua netra menyukai cahaya.
Itu sebabnya mereka berusaha mati-matian memadamkannya
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon