Menantu Satu Merek
"Jam dua belas. Mengapa, Bang?"
"Tadi Bang Amur menelpon, katanya kita diundang makan siang ke rumahnya, ngasih makan Pinem."
"Oke. Jemput ya?"
"Oke."
Ngasih makan atau dalam bahasa Karo mbereken man adalah makan bersama keluarga besar untuk merayakan kesehatan orang yang telah tua. Jadi hari ini adalah acara mbere man Pinem, yaitu ibu kandung Bang Amur, sepupu suamiku. Pinem ini adalah kakak kandung ibu suamiku, mertuaku. Dipanggil Pinem karena marga yang dibawanya adalah Pinem. Perempuan tua yang telah menjadi nenek dalam Suku Karo dipanggil sesuai dengan berunya (beru untuk perempuan, marga untuk laki-laki-red).
"Mamak Lena itu agak lain kutengok ya kan?" kakak iparku memulai percakapan, saat kami sudah di mobil menuju rumah Bang Amur.
Entah mengapalah kakak ini ikut menjemputku. Jadi banyak lah ceritanya ini. "mejibang," kataku dalam hati.
"Kasar kali dia kalok bercakap sama Pinem itu." katanya lagi.
"Kasar bagaimana, Kak?" tanya suami heran, "tapi kan menantu pilihan Pinem itu, Kak. Satu merek. Sama-sama Pinem." sambung si Abang senyum-senyum.
"Itulah, untung gak jadilah kau sama dia. Mati berdiri kami kalau jadi kau dulu samamya." mulai ketus suara si kakak ini.
"Padahal kakak Mamak Lena itu cantik ya kan, putih, langsing, rambutnya dicat merah." aku menyela sambil senyum-senyum, "Laah... akhirnya Abang malah dapat adek yang montok." lanjutku.
"Montok itu lebih mantap, Dek, gak perlu pakai tilam yang tebal-tebal kali." terbahak dia saat berbicara. Aku ikutan terbahak sambil membayangkan kasur kami yang super tebal. Bohong aja pakai tilam gak perlu tebal, punggangku sakit.
Sesudah acara makan siang. Anggota keluarga masih duduk-duduk di ruang tamu. Sementara, Pinem sudah duduk santai sambil bercerita ditemani adik-adiknya. Sebagai anak tertua umur Pinem termasuk panjang juga karena dua adiknya sudah pergi terlebih dahulu, mertuaku sebagai anak kedua, dan adik ketiganya.
"Pinem, mana uang-uang yang kemarin dikasih tamu-tamu yang datang?!" terdengar keras suara Mamak Lena tiba-tiba.
Aku yang sedang berada di ruang tengah tertegun mendengar suara keras tiba-tiba itu. Bahkan seisi rumah, tetamu yang masih di rumah, bercerita pun, terdiam seketika.
"Bagus kam simpan uang-uang itu. Berceceran pula nanti. Udah makin pikun Pinem kutengok. Habis pulak nanti uangndu itu." kembali terdengar suara Mamak Lena.
Adalah wajar di sini jika tetamu datang mengunjungi orang yang sakit, pulangnya menyalamkan uang. Namun, alangkah baiknya kalau Mamak Lena bertanya lembut kepada mertuanya, orang tua renta yang semua hartanya bahkan sudah berpindah tangan ke anak laki-laki satu-satunya, Bapak Lena. Juga akan sangat menyenangkan melihatnya apabila menantunya yang cantik itu bertanya nanti setelah para tamu pulang.
Tiba-tiba ada air mata jatuh di sudut mataku, dan di sudut hati berkata, semoga nanti kalau sudah serenta itu, aku tetap mendengar kalimat-kalimat lembut.
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon