Cinta itu tumbuh karena terbiasa
Tapi sakit rasanya saat menyadari bahwa dia yang berhasil mencuri hatimu, telah menyimpan oranglain di hatinya. Andai aku dapat mengusirnya dengan cara adu tinju, maka akan aku lakukan saat itu juga. Andai aku dapat mengusirnya dengan uang, akan kubayar berapapun ia minta. Namun nyatanya aku sendiri terlalu takut untuk menyentuh hati Araselly.
Pagi ini selesai mandi, kutatap pantulan diriku di depan cermin. Masih dengan telanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Ku amati tubuhku dan wajahku sendiri.
"Masih sama. Kamu masih terlihat sexi..." ucapku pada diri sendiri, sambil berkacak pinggang.
Lalu kudekatkan wajahku pada cermin, tersenyum sambil mengamati seluruh wajah.
"Juga masih terlihat sangat tampan bukan?" tanyaku pada diri sendiri sambil mengangkat alis kiriku.
Puas dengan memuji diri sendiri, kubuka lemari pakaianku.
"Tapi, bagaimana kalau aku keluar menemui Ara dengan hanya mengenakan celana pendek?" pikirku. Aku tersenyum geli sendiri membayangkan reaksi Ara nantinya.
Akhirnya kuputuskan untuk tidak mengenakan pakaian lebih dulu. Keluar untuk sarapan, dengan hanya mengenakan celana pendek. Sengaja untuk menggodanya. Hanya ingin tau bagaimana reaksi Ara ketika melihatku bertelanjang dada, dengan rambut yang masih basah.
Sebenarnya aku sendiri malu, karena biasanya di depan Ara aku selalu berpakaian rapi. Tapi untuk kali ini, aku tidak peduli. Aku harus mulai untuk mengambil hati Ara. Mulai untuk mengeluarkan pesonaku. Jika para wanita di luar sana saja banyak yang tergoda oleh pesonaku, aku juga harus bisa membuat Ara terpesona olehku.
"Selamat pagi..." sapaku saat aku sudah berada di sampingnya yang sedang membuat teh.
Ara menoleh, menatapku dari bawah sampai atas, mulutnya sedikit terbuka. Aku mengeluarkan senyumanku semanis mungkin.
Tapi Ara langsung memalingkan pandangannya, kembali menatap teh di depannya. Dahiku sedikit mengernyit.
"Kamu kok nggak pakai baju?" tanya Ara. Suaranya terdengar gugub.
"Gerah..." jawabku asal.
Ara langsung menatap jendela di dapur, "Tapi diluar berembun, subuh tadi hujan deras," kata Ara yang terkesan bingung denganku, karena cuaca sedang dingin.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Salah memberi alasan.
"Ehhmm aku memang begini, kalau setelah hujan deras aku justru merasa gerah...."
Ara diam, membawa teh hangat itu ke meja makan. Aku mengikutinya.
"Nanti kamu masuk angin. Lebih baik sekarang pakai baju dulu baru makan. Seperti biasanya," saran Ara tanpa menoleh menatapku.
Bukannya pergi ke kamar untuk memakai baju, aku justru langsung duduk di kursi.
"Aku sudah lapar. Nanti saja pakai bajunya," Ku ambil piring lalu kusodorkan pada Ara, "Boleh minta tolong sendokkan nasinya?"
Ara mengambil piring lalu menyendokkan nasi untukku. Yang membuatku heran, dia sedikitpun tidak menatapku. Matanya selalu menatap kelain tempat atau menunduk. Aneh! Apa dia sedikitpun tidak tertarik pada tubuhku.
"Kamu semalam bisa tidur?" tanyaku setelah Ara ikut duduk untuk sarapan.
"Lumayan..." jawabnya singkat masih tetap tidak mau menatapku.
"Nggak nangis lagi kan?" tanyaku lagi.
Ara menggeleng. Aku mendesah kesal, memutar bola mataku.
"Ara kamu kenapa nggak mau ngelihatin aku sih?" tanyaku dengan nada sedikit kesal.
"Kamu aneh pagi ini..." ujarnya kemudian.
Mataku membulat, mulutku terbuka, "Aneh? Apanya yang aneh?!" tanyaku heran.
"Kenapa nggak mau pake baju?"
"Kamu nggak suka ngelihat aku begini? Apa tubuhku terlihat aneh? Atau sama sekali nggak menarik? Atau..."
"Aku hanya nggak terbiasa melihatmu seperti itu?" sahut Ara cepat memotong ucapanku.
"Ayolah Ara..." desahku, "Aku cuma nggak pakai baju kamu sudah kelihatan takut. Gimana kalau aku nggak pakai celana?"
Matanya langsung membulat menatapku. Kemudian menunduk lagi. Aku mendesah kesal melihatnya.
"Tuh kan nunduk lagi... Kalau kamu nunduk lagi, aku cium beneran nih...."
Ara terperanjat mendengar kata-kataku, matanya yang bening membulat menatapku, mulutnya sedikit terbuka. Wajahnya benar-benar terlihay lucu saat terkejut dan tegang seperti itu.
Aku tertawa terbahak melihatnya. "Ya Tuhannn..." aku mengacak-acak rambutku sendiri. Kusadari betapa polosnya Istriku ini.
Aku mencondongkan badanku, mendekatkan wajahku. Ara sedikit menarik tubuhnya menjauh, sangat terlihat jelas bahwa dia gugub. Aku tersenyum miring.
"Kamu ngapain sih?" protes Ara dengan tatapannya mengarah kelain tempat.
"Kamu aneh..." kataku masih dengan menatapnya begitu dalam.
"Aneh apa?"
"Masa lihat badan keker gini takut?
"Siapa yang takut? Aku cuma nggak biasa aja. Lagian kamu aneh, dingin kayak gini malah nggak pake baju. Aneh..." cibirnya.
Aku mengerutkan kening, "Kamu tahu, di luar sana banyak wanita yang ingin melihat tubuhku. Tapi kamu malah bilang aneh?!"
Alis Ara menyatu, matanya menatapku tajam, "Ya sudah kamu perlihatkan saja sama mereka..."
"Kamu serius?"
Ara diam.
"Kamu rela?"
"Terserah kamu...."
Aku menyipitkan mata, "Sama sekali nggak peduli denganku?"
"Ya kamu sendiri yang bilang... Di luar sana banyak yang ingin melihat tubuhmu? Ya terserah kamu kalau...."
"Kalau kamu?" aku memotong ucapan Ara.
"Nggak..."
"Nggak apa?"
"Nggak tertarik!"
Apa! Tidak tertarik?! Mataku membulat tak percaya. Kutarik tubuhku kembali, duduk seperti semula.
"Ohh jadi begitu. Kamu lebih tertarik dengan lelaki itu!" ketusku sambil menyuapkan nasi kemulut dengan malas.
"Siapa? Maksud kamu Mas Alief?"
"Apa bagusnya dia sih? Badan kerempeng gitu. Tampang juga biasa aja...."
"Kamu kenapa malah ngehina Mas Alief?"
"Kenapa?" Aku menatap Ara kesal, "Kamu kayaknya nggak terima?"
"Aku nggak suka kamu ngehina orang seperti itu!"
Aku diam.
"Meski Mas Alief nggak memiliki fisik setampan kamu, tapi Mas Alief orang yang baik. Mas alief itu...."
"Kenapa harus Mas sih?" sahutku langsung. Entah, tapi aku tidak suka mendengarnya.
"Maksudnya?"
"Kenapa harus memanggilnya dengan sebutan Mas. Kenapa nggak namanya aja?"
"Ya karena aku orang Jawa. Aku biasa memanggil dengan sebutan Mas, untuk menghargainya yang lebih dewasa dariku."
Aku menatap Ara tidak suka, "Jadi kamu nggak menghargai aku?"
Ara mengerutkan keningnya. Bingung dengan kata-kataku.
Aku mendesah kesal, "Aku tiga tahun lebih tua darimu. Tapi kamu memanggilku hanya sebutan nama, tanpa Mas. Itu artinya kamu nggak menghargai aku kan?"
Ara diam kembali menunduk.
Kutaruh sendok di atas piring yang berisi nasiku yang masih setengah. Aku berdiri, "Ya sudahlah. Aku harus kerja."
Ara mendongakkan kepalanya menatapku, "Habiskan dulu makanannya."
"Kenyang!" ketusku, lalu melangkah pergi meninggalkan Ara yang masih duduk terpaku. kurasa dia Bingung dengan sikapku.
Aku menutup pintu dengan sedikit membanting. Rasanya seperti disiram bensin lalu dibakar. Panas! Seluruh tubuh rasanya panas seperti terbakar. Cuaca dingin sama sekali tidak berpengaruh bagiku.
Percuma saja aku tebar pesona dihadapan Ara. Dia bahkan sama sekali tidak tertarik dengan tubuhku. Melirik saja tidak mau. Sebenarnya yang aneh itu aku atau Ara? Kenapa dia lebih memilih lelaki kerempeng daripada aku yang lebih kekar, lebih berotot, dengan perut rata. Bukankah aku jauh lebih tampan dari pada lelaki itu?!
Arrrrgggg!!! Kuacak-acak rambutku di depan cermin. Seperti marah pada diri sendiri.
**
Masuk kantor dalam keadaan lesu, malas, dan jengkel. Pagi ini benar-benar menyebalkan untukku. Aku berangkatpun tanpa pamit dengan Ara. Aku sengaja, agar dia tahu kalau aku sedang marah dan kecewa padanya. Jadi aku juga tidak akan menghubunginya lebih dulu hari ini. Mau tahu bagaimana sikapnya padaku saat aku diam, apa dia akan diam dan tidak peduli juga?
Aku berjalan melewati semua pegawai kantor yang menyapaku ramah, tapi aku diam tidak menanggapi. Bahkan aku marah saat ada yang tidak sengaja menabrakku saat berjalan.
"Punya mata nggak? Kalau jalan lihat-lihat!" bentakku dengan mata melotot.
"Maaf Pak maaf... Saya tidak sengaja...." Pegawai itu menunduk ketakutan.
"Maaf maaf! Aku benci kata maaf!" bentakku lagi lalu berlalu begitu saja.
Aku menarik napas panjang, sedikit merasa bersalah sebenarnya. Semua pegawai selalu menjadi sasaran emosiku saat aku ada masalah. Sebelum masuk ruangan, tiba-tiba ponselku bergetar. Aku tersenyum miring saat kulihat ada pesan whatsapp masuk, yang ternyata dari Ara. Itu artinya dia masih peduli denganku.
[Mas Reihan...Maaf....] pesan singkat dari Ara.
Kepala dan hati yang tadinya panas membara, tiba-tiba langsung sejuk seketika, seperti tersiram air es, terasa dingin dan sejuk. Aku tersenyum membacanya. Ara memanggilku dengan sebutan Mas? Terasa aneh, tapi aku suka.
Braakkk....
Aku menoleh seketika, salah satu OB terjatuh di sebelahku, nampan berisi gelas minuman ikut jatuh dan pecah berserakan. Bahkan airnya sedikit mengenai sepatu dan celanaku.
"Maaf Pak maaf...Saya terpeleset tadi. Maaf," masih dalam keadaan terduduk di lantai, OB itu sudah ketakutan melihatku.
Aku tersenyum, "Lain kali hati-hati. Cepat langsung dibersihkan, takut ada yang terpeleset juga."
"Tapi sepatu Bapak biar saya bersihkan. Sekali lagi saya minta maaf Pak...."
"Tidak perlu. Nanti saya bersihkan sendiri," ujarku ramah lalu masuk ke ruangan.
Aku bisa pastikan, di luar semua pegawai membicarakanku. Yang semenit sebelumnya marah-marah seperti kesetanan, tapi tiba-tiba sangat ramah. Aku tidak peduli itu, yang aku pedulikan sekarang adalah Araselly.
Pesannya tidak kubalas, tapi aku langsung menelpon nomernya.
"Hallo Assallamuallaikum," suara Ara dari seberang sana yang terdengar gugub.
Aku tersenyum, "Waallaikumusalam. Ada apa ya?"
"Ihhh kamu yang telepon...."
Aku tertawa, "Bisa bicara dengan gadis manis berkumis tipis, yang beberapa menit tadi mengirimiku pesan?"
"Hehe itu aku...."
"Ohh kamu ya? Tadi ngirim pesan apa?"
"Kamu sudah baca kan?"
"Iya sudah...."
"Ya sudah. Kan sudah baca...."
"Tapi aku mau dengar langsung."
"Hehe...Mas Reihan...."
Aku tersenyum, "Iya?"
"Maaf..."
"Iya..."
"Iya apa?"
"Iya aku maafin. Tapi ada syaratnya...."
"Apa?"
"Kamu sekarang senyum buat aku."
"Hehe ini juga lagi senyum kok. Tapi kan kamu nggak bisa lihat?"
"Kamu tahu nggak aku sedang apa sekarang?"
"Lagi kerja...."
"Selain itu?"
"Hemmm? Lagi telponan sama aku..."
"Selain itu?"
"Apa? Nggak tau..."
"Aku lagi ngebayangin senyuman kamu...."
"Hehe..."
Aku bisa pastikan bahwa saat ini Ara sedang tersenyum lebar.
"Ara..."
"Iya?"
"Aku mau denger lagi...."
"Denger apa?"
"Kamu sebut namaku..."
"Hehe Mas Reihan..."
Aku tertawa, "Manis..."
"Apanya?"
"Kata-kata kamu..."
"Hehe..."
"Tapi lebih manis orangnya..."
"Hehe...Sudah ya."
"Tunggu dulu..."
"Masih ada lagi?" tanya Ara.
"Aku belum laporan sama kamu."
"Laporan apa?"
"Bahasa Jawaku. Aku sudah hafal kalimat yang kamu ajarkan semalam..."
"Hahahaha....Harus laporan ya?"
"Harus dong. Kalau kalimat semalam udah lulus, kamu harus ajarin kalimat yang lain."
"Hahaha...Ya udah cepetan."
"Dengerin baik-baik ya. Kalau salah benerin."
"Iya iya..."
"Aku tresnooo...Aku tresnooo...Aku tresnooo...."
Ku dengar Ara tertawa terbahak dari seberang sana.
"Kenapa ketawa?"
"Hahaha... Kamu Reihan, bukan Tresno...."
Kini giliran aku yang tertawa.
"Kamu belum lulus!" ledeknya.
"Sebentar, akan kucoba lagi. Aku tresnooo...Ehmmm? Aku lupa."
"Hahaha masa gitu aja lupa?"
"Boleh kasih tahu sekali lagi?"
"Nggak mau."
"Kapan aku bisanya kalau kamu ngajarinnya setengah-setengah gitu?"
"Iya iya aku kasih tau sekali ini lagi. Tapi cuma sekali ini."
"Okey janji. Setelah ini aku bisa."
"Mas Reihan?"
"Iya?"
"Aku tresno kaleh sampean..."
Aku tersenyum, "Ara..."
"Iya?"
"I love you too..." ucapku sangat pelan. Tapi aku rasa Ara mendengarnya jelas, karena tiba-tiba hening.
"Ara..." panggilku.
"Iya?"
"Kamu masih disitu?"
"Hehe iya masih."
"Kamu denger aku ngomong apa tadi?"
"Iya denger."
"Jadi?"
"Jadi, sekarang Mas Reihan harus kerja."
"Hahaha siap Nyonya..."
"Nyonya?"
"Nyonya Reihan...
Kembali hening.
"Ara..."
"Iya?"
"Kamu nggak hilang kan?"
"Hahaha nggak. Mas Reihan?"
"Iya?"
"Aku tutup teleponnya ya?" Assallamuallaikum."
"Waallaikumusalam."
Sebenarnya aku belum puas, ingin terus menggoda Ara. Tapi ya sudahlah, setidaknya aku sudah berbicara cukup lama dengannya.
**
Jam makan siang. Aku keluar dari ruangan. Ada beberapa pegawai yang memesan nasi padang. Aku seperti mengenal lelaki yang mengantar nasi padang itu. Aku mendekatinya yang sedang dirubung beberapa pegawai yang memesan nasi padang.
Dan betapa terkejutnya aku saat dia menoleh.
"Kamu...." seruku.
Bisa kulihat bahwa dia juga terkejut melihatku.
"Pak Reihan kenal dengan Mas Alief?" tanya salah satu pegawai.
Aku mengangguk.
"Alief...Bisa kita bicara sebentar?" kataku pada lelaki dihadapanku.
Baca juga cerpen lainnya di Blog ini disini: BACAKAN AKU CERITA

EmoticonEmoticon